Kunci Mendaki Puncak Spiritualitas: Belajar Dari Muhammad dan Sang Buddha

Islamina.id – Lebih dari seribu lima ratus tahun yang lalu di negeri yang tandus dan gersang dengan lautan gurun pasir yang membentang, seorang pembwa kabar kebenaran dilahirkan. Kehadirannya mampu menyinari masa suram kehidupan masyarakat jahiliyah dan semesta pada umumnya. 

Dialah Muhammad pembawa risalah umat, penggugah hati manusia dan penggembira bagi orang yang terpinggirkan. Muhammad lahir bagaikan sinar yang ditunggu oleh masyarakat Arab yang termarginalkan oleh kekuasaan manusia yang serekah. 

Sejarah lain mencatat lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lalu lahirlah seorang bijak yang kedatangannya telah ditunggu oleh manusia yang merasa terbelenggu dengan penderitaan hidup. Dialah orang yang bangkit, bangun (Buddha) dari tidur lelap manusia yang penuh dengan keserakahan. Seorang Buddha Gaotama datang membebaskan manusia dari penderitaan menghadapi hidup. 

Dua kelahiran manusia suci yang luar biasa tersebut bagi pemeluknya dirayakan sebagai bagian tradisi suci dalam agama masing-masing. Islam merayakan kelahiran sang nabi yang agung, Muhamamd, melalui momentum Maulid Nabi. Dalam tradisi umat Buddha kelahiran Sang Pencerah dirayakan melalui hari Suci Waisak untuk mengenang kelahiran dan sejarah pencerahan sang Buddha.

Sebelum Saya membahas ada nilai yang sama dari dua tokoh ini untuk diambil sebagai pelajaran penting dalam kehidupan, ada beberapa hal yang membedakan Muhammad dengan Buddha Gaotama. Muhammad dalam sejarah agama dikenal sebagai pewaris dari tradisi semitik (Abrahamic Religion). Sedangkan Buddha adalah tokoh dari dunia Timur yang tidak ada kaitan secara genealogis dan teologis dengan tradisi semit. 

Beberapa pendapat mengatakan bahwa Buddha lebih menekankan pada aspek filosofis, sehingga tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa ajaran Buddha sebagai sebuah ajaran filosofis, tidak lebih dari itu. Sedangkan Muhammad adalah Nabi agung dengan perangkat wahyu yang menuntunnya dalam membangun sebuah peradaban termegah pada zamannya. 

Namun, patut dicatat keduanya adalah tokoh yang merubah sejarah peradaban manusia. Huston Smith menyanjung Sang Budhha sebagai tokoh filsuf-sang rasionalis- yang setaraf dengan Scorates. Sedangkan Muhamamd, Michael Hart mencantumkanya pada urutan pertama rangking The 100 ;  A Ranking Of The Most Influential Person’s In History

Musuh Terbesar adalah Nafsu 

Saya ingin melihat suatu ajaran yang sama dari kedua tokoh ini yang mampu menggerakan perubahan intrinsik dalam diri manusia yang dapat dieksternalisasi menjadi perubahan sosial dan bahkan peradaban. Keduanya memulai dari perubahan dalam diri. Dengan kata lain, perubahan sosial yang diajarkan keduanya dimulai dari pengajaran nilai spiritual. Bagaimana meraih perubahan spiritual? 

Sang Buddha pernah berkata “jika seseorang dapat menaklukkan dirinya sendiri, maka sesungguhnya ia seorang penakluk yang terbesar. Menaklukkan diri sendiri sesungguhnya lebih baik dari pada menaklukkan makhluk-makhluk lain, orang yang telah menaklukkan dirinya sendiri selalu mengendalikan diri”. (Dhammapada 103-104). Begitu pula Muhammad ketika ditanya oleh para sahabat tentang jihad yang teramat besar, pernah bersabda perang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu (HR Baihaqi). 

Dua petikan sabda dari dua tokoh bijak nan suci itu pada prinsipnya hendak mengatakan kendalikan hawa nafsumu yang serakah yang dapat mendorong perbuatan kejahatan. Manusia harus mampu melawan dirinya sendiri dengan mampu mengelola keinginan, bukan diperalat oleh nafusnya. 

Puncak dari keburukan dalam pandangan Buddha adalah takluknya manusia terhadap keinginan (Tanha). Begitu juga Muhammad mengatakan segala bentuk kejahatan termasuk perang disebabkan karena menangnya nafsu buruk manusia terhadap kekuatan hati dan batin mereka. Seandainya manusia bisa menahan keinginannya istilah kekerasan, konflik, teror, peperangan semestinya tidak lagi mejadi pembendaharaan kata manusia. 

Alienasi Masyarakat Modern 

Zaman begitu cepat berlalu meninggalkan sisa romantisme kemukjizatan agama. Dimensi sakralitas suasana relijius telah punah, bahkan hancur sejak abad 16 dimulai. Peradaban modern dengan benih-benih pemikiran yang rasional meninggalkan kepercayaan kepada hal yang dianggap bersifat mitologis dan menunjukkan ketidakdewasaan manusia. 

Dalam alam pikiran modern, dunia seakan tidak lagi digerakkan oleh kekuatan di luar kekuatan manusia (Supreme being), tetapi akal manusialah yang telah menguasainya. Abad rasio (Age of Reason), begitu orang-orang menyebutnya, dipercayai akan membawa kesejahteraan manusia dalam mengatur dunianya sendiri. Dengan semangat “Sapere aude” manusia melangkah optimis dengan kemampuannya sendiri.

Nalar manusia modern mendorong perubahan di berbagai aspek dengan kemajuan yang begitu pesat baik dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi. Kehidupan manusia tidak lagi dianggap sebagai rentetan misteri yang tidak bisa dipecahkan. Segala sesuatu telah mampu diprediksikan dengan kalkulasi matematis dan positivistik. 

Kepercayaan manusia kuno tentang doa-doa dan permohonan keselamatan terhadap kekuatan di luar dirinya sudah tidak laku lagi. Bahkan spiritualitas tentang diri dan Tuhan menjadi lenyap di telan rasionalitas. Itulah abad modern.

Namun, apa yang menjamin kemajuan yang telah dicapai peradaban manusia dalam ketenangan diri dan kebahagiaan hidup? Penderitaan manusia masih ada karena ketulian batin dan kebodohan hati mereka. Manusia dengan keserakahannya saling berlomba untuk merebut dan menguasai lainnya. 

Dalam konteks saat ini, kasus perang, teror, kekerasan, hujatan dan makian masih menjadi derita manusia. Penderitaan manusia modern lebih kejam dan sadis dari pada masyarakat purba dan tradisional. Manusia terhimpit di tengah kemajuan yang diciptakkannya sendiri, sementara mereka merasa teralienasi dalam kehidupan yang serba mekanistik. 

Kembali ke Spiritualisme

Abad modern dan pasca modern tidak jauh berbeda dengan masyarakat tradisional. Penderitaan dan kebodohan disebabkan manusia mengumbar hawa nafsu dan keinginannya. Menghilangkan penderitaan hidup ini, manusia harus bisa menghilangkan kebodohan hati, ketulian batin dan kserakahannya. Manusia harus kembali kepada spiritualisme yang menyucikan batin. 

Saat ini orang-orang Eropa (Barat) mengimpikan suasana ketimuran yang sarat spritualisme, karena mereka yakin budaya matrealisme dan republikanisme Barat akan bisa didinginkan oleh tradisi spritualisme dunia Timur. Masyarakat modern mulai belajar pentingnya mencapai dan mendaki puncak spiritualitas sebagai kunci kebahagiaan. 

Nampaknya, kita harus belajar dari dua tokoh suci seperti Muhammad dan Sidharta Gaotama. Menghilangkan penderitaan diri manusia adalah kembali memerangi keinginan diri dan hawa nafsu yang membelenggunya. 

Rasanya kita patut untuk merenungkan kembali pesan bijak dari dua tokoh yang berasal dari dunia Timur ini. Mulailah berpikir dan memperbaiki dari diri kita sendiri. Satu pesan yang tidak bisa dilupakan “kendalikan keinginan dan hawa nafsumu” jika ingin membawa perubahan yang besar dalam hidupmu yang lebih bermakna.  

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.