Etika Beragama yang Baik Menurut Hasan Al Basri

Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad di muka bumi ini tidak lain agar manusia mendapatkan petunjuk sehingga hidupnya selalu mendapatkan Rahmat dari Allah. Allah telah mengatur rambu-rambu kehidupan kepada manusia supaya dipatuhi serta tak dilanggar.

Aturan ini bertujuan agar dirinya selalu mendapatkan kebaikan serta dihindarkan dari segala keburukan yang ia hadapi baik saat di dunia maupun di akhirat kelak. Ini sesuai dengan pernyataan Izzuddin bin Abdussalam dalam Qawaid Al Ahkam yang berpendapat bahwa tujuan syariat Islam untuk menarik kebaikan serta menolak segala kerusakan.

Setiap Sahabat Nabi Muhammad mempunyai keistimewaan tersendiri, ada yang pakar Tafsir, fikih maupun yang lain. Begitu juga Para Tabi’in (orang yang mengikuti para sahabat) mempunyai kelebihan masing-masing diantaranya adalah Hasan al-Bashri (W. 110) Memiliki keistimewaan dibandingkan Tabi’in yang lain.

Baca juga:

Ia dikenal banyak orang karena kealimannya serta nasehat-nasehatnya yang selalu menginspirasi banyak orang dalam urusan dunia, maupun akhirat. Salah satu nasehat imam Hasan Al Basri yang berkenaan tentang etika dalam beragama yang baik yaitu

مَنْ لا أَذَبَ له لا علم له، وَمَن لا صَبَرَ لَهُ لا دين له، وَمَنْ لا وَرَعَ لَهُ لا زُلْفَى لَهُ.

Artinya:
Barangsiapa yang tak memiliki Budi pekerti yang baik maka dianggap tak memiliki ilmu. Barangsiapa yang tak bersabar maka dirinya dianggap cara beragamanya belum sempurna. Dan barangsiapa tak memiliki sikap Wara’ maka tak akan mendapatkan mulia di sisi Allah.

Syeh Nawawi dalam kitab Nashoihul Ibad mengupas lebih dalam penjelasan nasehat imam Hasan Al Basri diatas

Pertama. Orang yang tak memiliki etika yang baik kepada Allah dan kepada makhluknya maka ilmu yang ia miliki ibarat tak membekas sama sekali alias tak bermanfaat. Jadi kedudukan etika, akhlak lebih diutamakan terlebih dahulu daripada ilmu.

Baca juga:

Kedua. Orang yang tak bersabar dalam menghadapi ujian kehidupan maupun musibah yang sedang ia rasakan maka bisa dikatakan agamanya belum sempurna. Alasannya adalah bahwa ajaran agama tak terlepas dari perintah untuk menjalankan kewajiban ataupun menjauhi segala yang terlarang. Maka untuk menjalankannya dibutuhkan sikap sabar.

Ketiga. Orang yang tak memiliki sikap wara’ (menjauhi hal-hal yang terlarang maupun yang belum jelas hukumnya) maka dirinya tak akan mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah dan di hadapan makhluknya.

Ketiga hal diatas merupakan etika dalam beragama juga sebagai modal penting dalam menjalankan perintah-Nya. Dengan demikian, orang yang beragama harus mengedepankan prilaku baik sebagai bukti bahwa dirinya memang benar dalam menjalankan ajaran agama.

Sedangkan menurut Imam Al Mawardi dalam kitab Adab Ad-Dunya wa-Din menjelaskan bahwa manfaat dari ibadah meliputi urusan dunia dan akhirat. Bila keduanya dapat diperoleh maka dirinya akan mendapatkan nikmat yang paling sempurna. Nikmat ini bisa didapatkan bila ia mengikuti akal sehat yang dituntun oleh ajaran agama sehingga langkahnya sesuai petunjuk yang telah digariskan oleh Allah dan Rasulnya.

Dari sini dapat dipahami bahwa dalam menjalankan ajaran agama harus mengedepankan akhlak mulia sehingga dirinya mampu memberikan manfaat kepada orang di sekitarnya.

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Seorang penggiat literasi dan penikmat kopi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.