Ghibah yang Diperbolehkan Islam

Islamina.id – Seringkali orang bertengkar cuma gara-gara masalah kecil misalnya saling ejek di media sosial (medsos) yang berimbas saling serang secara fisik, dan menjadi penyebab permusuhan antar warga, antar kelompok.

Hal seperti ini yang akan mengancam keutuhan bangsa dan negara.

Permasalahannya adalah setiap individu atau kelompok kurang dalam mengontrol diri dan lisannya sehingga menyinggung orang lain.

Jaga Lisan

Solusi yang ditawarkan adalah agar semua elemen masyarakat menjaga diri untuk tak saling serang satu dan lainnya.

Dalam hal ini Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan,

اﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻟﻜﻞ ﻣﻜﻠﻒ ﺃﻥ ﻳﺤﻔﻆ ﻟﺴﺎﻧﻪ ﻋﻦ ﺟﻤﻴﻊ اﻟﻜﻼﻡ ﺇﻻ ﻛﻼﻣﺎ ﺗﻈﻬﺮ اﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻓﻴﻪ، ﻭﻣﺘﻰ اﺳﺘﻮﻯ اﻟﻜﻼﻡ ﻭﺗﺮﻛﻪ ﻓﻲ اﻟﻤﺼﻠﺤﺔ، ﻓﺎﻟﺴﻨﺔ اﻹﻣﺴﺎﻙ ﻋﻨﻪ، ﻷﻧﻪ ﻗﺪ ﻳﻨﺠﺮ اﻟﻜﻼﻡ اﻟﻤﺒﺎﺡ ﺇﻟﻰ ﺣﺮاﻡ ﺃﻭ ﻣﻜﺮﻭﻩ، ﺑﻞ ﻫﺬا ﻛﺜﻴﺮ ﺃﻭ ﻏﺎﻟﺐ ﻓﻲ اﻟﻌﺎﺩﺓ، ﻭاﻟﺴﻼﻣﺔ ﻻ ﻳﻌﺪﻟﻬﺎ ﺷﺊ

Ketauhilah bahwa setiap orang mukallaf harus menjaga lisannya dari semua ucapan atau statmen kecuali bila ada maslahah (kebaikan) didalamnya.

Bila dirasa sama manfaatnya antara bicara atau terdiam maka yang terbaik adalah terdiam lebih utama.

Alasannya adalah kadangkala ucapan yang awalnya diperbolehkan mendatangkan hal yang diharamkan atau dimakruhkan. Ini seringkali terjadi di masyarakat.

Dalam hal ini keselematan harus diutamakan tak ada yang menandinginya.

ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ: ﺇﺫا ﺃﺭاﺩ اﻟﻜﻼﻡ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻔﻜﺮ ﻗﺒﻞ ﻛﻼﻣﻪ، ﻓﺈﻥ ﻇﻬﺮﺕ اﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﺗﻜﻠﻢ، ﻭﺇﻥ ﺷﻚ ﻟﻢ ﻳﺘﻜﻠﻢ ﺣﺘﻰ ﺗﻈﻬﺮ.

Imam Syafi’i berkata:”Ketika hendak berbicara maka berfikirlah terlebih dahulu, bila ada kebaikan di dalamnya maka berbicaralah, bila ragu-ragu maka jangan terburu-buru asal bicara sampai jelas tujuannya,”

Dari penjelasan diatas, Imam as-Syafi’I mencoba mengingatkan kepada kita untuk berhati-hati sebelum berbicara. Hal ini dikhawatirkan akan menyakitkan orang lain.

6 Kategori Ghibah yang Diperbolehkan

Ada beberapa hal yang diperbolehkan seseorang melakukan ghibah, hal ini seperti yang diungkapkan oleh Imam Al Ghozali dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin, beliau menjelaskan ada 6 faktor, yaitu:

Pertama, Menghindari kedhaliman seseorang, misalnya ia telah diperlakukan semena-mena di pengadilan, yang benar dibilang salah, salah dijadikan kebenaran, sehingga ia merasa dirugikan, bahkan merasa difitnah atas perbuatan yang ia tak melakukan. Dalam kondisi seperti ini, ia boleh menjelaskan kejelekan seseorang agar terhindar dari dari kelalimannya.

Kedua, untuk berusaha menghilangkan kemunkaran, kemaksiatan atau untuk merubah sebuah tatanan kehidupan agar lebih baik daripada sebelumnya.

Baca selengkapnya di Syahadat.id

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Seorang penggiat literasi dan penikmat kopi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.