Kenapa Perempuan Jadi Teroris?

Islamina.id – Peristiwa penyerangan Mabes Polri yang dilakukan Zakiyah Aini menjadi bukti kian kuatnya doktrin faham radikal terhadap kaum perempuan untuk melakukan aksi teror yang merugikan. Menyedihkannya lagi belum berselang lama, aksi ZA ini menyusul aksi bom bunuh diri yang dilakukan suami istri di Gereja Katredal, Makassar.  

Mengacu pada dua kasus ini sebenarnya publik bisa membaca regenerasi yang dilakukan kelompok teroris. Meskipun ini sebenarnya cara klasik dengan memperdayakan perempuan sebagai umpan untuk menarik anggota baru sekaligus melahirkan generasi baru. Cara-cara seperti ini lazim dilakukan kelompok Islam lain yang hendak melestarikan klannya. Hanya saja kelompok yang identik dengan gerakan radikalisme ini menjadikan cara perkawinan sebagai jurus jitu.

Ambil contoh, misalnya ada laki-laki yang hendak berjodoh dengan perempuan dari keluarga mereka. Maka syarat utama harus masuk pada kelompok mereka secara patuh dan taat, mulai dari ideologi hingga identitas yang meliputi harus berpenampilan sunnah ala mereka. Mengikuti kajian rutin, dan bahkan sanggup dijadikan sebagai pengantin di “surga”.

Baca juga: Islam Melarang Terorisme, Apapun Alasannya

Menurut riset Alvara, perempuan jadi simpatisan gerakan terorisme secara masif sebagai tren baru saat ini. Meskipun sebelumnya sudah pernah terjadi, tetapi saat ini keterlibatan kaum perempuan dalam pusaran aksi terorisme kian menguat. Hal ini karena ditenggarai kaum perempuan secara psikologis sebagai orang yang memiliki militansi total dalam pengaruh keluarga, teman, masyarakat. Apalagi dibumbui dengan problem sosial dan lainnya. 

Lebih sering, perempuan dimanfaatkan karena lebih cepat terkena indoktrinisasi yang dihadapkan kepadanya. Sehingga ideologi yang difahamkan untuk mereka cepat diamalkan. Selaras dengan fakta di lapangan jika ideologi terorisme kian subur kalau dilandasi dengan faham yang fundamentalis ekstrim (Hendropriyono, 2009).

Munculnya faham tersebut bisa melalui doktrin terhadap orang-orang yang masih awam terhadap wawasan keagamaan. Dengan menjadikan kepanikan moral dan isu-isu kekacauan politik global biasanya menjadi pintu masuk untuk mendorong jamaah kepincut pada faham mereka (Hasan 2017). 

Fakta ini bisa dilihat pada dua surat wasiat yang ditinggalkan oleh Lukman pelaku bom bunuh diri di Makassar dan Zakiyah Aini pelaku penyerangan di Mabes Polri. Ada beberapa poin dari surat wasiat tersebut yang berkaitan dengan ideologi mereka, seperti mengharamkan bunga Bank dan ikut melakukan kajian. Tetapi ada juga yang kecewa akibat perpolitikan seperti di surat Zakiyah yang berpesan kepada sang ibu agar tidak mengidolakan Ahok. 

Baca juga: Agama Sebagai Medium Humanisasi

Tentu ini jadi pertanyaan besar, para pelaku baik Lumkan beserta istri dan ZA terhadap bunga bank? Bisa jadi di antara faktornya karena bank dikelola oleh Negara dan keuntungannya digunakan untuk pemerintahan yang dianggap mereka Thaghut.

Meskipun pada mulanya juga diawali atas dasar keyakinan normatif mereka yang menganggap bunga bank itu adalah riba. Namun prosentasi kekecewaannya dalam kategori kedua sangatlah kecil. 

Kaderisasi

Pengkaderan yang dilakukan kelompok radikal teroris ini sangat sistematis. Buktinya, selama ini gerakan mereka yang selalu dalam pengawasan aparat pemerintah tetapi masih bisa mendapatkan celahnya dan justru kian subur melancarkan regenerasi jihadis militan. Lukman dan istrinya yang baru saja dinikahkan oleh kelompok teroris jadi bukti bahwa generasi mereka sangat militan.

Sepertinya tanpa ragu-ragu jamaah mereka meledakkan diri demi mati syahid yang ditawarkan kelompok teroris. Menurut Ali Imron, eks teroris bom Bali, hanya hitungan jam bisa meyakinkan para jamaah untuk melakukan aksi, dan sampai saat ini peminatnya masih antri untuk bisa mati syahid.

Baca juga: Potret Islamisme di Indonesia

Zakiyah Aini dan Istri Lukman sebagian dari kaderisasi yang sudah menyatakan “memilih jalannya,” sebagaimana ditulis dalam surat wasiat. Jika dilacak dari riwayat kehidupannya, tekanan sosial barangkali tidak menimpa palaku teror ZA. Namun justru disebabkan dari kajian yang diikuti via online. 

Zakiyah Aini sebagai representasi dari banyaknya kaum perempuan yang terindoktrinisasi faham radikal hanya melalui kajian dari media online. Perempuan dalam pusaran teroris memang tidak bisa dianggap sepele. Padahal dalam sejarah peperangan zaman Nabi, perempuan tidak dilibatkan di medan pertempuran. 

Untuk melawan doktrin itu perlu ada perhatian yang serius. Perlu diberikan kontra narasi wawasan keperempuanan serta mendudukkan jihadnya yang relevan untuk menjaga kemaslahatan. Bukan justru membuat kerusakan. Jadi jihad perempuan bukan terlibat dalam pusaran aksi terorisme.      

Khoirul Anwar Afa

Khoirul Anwar Afa

Penulis adalah Dosen Fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.