Ayo Mondok, Tapi Jangan Salah Pilih: Catatan Akhir Webinar

“Ayo Mondok, Tapi Jangan Salah Pilih” adalah tema yang dipilih Islamina pada webinar kali ini. Tema ini menyiratkan dua hal sekaligus: Perintah sekaligus Larangan (al-amru wannahyu, dalam Bahasa Ushul Fiqh). Ajakannya jelas, “ayo mondok” karena pondok pesantren tak sekedar menyuapi santri dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga membekali dengan perangkat kompetensi dan keterampilan. Dan yang terpenting, pesantren selalu memberikan keteladanan.

Bagi perempuan yang hendak menjadi ulama, maka pondok pesantren perlu menjadi opsi utama. Bu Nyai Hindun ( Hindun Anisah) sudah menegaskan bahwa ulama tak dapat dimonopoli oleh satu jenis kelamin laki-laki. Karena ukuran ulama itu ilmu pengetahuan dan ketakutannya kepada Allah. Betul bahwa Pesantren memisahkan laki-laki dan perempuan. Bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda. Tapi pesantren tak membedakannya apalagi mendiskriminasi. Karena keduanya sama-sama mendapatkan hak belajar yang sama.

Bagi anda yang ingin menjadi penulis handal, Khilma Anis (Khilma Anis) telah menyuguhkan kekayaan khazanah dan tradisi pesantren yang dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Khilma Anis bukan sekedar mengajak menulis, tapi juga telah meneladankan. Dari tangannya, telah lahir sejumlah karya novel. Yang tak sekedar membuka wawasan tentang tradisi pesantren dan pewayangan, tetapi juga kerapkali mengoyak hati, membawa dilema antara memilih Suhita ataukah Rengganis.

Peringatan

Akan tetapi, sebagaimana tema webinar ini, “Ayo Mondok, tapi Jangan Salah Pilih”, Mas Savic (Savic Ali) telah memberikan peringatan hadirnya sejumlah pesantren baru yang tidak senafas dengan Keindonesiaan. Ini tentu berbeda dengan pesantren-pesantren yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama, misalnya, yang memiliki semangat Keindonesiaan yang sangat kuat.

Namun tak cukup hanya semangat keindonesiaan, demikian Mas Savic mengingatkan. Karena pesantren perlu merespon sejumlah tantangan baru agar terus mampu menampilkan Islam Rahmatan Lil Alamin secara lebih mainstream, terutama di kalangan kelas Menengah. Tantangannya mulai dari aspek-aspek fisik sampai pada persoalan kompetensi penting seperti berpikir kritis, kolaborasi, literasi sebagai keterampilan penting di abad 21.

Saya ingin mengakhiri catatan akhir ini dengan mengutip kata-kata Khilma Anis “Berbuat sedikit lebih baik daripada berangan-angan untuk berbuat banyak”. Akhir kata, terima kasih kepada Bu Nyai Hindun Anisa, Mas Savic Ali dan Ning Khilma Anis. Seperti saran Mas Savic, kita perlu terus berkolaborasi dan bergandengan tangan, karena perubahan tak bisa hadir hanya dengan berpangku tangan. Dalam novel Suhita kita diajarkan untuk tak pernah lelah meraih cita-cita. Untuk meraih hati Gus Birru, Suhita tak cukup dengan mengalirkan air mata, tapi dengan beragam upaya dan doa. Salam takdzim dari saya.

Latest posts by Hatim Gazali (see all)

Hatim Gazali

Pemimpin Redaksi Islamina.id | Dosen Universitas Sampoerna | Ketua PERSADA NUSANTARA | Pengurus Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU |

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.