Cara Islam Mengatasi Toxic Relationship - islamina.id

Cara Islam Mengatasi Toxic Relationship

Posisi sebagai suami atau istri dalam sebuah keluarga, hampir tidak semuanya selalu harmonis. Pasti ada sedikit kesal atau kecewa menjalani kehidupan bersama. Beberapa dekade terakhir muncul istilah toxic relationship. Apa sebenarnya toxic relationship?

Terminologi toxic relationship merujuk dalam sebuah hubungan yang ditandai dengan sifat-sifat ‘beracun’ yang berpotensi merusak fisik maupun emosional diri sendiri atau pasangan. ‘Beracun’ dalam hal ini seperti kebalikan dari hubungan yang sehat. Apabila dalam hubungan yang sehat diperbanyak rasa kasih sayang, dan saling menerima, maka toxic relationship adalah kebalikannya.

Mengutip dari Healthline, ada beberapa ciri yang menandakan suatu hubungan sudah dalam kategori toxic relationship. Salah satunya adalah minimnya support dari salah seorang pasangan, dan diskomunikasi atau sering adu mulut.

Terlebih itu, adanya rasa ingin mendominasi hubungan, cemburu berlebihan, dan tidak jujur (berbohong atau diam) juga menjadi ciri lain yang mengindikasikan hubungan itu telah menjadi toxic relationship.

Berikut ini 3 karakter pasangan yang berpotensi menciptakan toxic relationship, dan cara Islam mengatasinya:

1. Meremehkan dan Mencela

Pasangan toxic kategori ini, memiliki tujuan kuat untuk menjaga self-esteem-nya (harga diri). Supaya pasangannya tidak menentang kontrolnya. Oleh sebab itu, ia akan suka mudah meremehkan, mencela, dan mengolok-olok pasangannya, tak terkecuali di depan umum.

Peringatan tidak boleh meremehkan maupun mencela sudah termaktub dalam Alquran Surah al-Hujurāt ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [Q.S. al-Hujurāt: 11]

Imam Al-Ghazali juga menjelaskan dalam Ihya’ ‘Ulumuddin :

السخرية الاستهانة والتحقير والتنبيه على العيوب والنقائص على وجه يضحك منه وقد يكون ذلك بالمحاكاة في الفعل والقول وقد يكون بالإشارة والإيماء

Pengertian sukhriyyah atau olok-olok adalah tindakan menghina, merendahkan, dan mengangkat aib serta kekurangan orang lain dengan jalan ‘menertawakannya.’ Hal itu dapat dilakukan dengan perbuatan atau ucapan, terkadang dengan isyarat dan petunjuk tertentu,” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Kairo, Darus Syi‘ib: t.th.], juz IX, h. 1577-1578).

Untuk itu, seharusnya tiap pasangan tidak boleh saling merendahkan dan merasa paling “pintar”. Ada baiknya saling mendukung satu sama lain.

2. Temperamen Buruk

Perilaku ini kerap kali berbahaya, lebih-lebih karena “di luar” dia akan terlihat seperti sosok yang kalem, menyenangkan, dan disukai banyak orang. Akan tetapi, di depan Anda justru sebaliknya.

Biasanya ia mudah tersulut emosi yang disebabkan masalah sepele tetapi dibesar-besarkan. Emosi pada masalah yang sama sekali tidak jelas, dan merasa menjadi yang paling menderita dalam menjalani hubungan.

Dalam riwayat hadits, Rasulullah Saw. bersabda:

وَرُوِيَ أَنْ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مُرْنِي بِعَمَلٍ وَأَقْلِلْ، قَالَ: لَا تَغْضَبْ، ثُمَّ أَعَادَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: لَا تَغْضَبْ 

Seorang laki-laki pernah meminta nasihat, ‘Wahai Rasulullah, perintahlah aku dengan sebuah perbuatan dan sedikitkanlah (jangan banyak-banyak).’ Nabi menjawab, ‘Jangan marah.’ Laki-laki tersebut mengulangi permintaannya, lalu Nabi tetap menjawab, ‘Jangan marah’.”  (H.R. al-Bukhari)

Sayyid ‘Alwi Abu Bakar Muhammad As-Saqaf dalam Al-Bayan fi Syarh al Arba’in an-Nawawi menyebutkan andai marah disandarkan kepada hak Allah, maka itu berarti berkehendak untuk menyiksa. Tetapi jika disandarkan ke manusia, maka marah (ghadab) merupakan luapan emosi dan perasaan dalam hati ketika menghadapi sesuatu yang dikesalinya.

Kemudian, ia juga memberikan dua solusi agar terhindar dari sifat temperamen buruk, pertama, dengan cara mencegah. Mencegahnya dengan ingat konsekuensi dari marah adalah kerusakan. Karenanya kita harus memiliki jiwa penyabar dan selalu menahan amarah. Kedua, dengan cara memadamkan, yakni kita harus bisa tahu diri, selalu memohon kepada Allah agar terhindar godaan setan, kemudian dilanjut dengan mandi atau berwudhu.

Perdebatan non-produktif dengan pasangan, apalagi yang punya temperamen buruk, jelas memberikan beban emosional, menyita banyak waktu, dan bahkan berisiko pada kesehatan mental.

3. Posesif

Karakteristik pasangan yang posesif cenderung cemburu-an dan membuatnya sebagai alat untuk mengatur Anda hingga ke ranah personal. Di awal hubungan, sedikit cemburu mungkin masih bisa dikompromikan. Sikap ini yang dapat menciptakan toxic relationship.

Agar terhindar dari perasaan cemburu, berikut bacaan doa yang bisa Anda amalkan:

 بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ دَاوِنِي بِدَوَائِكَ، وَاشْفِنِي بِشِفَائِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَاحْذَرْ عَنِّي أَذَاكَ

“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah obatilah aku dengan pengobatan-Mu, dan sembuhkanlah aku dengan kesembuhan-Mu. Cukupilan aku dengan karunia-Mu, jangan sampai aku meminta kepada selain-Mu, dan jauhkanlah aku dari penyakit-Mu”

Baca Juga: Cara Islam Mengatasi Rasa Insecure

Syahril Mubarok

Netflix dan Kopi Hitam

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.