Amanah dan Keikhlasan

Ini adalah kisah tentang amanah dan keikhlasan

Penulis

Satu saat ketika mengaji kitab Jawharah al-Tauhid, Syaikh Fawwaz al-Namr dalam kondisi sakit yang mengakibatkan beliau tidak bisa berbicara kecuali hanya berbisik. Oh ya… Bila ingin mengenal Syaikh Fawwaz al-Namr silahkan buka channel yotutube tentang kajian beliau. Saat ini beliaulah yang menggantikan Syaikh Abdurrazaq al-Halabiy untuk mengisi taklim dan kajian di masjid Jami’ Umawiy, Damaskus, Suriah (kalau kita searching biasa disebut Masjid Agung Umayyah).

Dengan kondisi beliau yang tidak bisa berbicara akhirnya beliau menulis pesan di papan tulis, bila ada yang tidak faham ibarah kitab silahkan maju dan nanti akan dijelaskan beliau dengan berbisik ke telinga kita. Kebetulan saat itu ada yang ibarah yang tidak saya pahami, akhirnya saya maju dan beliau menjelaskan dengan detil maksud kandungan dari ibarah kitab Jawharah al-Tauhid yang saya tanyakan.

Posisi lisan beliau hampir nempel dengan telinga saya. Betapa tulus beliau saat menjelaskan kepada saya meski dengan suara yang sulit untuk dikeluarkan. Ketulusan dan keikhlasan mengajar serta rasa tanggung jawab itulah yang membawa keberkahan sendiri buat beliau dan juga tholib-tholib beliau.

Baca Juga: Kiat Hidup Barokah

Saat beliau berkunjung ke Indonesia tahun lalu. Subhanallah…ternyata beliau masih ingat saya. Saat saya menemui beliau, wajah saya ditatap dengan pandangan yang menyejukkan, seraya beliau mengucapkan;’ Rusdi..kaifa al-hal.?”. Saya yang biasanya bisa bercanda dengan jawaban : ”Al-hal manshub wa ’alamatu nashbihi fathatun zhohirotun ’ala akhirihi.”

Ternyata saat itu tidak bisa berkata apa-apa. Karena takjub beliau masih ingat saya. Yang ada air mata mengembang, ada rasa bahagia yang luar biasa yang sulit diuraikan dengan kata. Setelah hampir kurang lebih 20 tahun tidak bertemu, ternyata beliau masih ingat saya. Subhanallah…itu menunjukkan betapa kuat daya ingat beliau kepada muridnya.

Yang buat saya bahagia dan ada rasa bangga adalah saat tangan saya dipegang beliau dengan penuh kelembutan, saya dipeluk lalu beliau mengecup kening saya. Diajaknya saya untuk duduk disamping beliau, dipandanginya wajah saya seperti seorang ayah yang sudah lama tidak bertemu anak kesayangannya. Saya diajak ngobrol, ditanya macam-macam. Suatu kebahagiaan dan kebanggaan bagi saya mendapat perlakuan seperti itu oleh beliau. Sampai sekarang bila saya ingat kejadian tersebut, air mata masih mengembang demikian pula saat saya menulis renungan ini. Ya Allah panjangkan usia beliau dalam kesehatan dan keafiattan sehingga kami punya kesempatan berjumpa kembali dan mengambil keberkahan ilmu dari beliau. Amiin.

Di saat lain, ketika jelang pulang ke Indonesia di awal tahun 2000-an. Saya pamitan ke beberapa masyayikh. Dan saat itu, Syaikh Abdurrozaq al-Halabiy terkena musibah. Beliau terjatuh yang mengakibatkan tangannya patah. Yang luar biasa, meski dengan kondisi tangan patah dan usia beliau yang sudah sepuh—mungkin sekitar 80an tahun— beliau masih juga mengajar untuk menjalankan kewajiban beliau. Masya allah….Saat saya pamitan, beliau mengatakan; “ Indunisiy…apa kabar..?” sambil senyum beliau menyapa saya. Alhamdulillah saya berkesempatan mencium tangan beliau yang patah tersebut, izin mohon pamit serta tak lupa saya minta didoakan oleh beliau.

Dua kisah di atas sebenarnya juga tidak jarang terjadi pada ulama-ulama kita di Indonesia. Kisah yang menggambarakan tentang rasa tanggung jawab atas amanah yang diembannya serta ketulusan dan keikhlasan dalam melaksanakan amanah tersebut. Bagi mereka, amanah bukan hanya sekedar berdimensi keduniaan, tapi juga berdimensi keakhiratan.

Sebenarnya bisa saja Syaikh Abdurrazaq al-Halaby atau Syaikh Fawwaz al-Namr meminta tolong kepada sahabat atau murid mereka yang juga asatiz untuk menggantikan posisi beliau. Tapi hal tersebut tidak mereka lakukan. Karena ada rasa tanggung jawab yang berdimensi keakhiratan.

Oleh karenanya ketika Syaikh Abdurrazaq al-Halabiy diminta istirahat saja nanti diganti oleh asatiz lain —yang juga murid-murid beliau— yang menggantikan, beliau menjawab; “ bagaimana tanggung jawab saya di mata Allah, selama saya masih bisa mengajar dan membimbing tholib-tholib saya akan lakukan itu.”

Begitu pula Syaikh Fawwaz al-Namr untuk apa beliau bersusah payah hadir untuk mengajar kalau tidak bisa menyampaikan penjelasan karena lisannya yang terkena musibah sakit. Ada sesuatu di situ yang mungkin sulit dinalar oleh akal kita. Sesuatu yang berdimensi spiritual dan ukhrowi. Mereka yakin kehadiran mereka akan bisa mendatangkan keberkahan sendiri buat mereka dan juga murid-murid mereka.

Dan ketika mereka hadir untuk menjalankan amanah, mereka bergerak dari rumah ke tempat mengajar untuk memberikan manfaat—yang mungkin tidak sebanyak di kala mereka sehat— maka disitulah keberkahan muncul.

تحرك فإن في الحركة بركة

“Bergeraklah, Sesungguhnya dalam pergerakan itu terdapat keberkahan.”
Subhanallah..itulah bila amanah dijalankan dengan rasa tangggung jawab serta diiringi dengan keikhlasan, in syaa Allah akan jadi kekuataan tersendiri yang akan bisa menambah energi.

لَا إِيْمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

“Tidaklah sempurna iman seseorang yang tidak menjaga amanah .” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Wallahu a’lam bi al-Showab.
Semoga Bermanfaat.

Latest posts by Ahmad Rusdi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *