3 Karakter Sufi, Imam Junaid dan Ajaran Tasawufnya

Di dunia Islam dikenal banyak pakar disiplin keilmuan, ada yang ahli fikih yang pakar dalam urusan hukum-hukum seputar permasalahan ibadah, muamalah dan lainnya. Ada juga yang ahli dibidang akidah (teolog) atau disebut al-Mutakkalimin yang pakar dalam urusan keyakinan, keimanan tentang sifat Tuhan, kenabian, maupun hari akhir. Ada juga yang pakar dalam bidang akhlak yang sering dikaitkan dengan ilmu Tasawuf.

Untuk mendapatkan keuntungan di dunia dan akhirat, manusia harus mempunyai keyakinan yang benar akan adannya Allah sebagai Tuhan semesta alam yang tak sama dengan makhluknya. Setelah keyakinannya kuat, ia harus menjalankan perintah-Nya sesuai yang telah diajarkan oleh Nabi-Nya. Dan akan lebih sempurna bila selalu dihiasi dengan akhlak yang baik dalam segala lini kehidupan.

Dalam kitab Mausu’ah al-Kisanjan karya Muhammad bin Abdil al-Karim al-Kisanjan al-Husaini, ia mengutip perkataan Sahal bin Abdullah at-Tusturi menjelaskan bahwa ada tiga hal yang menjadi karakter orang sufi, diantaranya:

Baca juga:

Pertama, Menjaga rahasia. Ia tak mudah menceritakan apa yang ia rasakan kepada orang lain yang tak berhak menerima, karena kebanyakan rahasia seseorang terkuak gara-gara ia bercerita ke orang lain, yang akhirnya menyebar ke publik.

Kedua, selalu menunaikan segala kewajibannya baik yang berhubungan dengan Allah maupun kewajiban dengan sesama manusia. Ini menunjukkan bahwa pemahaman Agamanya mendalam, karena ia megedepankan kewajiban, bukan sebaliknya mengejar ibadah yang sunnah tapi meninggalkan yang wajib. Hal ini seperti petuah lebih besar pasak daripada tiang.

Ketiga, menjaga diri untuk tidak meminta kepada orang lain, kekurangannya selalu ia tutupi. Ini bertujuan agar harga dirinya tak jatuh dihadapan Allah maupun dihadapan manusia.

Imam Junaid dan Ajaran Tasawufnya

Salah satu ulama’ yang terkenal dalam bidang ilmu tasawuf adalah imam Junaid. Ia dilahirkan di Irak pada tahun 220 H dan meninggal pada tahun 297 H. Orangtuanya bekerja sebagai penjual kaca.

Menurut Imam Qusyairi dalam risalahnya menjelaskan bahwa imam Junaid seorang ahli fikih yang mengikuti madzhab imam Abi as-Tsaur dan sudah memberi fatwa dalam usia 20 tahun. Diantara guru-gurunya adalah as-Sirri as-Siqti (160 -251 H), al-Haris al-Muhasibi (170 – 243 H).

Suatu ketika Imam Junaid ditanya tentang tasawuf. Kemudian, Ia menjelaskan bahwa isi kandungan dari tasawuf ada 10 hal.

Pertama, Tak tergila atau terlena akan gemerlapan dunia.

Kedua, Meyakinkan hati untuk selalu berpegang teguh kepada Allah dengan tenang.

Ketiga, senang melakukan ketaatan saat masih diberikan kesehatan.

Keempat, Sabar ketika sedang mengalami krisis ekonomi dengan tidak meminta atau mengeluh kepada orang lain.

Kelima, Memiliki kehati-hatian dalam mengambil sesuatu tindakan.

Baca juga:

Keenam, Selalu menyibukkan diri kepada Allah daripada kegiatan lain.

Ketujuh, Berdzikir secara sirr (rahasia) dibandingkan dzikir yang lain.


Kedelapan, mewujudkan keikhlasan saat waswas mulai menjangkiti diri.

Kesembilan, Memiliki keyakinan saat keraguan mulai menghampiri diri.

Kesepuluh, Merasakan ketenangan bersama Allah serta dijauhkan dari hal-hal yang menggelisahkan hati.

Bila dalam diri seseorang belum ada hal-hal diatas dan mengaku ahli tasawuf maka kredibilitas dirinya akan dipertanyakan.

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Seorang penggiat literasi dan penikmat kopi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.