Apa Tantangan Millenial Belajar Islam?


Ketika penulis menjadi narasumber seminar online yang diadakan oleh salah satu lembaga, ada pertanyaan menukik meskipun sebenarnya biasa saja. Yaitu apa tantangan millenial saat belajar Islam? Hemat penulis walaupun itu soal sederhana tetapi jika diurai, ada beberapa permasalahan serius yang bisa berakibat “gawat darurat.”

Millenial yang saat ini konon berjumlah empat puluh persen dari penduduk Indonesia di satu sisi menjadi tantangan serius khususnya dalam problematika memahami Islam. Kenapa? Karena jika tidak digarap dengan baik justru Indonesia akan kebanjiran manusia yang gagal faham tentang Islam.

Pengaruh utama karena derasnya arus informasi tentang Islam yang menjadi faktor millenial lebih dominan dengan pembelajaran Islam yang dinilai lebih “ciamik” dan fashionable. Hal ini didorong kesadaran para pendakwah yang menjadikan pangsa pasar anak-anak muda selalu menekankan pada perangkat budaya-budaya populer. Seperti yang dikutip Ibtisam, dakwah di kalangan anak muda pada mulanya menggunakan majalah (Hasan 2009), Novel (Kailani 2012), televisi satelit (Moll 2012), musik (Nasir 2016).

Medium demikian itu digunakan untuk menarik anak-anak muda dari tempat mainnya menuju belajar Islam yang tren disebut hijrah. Lalu kenapa hijrah menjadi kian menakutkan? Alasannya karena ideologi agama yang dipelajari cenderung kaku. Ini wajar saja terjadi karena para pengajar yang mayoritas merajai dunia anak-anak muda itu adalah mereka yang tidak belajar Islam secara kaffah, seperti belajar di Pesantren (Hasan 2009).

Dalam fenomena yang serupa juga tidak bisa dilupakan adanya gerakan Tarbiyah yang sudah terjadi dua puluh tahun lalu, yang hasilnya bisa kita lihat hingga saat ini. Khususnya orang-orang kota yang semakin terislamkan dengan simbol-simbol yang dianggap mencerminkan kesalihan dalam beragama. Ini juga menjadi sebab para millenial lebih condong belajar dengan narasumber yang sesuai dengan selera orangtua mereka.
Era sekarang, melihat sikap beragama orang-orang kota seharusnya bisa menjadi semacam “daur ulang” dari Islam yang semula memiliki jiwa kosmopolitan. Hodgson (2009) mencatat, jika Islam mampu menempati posisinya pada masa keemasan tidak lepas dari pemikirannya yang maju dan kosmopolit. Di Indonesia juga demikian. Dalam sejarahnya, Islam yang identik sebagai agama orang-orang pesisir yang saat itu menjadi pusat perkotaan, juga tidak lepas dari pemikirannya yang maju. Banyak sekali penelitian tentang ini.

Fakta-fakta tersebut seharusnya menjadi pijakan millenial saat belajar Islam, agar tidak merasa puas dengan informasi tentang Islam yang didapatkan. Atau cenderung terkungkung dalam kegagapan memahami pelajaran tentang Islam. Karena prinsip dasar Islam adalah mengajak umatnya untuk terus melakukan inovasi, kreatifitas dan berkemajuan, yang bisa memadukan antara pemikiran Barat dan Timur lalu lahir suatu pemahaman yang relevan, keindonesiaan (Burhani 2015).

Meskipun demikian, tren berislam di Indonesia ini juga cukup unik jika dibandingkan dengan munculnya semarak berislam di Iran Pasca-reformasi, misalnya. Dale Eickelman dan James Piscatori mencatat, jika pada saat itu muncul kesadaran di kalangan umat Islam akan agamanya sebagai system hidup yang objektif yang senyatanya sedang dihadapi. Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan kritis tentang itu. Misalnya, mereka bertanya, “Apakah artinya Islam bagi kehidupan muslim?” Bagaimana Islam memandu kehidupan muslim?” dan seterusnya. Namun di Indonesia model seperti ini seakan bungkam di tengah menyeruaknya kesadaran masyarakat terhadap Islam.

Saklek

Fenomena pemahaman Islam yang “saklek” juga bukanlah hal baru. Dulu, para santri di pesantren tempat saya belajar juga banyak yang memiliki pemahaman Islam yang seperti demikian. Namun apakah mereka radikal? Sebenarnya saya tidak sepakat dengan istilah “radikal” untuk menyebutnya seperti yang dituduhkan Barton terhadap NU saat itu. Namun jika harus disebut sebagai pemahaman yang kolot barangkali bisa jadi benar. Penyebabnya, belajar di pesantren memang saatnya digodok dalam satu bejana pemikiran. Sehingga para santri hanya bisa menyerap satu alur informasi tentang Islam dari kiai dan ustadz pesantren.

Lalu apakah demikian itu menjadi pangkal radikalisme? Ternyata tidak. Fakta-fakta yang yang bisa kita lihat, minim sekali terjadi radikalisme dari para alumni pesantren. Hal ini didorong karena faktor pembacaan tentang Islam terus dilakukan secara berulang atau reinterpretasi terhadap teks-teks keagamaan. Kemudian dilakukan upaya-upaya mencari relevansi terhadap kasus yang sedang dihadapi.

Gus Dur dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Penafsiran Kembali Ajaran Agama: Dua Kasus Dari Jombang” menampik jika terjadi pemahaman yang saklek dari para kiai pesantren. Para kiai dinilai telah memberikan sumbangan pemikiran brilian yang disebarkan oleh para santri ketika lulus dari pesantren, dengan modal pemahaman agama yang kuat.

Lain lagi jika pemahaman agamanya cekak. Karena belajar agamanya hanya mengikuti tren kemudian dengan percaya diri beranggapan jika pemahaman agama yang didapat sudah paling benar. Ini yang tidak dikehendaki dalam Islam.


Khoirul Anwar Afa

Khoirul Anwar Afa

Penulis adalah Dosen Fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.