Ini Alasan Utama Setiap Anak Berhak Menerima Pelajaran Agama

Islamina.id – Setiap anak berhak menerima pelajaran agama masing-masing. Dalam hal ini, Pelaksanaan pelajaran agama di sekolah swasta maupun negeri selama ini sudah berjalan. Sekolah-sekolah di Indonesia memberlakukan pelajaran agama dalam kurikulum dan sebagai mata pelajaran wajib.

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, pasal 12, ayat (1) huruf a, mengamanatkan bahwa: “Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.”

Dari penjelasan ini, setiap siswa berhak mendapatkan pelajaran agama sesuai dengan agamanya harus dipenuhi, maka pemerintah berkewajiban menyediakan tenaga pengajar agama untuk semua siswa sesuai dengan agamanya baik sekolah negeri maupun swasta. 

Fungsi Pendidikan Agama

Menurut Abdul Majid dan Dian Andayani, fungsi pendidikan Agama adalah sebagai berikut:

Pertama, fungsi pengembangan yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan, ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Kedua, fungsi penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Baca juga: Peran Media Sosial dalam Mewujudkan Siswa Toleran

Ketiga, fungsi penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baik dengan lingkungan fisik maupun sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.

Keempat, fungsi perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari. 

Kelima. Fungsi pencegahan, yaitu menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia seutuhnya.

Keenam. Fungsi pengajaran tentang pengajaran ilmu pengetahuan keagamaan secara umum(alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya.

Ketujuh. Fungsi penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain (Abdul Majid & Dian Andayani, 2005).

Pelajaran agama yang diajarkan di sekolah-sekolah diharapkan menjadi dasar dan pondasi karakter yang baik bagi peserta didik. Menurut Lickona (dalam Soryani, 2015) terdapat tiga komponen karakter baik, (1) pengetahuan moral, (2) perasaan moral, (3) tindakan moral.

Dalam hal ini, pendidikan karakter sangat perlu ditanamkan kepada peserta didik supaya kelak menjadi bekal menghadapi tantangan globalisasi yang sekarang telah dirasakan oleh bangsa Indonesia. 

Dalam hal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merumuskan 18 nilai karakter bangsa Indonesia. Nilai-nilai tersebut yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. 

Pentingnya Menanamkan Toleransi di Sekolah

Yang menjadi perhatiaan adalah salah satu nilai karakter yang sangat kurang ditanamkan di Indonesia adalah toleransi. Menurut Tilaar dalam Soryani (2015) menjelaskan bahwa bhineka tunggal ika menuntut sikap toleransi yang tinggi dari setiap masyarakat. Sikap toleransi dapat membentuk masyarakat yang beragam, tetapi tetap satu.

Walaupun usaha menanamkan nilai karakter toleransi sudah dilaksanakan melalui pendidikan, kenyataannya semua tingkatan pendidikan belum menanamkan nilai karakter toleransi. Hal ini terbukti dari adanya sikap intoleran yang terjadi di Indonesia.

Untuk itu, sekolah sebagai organisasi kerja memerlukan kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap (Wibowo, 2013).

Dengan demikian dapat diartikan bahwa tindakan kepala sekolah adalah tindakan yang sangat fundamental dan menentukan eksistensinya sebagai pemimpin yang akan menyebabkan tindakan para guru yang berkarakter, staf berkarakter dan peserta didik yang berkarakter pula. 

Di samping itu, pedoman kurikulum merupakan salah satu faktor penunjang proses pembinaan toleransi dan peduli sosial siswa. Manajemen kurikulum bukan hanya dibatasi dalam ruang kelas, tetapi menyangkut kegiatan pengelolaan di luar kelas seperti ekstrakurikuler, bahkan di luar lembaga pendidikan bersangkutan selama masih diprogramkan, yang terarah pada efektifitas pelaksanaan kurikulum.

Agar pelaksanaan kurikulum bisa berjalan secara efektif dan efisien, pemerintah pusat telah mengeluarkan pedoman-pedoman umum yang harus diikuti oleh setiap institusi pendidikan, dalam menyusun perencanaan yang sifatnya operasional, (Wibowo, 2013).

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.