Kiat Meraih Surga Bersama Keluarga: Bersyukur Kepada Allah

Kiat pertama sudah kita bahas pada tulisan yang lalu yaitu memberikan nama yang baik untuk anak-anak kita. Pada tulisan ini, kita mencoba memahami rasa syukur kita kepada Allah. Rasa Syukur itu untuk mewujudkan keluarga yang harmonis. Salah satunya agar anak menjadi qurrata a’yun.

Dalam konteks lahirnya anak, ungkapan rasa syukur adalah dengan bentuk menunaikan kesunnahan akikah bila mampu. Terkait hukum akikah, ada perbedaan pendapat diantara para ulama, secara ringkas sebagai berikut (mengutip kitab Tarbiyatu al-Awlad Fi al-Islam, Syaikh Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Dar al-Salam , 2013, hal 74):

  • Pendapat yang mengatakan disunnahkan dan tidak wajib. Ini menurut Imam malik, Ahlu al-Madinah, Imam Syafii dan sahibat-sahabatnya, Imam Ahmad, Imam Ishaq, Abu Tsaur dan sebagian besar ahli fiqh, ilmuan dan ijtihad;
  • Pendapat yang mengatakan aqiqah hukumnya wajib, yaitu Imam Hasan al-Bashri, Al-Laits Ibn Sa’ad;
  • Pendapat yang menolak disyariatkannya aqiqah. Mereka adalah ahli fikih Hanafiyah.”

Sebagai tambahan, masalah akikah dalam mazhab Hanafi ada ikhtilaf diantara ulama atau fuqaha Hanafiah, jadi tidak satu pendapat. Ada yang berpendapat hukumnya sunnah, mubah dan yang terakhir mansukh atau aqiqah sudah tidak disyariatkan. (lihat dalam kitab Syarah Mukhtashor at-Thohawiy, dan Shohih Ibn Hibban bitartib ibn Balban juz 1 di bahasan kitab al-Ath’imah, al-Asyrobah, al-Libas…). Tidak perlu heran dan hendaknya kita biasa saja menyikapi adanya perbedaan pendapat ini. Karena perbedaan pendapat diantara ulama bisa terjadi baik antar ulama mazhab maupun di antara ulama internal mazhab. Dan harus diakui, perbedaan pendapat ini justru menjadi salah satu penyumbang kekayaan khazanah intelektual Islam.

Dengan tidak menafikan dan dengan tetap ihtiram terhadap pendapat yang lain, dari tiga pendapat di atas yang merupakan pendapat umum di kalangan umat Islam adalah pendapat yang pertama. Dan Jika ingin merujuk tentang pendapat-pendapat tersebut di samping kitab yang saya kutip di atas, silahkan lihat kitab Ahkam al-Aqiqah fi al-Fiqh al-Islamiy karya Syaikh Said as-Siddawiy, dan al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu karya Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhailiy jilid III.

Salah satu hikmah aqiqah adalah bentuk ketaatan kita kepada Allah dan taqarrub kita kepada-Nya. Dan hal inilah yang kita ajarkan kepada anak kita melalui aqiqah disamping bentuk kepedulian kepada sesama dengan memberikan daging aqiqah kepada yang berhak. Artinya sejak dini, ajaran Islam sudah mengarahkan kita untuk mendidik anak kita pada dua dimensi kehidupan. Pertama, dimensi vertikal yaitu ketaatan dan taqarrub kepada Allah; dan kedua, dimensi horizontal yang berupa sikap peduli kepada sesama. Bila dua nilai ini mampu kita jaga dan kondisikan pada anak kita insyaa Allah, anak kita akan menjadi anak yang saleh secara individual; dan saleh secara sosial.

Bagaimana bila kita tidak mampu untuk melakukan aqiqah? Kita bisa menunjukkan rasa syukur dalam bentuk lain atas kehadiran anak kita seperti memberi tahu kepada saudara dan para sahabat agar mereka mendoakan anak kita dan ikut bergembira. Kelahiran anak merupakan hal yang membahagiakan dan hendaknya kita berbagi kebahagiaan ini kepada orang lain. Dalam al-Quran dikisahkan tentang kabar gembira kepada Nabi Zakaria saat memperoleh keturunan:

يَا زَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ِۨاسْمُهٗ يَحْيٰىۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

“Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.” (Q.S. Maryam: 7).

Bersyukur atas kelahiran anak, meski si anak belum mengerti, tapi sebagaimana hikmah azan dan iqomat, tentu aura positif dari ungkapan rasa syukur kita tersebut akan berpengaruh secara psikologis pada anak. Pada artikel yang ditulis oleh dr. Devia Irine Putri dengan judul “Tahapan Perkembangan Bahasa Sejak Bayi Hingga Usia 1 Tahun“, saya memperoleh informasi yang menarik terkait bagaimana bayi bisa menangkap kebahagiaan dan tindakan positif orang tuanya:

“Saat lahir, bayi juga mengenal suara orang tuanya terutama sang ibu. Mereka sudah mulai mendengarkan dan memperhatikan dengan baik kata-kata maupun kalimat serta mencari tahu makna dari ucapan Anda. Selain itu, bayi mampu menangkap sesuatu yang lebih rumit seperti kebahagiaan, kesedihan, cinta, perhatian, kecemasan, dan kemarahan……Setiap saat, bayi Anda menggunakan pancaindranya untuk menerima informasi baru tentang dunia di sekelilingnya. Bayi selalu mengamati emosi Anda. Mereka akan menanggapi nada suara Anda, senyum Anda, dan kenyamanan sentuhan ketika Anda memberinya makan. Seiring perkembangan motoriknya, bayi sudah dapat menanggapi bahasa Anda dengan cara berbeda. Bayi dapat tersenyum saat Anda mengajak mereka berbicara. Mereka juga akan diam karena merasa tenang saat Anda datang ketika mereka menangis.”

Dengan demikian ketika kita bahagia dan bersyukur atas kehadiran anak kita, ternyata anak kita mampu dengan cara mereka untuk menangkap kebahagiaan kita dan hal ini akan berpengarruh positif bagi perkembagan psikologis anak kita. Subhanallah !.

Untuk itulah sebagai ungkapan rasa syukur, hendaknya kita sering memperlihatkan kegembiraan, sering memperlihatkan hal-hal yang positif pada anak kita. in syaa Allah, hal ini akan berpengaruh positif pada anak kita sehingga nantinya dia akan memiliki pandangan hidup yang positif dan tumbuh dengan bahagia. Dan ketika dia bahagia paling tidak satu tahapan qurrata a’yun sudah ada pada kita meski anak kita masih balita. Alhamdulillah.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.