Islam: Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi (2)

Islamina.id – Di akhir masa ‘Orde Baru’ ini, Islam dilanda ‘krisis’. Dikatakan krisis, karena saat itulah kemunduran Islam semakin tampak. Tetapi ternyata para pemikir muda Islam tidak begitu berani kalau harus berhadapan dengan status quo. Mereka hanya memanfaatkan waktu luang untuk introspeksi diri, mengembangkan potensi diri dengan mendirikan kelompok-kelompok kecil.

Pada akhirnya, di kala krisis sudah sedemikian parah, lahirlah seorang tokoh Muslim terkenal (dari Spanyol) bernama Ibn Rusyd. Dialah orangnya yang telah mempelopori perjuangan dalam membongkar hegemoni ulama klasik. 

Dengan kecerdasannya, Ibn Rusyd berani ‘melawan’ tokoh sekaliber Imam al-Ghazali yang sudah dianggap sebagai Hujjatul Islam serta dijadikan inspirasi, kiblat dan referensi pemikiran oleh mayoritas umat Muslim hingga dewasa ini. Dengan perjuangannya yang gigih, Ibn Rusyd telah berhasil membuka kembali ‘kran’ ijtihad (inovasi) yang sudah ‘ditutup’.

Bahkan ia juga dikenal dalam sejarah sebagai seorang filsuf Arab terbesar yang mampu membangun Eropa dan menghantarkan dunia Barat ke ‘pintu gerbang’ Renaissance, karena kemahirannya dalam memberikan komentar dan penjelasan tentang filsafat Aristoteles. Ia juga berusaha menghidupkan kembali filsafat-filsafat para pendahulunya, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Bajah dan Ibn Taufail yang telah ‘dibabat habis’ oleh Imam al-Ghazali. 

Baca juga: Islam: Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi (1)

Meskipun Ibn Rusyd cukup dikenal, namun ternyata tidak cukup berpengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan Islam sendiri. Sebab masyarakat Islam ketika itu masih ‘mabuk’ dengan pengaruh orang-orang ‘Orde Baru’ yang sudah mengkristal. Lihat saja bagaimana pengaruh Imam madzhab yang empat (aimmah al-madzahib al-arba’ah). Belum lagi Imam al-Ghazali yang hidup di penghujung masa ‘Orde Baru’ Islam. Karya monomentalnya, Ihya Ulum al-Din (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama) dianggap sebagai rujukan ketiga setelah al-Qur’an dan hadits. 

Bahkan tentang karyanya ini dikatakan bahwa “jika semua buku Islam dihancurkan, itu tidaklah begitu rugi, kalau kitab Ihya-nya Imam al-Ghazali dapat diselamatkan”. Tidak hanya itu, Imam al-Ghazali juga dianggap sebagai ‘Muslim terbesar setelah Nabi Muhammad’ yang sampai saat ini belum ada replikanya. 

Prestasi besar Ibn Rusyd hanya dipandang sebelah mata oleh orang-orang ‘Orde Baru’. Ia hanya banyak dikenal di Eropa. Sepanjang abad ke-12 karya-karya banyak filsuf, yang figur sentralnya adalah Ibn Rusyd, diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa latin. Ini menimbulkan gelombang produktivitas intelektual di Eropa Barat, sehingga mempengaruhi sains, filsafat, dan juga teologi. 

Hal ini dapat kita lihat dari beberapa karya para filsuf Eropa, seperti Domica, Albertus Magnus, Thomas Aquinas, Siger, dan lainnya yang kemudian dikenal sebagai Ibn Rusyd-nya latin. Sebagian besar dari mereka menerima Aristotelianisme dari Ibn Rusyd. Aquinas, khususnya, menjadikannya sebagai dasar bagi sebuah sistem teologi dan metafisika yang lengkap. (Akbar S. Ahmed ‘Posmodernisme: Bahaya dan Harapan Bagi Islam’ Penerjemah: M. Sirozi, Mizan: Bandung 1993, Cet. Ke-1, hal. 95) 

Baca juga: Hijab Bukan Kewajiban Islam

Itulah puncak krisis yang mendera Islam. Khazanah kultural dan intelektual yang sejak lama menjadi ciri khas Islam, beralih tangan ke dunia Barat. Bahkan Watt–seorang penulis Barat–pernah menulis bahwa sejak abad ke-9 banyak dari generasi muda Eropa tertarik pada puisi Arab, dan lebih tertarik pada bahasa Arab ketimbang bahasa latin. 

Melihat kondisi semacam ini, para generasi muda yang mempunyai perhatian besar terhadap Islam, tidak tinggal diam. Mereka berontak dengan melancarkan banyak kritik terhadap orang-orang ‘Orde Baru’ Islam. Maka inilah yang disebut dengan ‘Orde Reformasi’ Islam. Sebuah orde di mana seabrek tokoh-tokoh muda Islam dilahirkan. Mereka semua hendak melakukan reformasi dalam tubuh Islam, dan hendak melaksanakan ‘agenda reformasi’ yang pernah dicanangkan oleh Ibn Rusyd. 

Kita masih mengenal siapa itu Rifa’ah Rafi’ al-Thahthawi, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Qasim Amien, Mohammad Arkoun, Muhammad Abid al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zaid, Hasan Hanafi dan sederet cendekiawan Muslim lainnya. Mereka adalah kaum reformis Islam yang merasa tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang ‘Orde Baru’ Islam. 

Sekarang timbul pertanyaan, kenapa sampai saat ini umat Islam tidak maju-maju? Jawabannya gampang saja. Karena umat Muslim saat ini belum siap untuk melakukan reformasi. Mereka belum memiliki modal berupa potensi yang mumpuni. Sebab ketika masa ‘Orde Baru’ Islam, kebebasan mereka dalam melakukan inovasi terlalu dibatasi dan dipersempit, bahkan dikebiri dengan ditutupnya pintu ijtihad. Sehingga mereka tidak bisa berbuat banyak, kecuali hanya ber-taqlid kepada orang-orang ‘Orde Baru’.

Maka ketika ‘Orde Reformasi’ itu muncul, umat Muslim tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak memiliki pondasi yang kuat, mereka bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Karena dalam keadaan bingung, tidak ada jalan lain kecuali diam saja. Kalaupun berbuat–seperti yang sudah menjadi trend masyarakat Indonesia saat ini–mungkin hanya meniru-niru saja. 

Dan yang sangat menyedihkan adalah, bahwa saat ini, di tengah zaman ‘Orde Reformasi’ Islam, ternyata masih banyak orang ‘Orde Baru’ yang berkeliaran. Mereka secara terang-terangan menunjukkan eksistensinya sebagai orang-orang yang masih mempunyai otoritas dalam memonopoli kebenaran. Sehingga ketika ada orang yang tidak sepaham dengan mereka, dianggap keluar dari mainstream, yaitu Islam.

Roland Gunawan
Latest posts by Roland Gunawan (see all)

Roland Gunawan

Wakil Ketua LBM PWNU DKI Jakarta

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.