Kenapa Islamina (1)

Kenapa Islamina? Islamina

Kenapa Islamina perlu hadir dan menjadi hidangan umat Islam hari ini, itu didasarkan pada sejumlah pertimbangan penting. Tujuan utamanya sederhana, Islamina menjadi rujukan dan referensi penting bagi orang-orang yang ingin belajar Islam secara lebih mendalam, tidak sekedar berbasis clickbait. Di sinilah kenapa Islamina perlu hadir.

Dengan cara itu, corak dan langgam keberislaman di Indonesia bukan saja semakin moderat, tetapi juga menjadi penyokong utama kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Muslim sebagai penduduk terbesar di Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dari setiap pembangunan bangsa dan negara. 

Baca: Cara Belajar Islam dengan Benar

Semangat Profetik Islamina

Untuk mewujudkan hal tersebut tentunya, pertama-tama harus memiliki perspektif dan wawasan keislaman-kebangsaan-kenegaraan yang seimbang. Memiliki kedalaman pengetahuan Islam tanpa dibarengi dengan wawasan kebangsaan dan kenegaraan tentu tak cukup. Begitu juga sebaliknya, Muslim Indonesia yang baik tentu tak sekedar hafal mantra-mantra kebangsaan dan kenegaraan tanpa ditopang dengan pengetahuan keislaman yang memadai. 

Ini penting karena Islam sendiri merupakan agama yang bukan saja compatible dengan peradaban, melainkan dapat menjadi penyokong utama terwujudnya peradaban yang sangat maju, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad S.A.W. 

Nabi menjadikan Islam sebagai inspirasi dan dasar penting dalam membangun masyarakat Madinah yang plural. Islam memberikan rasa nyaman kepada yang lain (the others) pada satu sisi, dan menjadikan ajaran dan nilai-nilai Islam sebagai fondasi penting dalam mengatur tata kelola masyarakat Madinah, seperti kejujuran, kesetaraan, hak dan tanggungjawab kewargaan, dan sebagainya. 

Baca: Perspektif Islam Tentang NKRI, Pancasila, dan Kebhinekaan

Sedikit banyak, Indonesia dapat mencontoh pilar kebangsaan yang diajarkan oleh Nabi. Di tangan para pendiri bangsa, Islam tidak menjadi ideologi yang berhadap-hadapan dengan Pancasila, melainkan bersenyawa dengan Pancasila. Nadhlatul Ulama melalui Musyawarah Nasional tahun 1983 telah membuktikan hal ini. 

Akan tetapi, yang kita hadapi belakangan ini semakin hari semakin mengkhawatirkan. Keberislaman kita semakin mundur ke belakang. Kesalehan seseorang diukur semata-mata hanya dari tampilan fisik semata; jenggot yang panjang, dahi yang hitam, celana cingkrang, berpoligami, dan sebagainya. Jika tidak seperti itu seakan-akan tidak shaleh, tidak mengamalkan Islam. 

Perbincangannya pun semakin mundur. Wacana-wacana keislaman yang progresif yang dibawa oleh wali songo, para kiai terdahulu yang kemudian dilanjutkan oleh Gus Dur, Cak Nur, Quraish Shihab, dan sebagainya semakin tidak mendapatkan tempat. 

Baca: Perspektif Islam tentang NKRI, Pancasila dan Kebhinekaan (Bagian Kedua)

Yang terjadi, al-Qur’an seakan tidak boleh ditafsirkan. Kitab-kitab tafsir para ulama sholeh seperti al-Thabari, Ibn Katsir, al-Qurtuby, dan sebagainya divonis tidak otoritatif untuk menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an. Rumusan ushul fikih, qawaid fikih dan fikih dari Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’ie, dan Imam Ahmad bin Hambal dituduh bukan “islam” itu sendiri. 

Baca Juga: Keluar dari Monopoli Makna Jihad

Mereka ingin langsung masuk ke dalam ayat-ayat al-Qur’an tanpa melalui perantara para ulama. Padahal, tentu saja, kemampuan pemahaman keislaman mereka pasti tidak akan sebaik Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i. Karena keterbatasannya terhadap Bahasa Arab, mereka menganggap bahwa terjemah al-Qur’an adalah al-Qur’an itu sendiri. Padahal tidak demikian. 

Praktik keberislamannya pun mengalami kemunduran. Sebagian umat Islam menjadikan Islam sebagai identitas semata, dilucuti dari nilai dan ajaran yang sangat mulia itu. Dimensi etis dan tasawuf dari Islam semakin ditanggalkan, dan formalisme ritus-ritus tanpa dibarengi pemaknaan yang memadai semakin digalakkan. Salah satu akibatnya adalah umat Islam mudah dipolitisasi. 

Atas dasar inilah, kenapa islamina ini hadir adalah untuk media belajar umat Islam Indonesia agar semakin mengerti tentang Islam yang sebenarnya. 

Latest posts by Hatim Gazali (see all)

Hatim Gazali

Pemimpin Redaksi Islamina.id | Dosen Universitas Sampoerna | Ketua PERSADA NUSANTARA | Pengurus Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU |

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.