Hakikat dan Tingkatan Takwa yang Jarang Diketahui

Kata “takwa” mudah diucapkan tetapi sulit dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga setiap Jum’at, khatib selalu berwasiat takwa kepada jama’ah.

Banyak orang yang merasa dirinya menjadi orang yang bertakwa padahal prilakunya menunjukkan orang yang tak mempunyai wibawa dihadapan Allah karena seringkali menyakiti orang lain baik dengan lisan maupun prilakunya.

Sebetulnya hakikat takwa itu apa sih?

Definisi takwa yaitu menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya. Semua ibadah ujungnya bermuara untuk meningkatkan ketakwaan, maka dari itu puasa maupun amalan lain bertujuan agar manusia menjadi orang yang bertakwa.

4 Tingkatan Takwa

Imam As-Subuki dalam Fatawanya menjelaskan tentang empat tingkatan takwa dan bila seseorang sudah mencapai tingkatan ini maka keimanannya akan menjadi sempurna terutama saat ia mengetahui hakikat dan tingkatan takwa.

Pertama, takwa dari segala hal yang menjurus kepada segala kemusyrikan karena pada prinsipnya Allah akan menerima ibadah orang yang bertakwa maksudnya menjauhi kemusyrikan baik syirik besar ataupun kecil seperti beribadah untuk mendapatkan pujian atau jabatan sesaat.

Kedua, takwa dari dosa-dosa besar misalnya menyembah kepada selain Allah atau menyamakan Allah dengan ciptaannya.

Ketiga, takwa dari segala dosa-dosa kecil misalnya berbuat kemaksiatan dengan anggota badan misalnya menjelekkan-jelekan orang lain.

Keempat, takwa dari hal yang shubhat (belum jelas status hukumnya) misalnya mengambil makanan yang terjatuh di jalan yang belum jelas pemiliknya.

Dari penjelasan ini seseorang yang ingin mendapatkan kedudukan yang tinggi dihadapan Allah harus melalui keempat tingkatan ini terutama dari hal yang paling mudah dan ia mampu mengerjakannya.

Pada prinsipnya Allah tak akan memberikan beban kepada hambanya kecuali sekedar kemampuan dirinya sendiri.

Pengertian Baju Takwa yang Jarang Dipahami

Salah satu bentuk tradisi Arab Jahiliyah adalah mereka tawaf mengelilingi Ka’bah dalam keadaan telanjang, laki-laki tawafnya di siang hari dan perempuan dimalam hari.

Hal ini dilakukuan karena mereka menganggap bahwa dirinya tak mau memakai baju yang sering dipergunakan untuk maksiat, Kemudian  turun Surat Al-A’raf: 26 yang berbunyi:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (26

Artinya:

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Syeh Nawawi al-Bantani dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa Ayat ini turun sebagai pengingat akan nikmat Allah agar dipergunakan untuk kebaikan bukan untuk mengikuti langkah atau perintah syaitan.

Sedangkan menurut Imam Mawardi dalam Adab Ad-Dunya wa ad-Din menjelaskan bahwa Libas at-Taqwa ada enam pengertian, yaitu:

Baca juga: Solusi Islam dalam Menghadapi Problematika Kehidupan

Pertama, Libas at-Taqwa berarti iman. Ini menurut Imam Qatadah dan Imam Suday.

Kedua, berarti amal shaleh. Ini menurut pendapat Sahabat Ibnu Abbas.

Ketiga, Sikap yang baik. ini menurut Sahabat Usman bin Affan.

Keempat, berarti takut kepada Allah. Ini pendapat Urwah bin Zubair.

Kelima, berarti sifat malu menurut Ma’bad al-Juhani.

Keenam, menutup aurat menurut Abdurrahman bin Zaid.

Pada hakikatnya tujuan berpakaian ada tiga. Pertama, untuk menghindarkan dari hal yang menyakitkan. Kedua, untuk menutup aurat. Ketiga, untuk keindahan.

baca juga: 3 Karakter Sufi, Imam Junaid dan Ajaran Tasawufnya

Dari sini jelas bahwa tujuan berpakaian tidak hanya menutup aurat saja namun penting kiranya menjaga hati dan nafsu agar tak mengikuti bisikan syaitan yang akan merugikan dirinya sendiri.


Dalam Tabaqat al-Aulia karya Ibnu al-Mulaqqin mengutip perkataan Syeh Mansur bin Ammar

ﻭﻗﺎﻝ ﻣﻨﺼﻮﺭ ﺳﻼﻣﺔ اﻟﻨﻔﺲ ﻓﻲ ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻬﺎ ﻭﺑﻼﺅﻫﺎ ﻓﻲ ﻣﺘﺎﺑﻌﺘﻬﺎ

Imam Mansur bin Ammar Seseorang akan menjadi selamat bila tak mengikuti nafsu, sebaliknya ia akan celaka bila mengikutinya.

Maka dari itu, baju ketakwaan seseorang akan menjadi lengkap bila didasari ilmu dan amal perbuatan yang baik.

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Seorang penggiat literasi dan penikmat kopi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.