Dibalik Pertemuan Paus Fransiskus dengan Ayatollah Ali al-Sistani

Pemimpin tertinggi umat Kristiani, Paus Fransiskus membangun tradisi “silaturahmi” yang hampir jarang dilakukan. Tradisi silaturahmi antar lintas pemimpin agama untuk membangun peradaban umat yang damai dan progresif.

Pada hari kedua lawatannya ke Irak, 6 Maret 2021, Paus diagendakan mengunjungi Najaf dan Ur. Melalui perjalanan ke kedua kota ini, Paus menegaskan komitmennya untuk memperkuat hubungan baik antara Gereja Katolik dengan komunitas lintas agama.

Perjalanan Paus ke Najaf menjadi satu momen yang ditunggu-tunggu khalayak luas. Pasalnya, Najaf bisa disebut sebagai salah satu kota suci bagi kalangan Syi’ah. Di kota ini terdapat makam Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat umat Islam dan sepupu—sekaligus menantu—dari Nabi Muhammad SAW. Ali diimani sebagai imam pertama bagi umat Syi’ah. Maka, makam dan Masjid Imam Ali merupakan situs yang selalu ramai diziarahi oleh para penganut Syi’ah.

Selain itu di kota ini tinggal ulama besar Islam Syi’ah, Ayatollah Ali al-Sistani. Ia adalah sosok pemimpin spiritual bagi 60% umat Islam Syi’ah di Irak. Paus secara khusus berkehendak mengunjungi Najaf demi berdialog secara langsung dengan Ayatollah al-Sistani.

Paus tiba di Bandara Internasional Najaf dengan disambut poster raksasa bergambar foto Paus Fransiskus bersanding dengan Ayatollah al-Sistani. Beserta gambar tersebut tertera tulisan, “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” Sebuah pepatah klasik populer yang disitir dari ucapan Ali bin Abi Thalib.

Baliho besar di Najaf, yang menyimbolkan pertemuan Paus Fransiskus dan Ayatollah al-Sistani dengan pertemuan “Menara dan Lonceng”. (Foto: Reuters)

Pertemuan Paus dan Ayatollah al-Sistani berlangsung secara tertutup tanpa kehadiran awak media. Meskipun begitu, Vatikan merilis sebuah potret yang menunjukkan momen saat al-Sistani menemui Paus di kediamannya yang bersahaja. Keduanya duduk berhadapan di sudut sebuah ruangan. Tampak al-Sistani berbusana serba hitam dan memakai serban dengan warna senada. Sementara itu, seperti biasa, Paus tampil khas dalam balutan jubah putih lengkap dengan zucchetto putihnya.

Dalam pertemuan itu, Ayatollah al-Sistani menegaskan perhatiannya akan nasib umat Kristiani di negeri tersebut. “Semestinya (umat Kristiani Irak) dapat hidup dalam damai dan merasa aman, seperti halnya masyarakat Irak lainnya, dengan hak konstitusional mereka seutuhnya,” ucap Ayatollah al-Sistani seperti disampaikan oleh perwakilannya seusai pertemuan sekitar 45 menit dengan Sri Paus.

Dapat dikatakan pertemuan ini melengkapi upaya dialog Paus dengan dunia muslim. Sebab Paus acap kali bersua dengan tokoh Islam Sunni dalam lawatannya ke Bangladesh, Turki, Mesir, Azerbaijan, Yordania, hingga Palestina. Terbaru, dua tahun lalu Paus bersama dengan ulama Islam Sunni, Syeikh Ahmad al-Tayeb, menandatangani Dokumen Abu Dhabi di Uni Emirat Arab.

Sebagai catatan, Ayatollah al-Sistani bukanlah tipikal pemuka agama berpengaruh yang sering tampil di depan publik. Ia juga bukan sosok yang mudah ditemui oleh para pemimpin dunia. Sehingga untuk merancang sebuah pertemuan tatap muka selama kurang dari sejam, Vatikan dan Najaf harus menjalin negosiasi secara hati-hati selama berbulan-bulan.

Dialog Lintas Iman di Ur dan Misa di Katedral Baghdad

Selepas dari Najaf, Paus melanjutkan peziarahannya ke Ur. Situs arkeologis yang berlokasi 400 km di selatan Baghdad ini sudah eksis sejak peradaban Sumeria. Reruntuhan kota kuno berusia sekitar 6.000 tahun ini diyakini oleh banyak orang sebagai tempat kelahiran Nabi Abraham, nama yang dihormati dalam semua agama Abrahamik.

Di lokasi ini, Paus melangsungkan dialog bersama dengan sejumlah pemuka agama Islam—baik Syi’ah maupun minoritas Sunni, Kristen, serta Yazidi. Pemilihan Ur sebagai lokasi dialog lintas iman, secara simbolis, makin menguatkan pesan tentang pentingnya persaudaraan antarumat beragama untuk mengatasi teror. Paus menekankan, “Permusuhan, ekstremisme, dan kekerasan tidak dilahirkan dari hati yang religius. (Justru) ketiganya adalah pengkhianatan atas (nilai-nilai) agama.”

Paus menyerukan umat beragama untuk tidak tinggal diam saat terorisme melecehkan agama. Maka, Paus mengapresiasi upaya yang telah dilakukan segenap masyarakat Irak untuk pulih dari bayang-bayang terorisme. “Saya memikirkan relawan muda Muslim di Mosul, yang turut membantu memperbaiki gereja dan biara (yang dihancurkan ISIS, red). Mereka membangun persahabatan di atas puing-puing kebencian,” puji Paus.

Paus Fransiskus mempersembahkan misa di Katedral St. Joseph di Baghdad. (Foto:Reuters)

Mengakhiri perjalanannya di hari kedua di Irak, Paus asal Argentina ini mempersembahkan misa di Gereja Mar Yousef (Gereja Katedral Santo Yusuf). Gereja ini adalah katedral bagi umat Katolik Khaldea di Baghdad. Istimewanya, kali ini Paus memimpin misa dengan menggunakan ritus timur, bukan ritus latin. Ini menjadi peristiwa pertama kalinya Paus Fransiskus memimpin perayaan misa memakai ritus timur.

Misa ini dihadiri oleh umat  dengan jumlah sangat terbatas. Penjagaan ekstra ketat diberlakukan untuk memastikan hanya orang-orang yang mendapat undangan saja yang dapat mengikuti misa. Presiden Irak Barham Salih serta Ketua Parlemen Irak Mohammed Al-Habousi dikabarkan turut hadir pula dalam misa bersejarah tersebut.

Pertemuan yang dilakukan Paus ini mengisyaratkan bahwa antar umat beragama tidak boleh saling memusuhi. Tradisi “silaturahmi” Paus ini patut kita apresiasi dan sebagai umat Islam, kita membangun harmonisasi. Tidak ada aksi teror yang mengatsnamakan agama apapun.

Baca Juga: Mencela Sesembahan Non Muslim Dilarang Agama, Ini Penjelasannya

Penulis: Ageng Yudhapratama
Editor: Basilius Triharyanto & Syahril Mubarok

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di katolikana.com

Syahril Mubarok

Netflix dan Kopi Hitam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.