Kenapa Islam Melarang Umatnya Bersikap Berlebihan?

Islam datang sebagai agama yang memudahkan umatnya bukan untuk memberatkan apalagi menyusahkan sehingga banyak orang yang bersimpati terhadap ajarannya. Hal ini termasuk keistimewaan ajaran Islam yang perlu dilestarikan.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin menjelaskan tentang Nikmat dalam urusan Agama ada dua kategori, yaitu:
Pertama, Nikmat berupa taufik(نعمة التوفيق). Allah telah memberikan pertolongan kepada seseorang berupa Nikmat yang besar yaitu Islam, kemudian ia menyempurnakan ajaran Agama dengan mengikuti Sunnah Nabi, dan terakhir mengaplikasikan ajaran Islam sebagai bukti ketaatan kepada Allah dan Rasulnya.

Kedua. Nikmat berupa perlindungan (نعمة العصمة). Allah melindungi seseorang dari segala bentuk kekufuran dan kemusrikan, kemudian Allah menjaga seseorang dari segala macam kesesatan dan kemaksiatan.

Baca Juga:


Agama Islam melarang keras sikap ekstrim atau berlebihan-lebihan dalam bersikap, bertutur kata, berbusana, maupun dalam mengajarkan ajaran agama. Bahkan Nabi Muhammad mengingatkan dalam sebuah hadist yang dinukil oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ . قَالَهَا ثَلَاثًا ) رواه مسلم 

Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Orang yang berlebihan-lebihan akan hancur, Rasulullah mengulangi sampai tiga kali. (HR. Muslim).

Imam Ragib Al Asfihani dalam Muhadirat Al Udaba’ menjelaskan bahwa tentang bahaya berlebihan terutama dalam tiga hal ini. Ini bunyinya

ثلاثة تضر بأربابها الإفراط في الأكل اتكالاً على الصحة، والتفريط في العمل اتكالاً على القدر، وتكلف ما لا يطاق اتكالاً على القوة

Ada tiga hal ini membahayakan bagi pelakunya. Pertama. Berlebihan sampai melebihi batas dalam makan dengan dalih untuk kesehatan. Kedua. Berlebihan dalam beramal dengan patokan dirinya mampu melakukannya. Ketiga. membebani diri hal yang ia tak mampu mengerjakannya dengan dalih dirinya mampu.

Sedangkan Syeh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashoihul Ibad mengutip perkataan Imam Ibrahim An Nakhai:

إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ هَلَكَ قَبْلَكُمْ بِثَلَاثِ خِصَالٍ : بِفُضُوْلِ الْكَلَامِ وَفُضُوْلِ الطَّعَامِ وَ فُضُوْلِ الْمَنَامِ

Sesungguhnya kehancuran umat terdahulu sebelum kalian disebabkan tiga hal. Pertama, banyak bicara hal yang tak berguna. Kedua, mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Ketiga, Terlalu banyak tidur.

Baca juga:

Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa Islam mengatur kehidupan umatnya secara teliti terutama urusan makanan yang ia konsumsi sehari-hari untuk tidak berlebih-lebihan walaupun termasuk kategori halal karena sumber berbagai macam penyakit diakibatkan dari masalah perut.

Begitu pula dalam mengamalkan ajaran agama untuk tidak fanatik buta karena akan mengakibatkan persoalan yang menyangkut dirinya akan kurang tertata begitu pula yang berkaitan dengan orang lain akan terlunta-lunta.

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Seorang penggiat literasi dan penikmat kopi

One thought on “Kenapa Islam Melarang Umatnya Bersikap Berlebihan?

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.