Melacak Keabnormalan dalam Islamisasi Tanah Jawa (1)

Artikel ini akan dimuat menjadi beberapa seri. Dengan menawarkan beragam sumber literatur, penulis ingin mengajak pembaca mencari genealogi sesuatu yang dianggap irasional  atau abnormal dalam upaya islamisasi tanah Jawa. Berbeda dengan mukjizat dan karamah dalam Islam, penduduk Jawa pra-Islam mempercayai “kesaktian”, jin, setan, dan tahayul. 

Sebelum hadirnya Islam di Nusantara—terutama di Jawa— adalah gambaran kondisi wilayah yang penuh dengan keangkeran, kegelapan, dan kekerasan. Tercatat ada beberapa hambatan dalam upaya islamisasi Jawa. Mulai dari terbunuhnya utusan Muslim oleh makhluk halus, hingga ada satu aliran sekte yang dikenal bengis, kasar, dan memakan manusia (kanibal). Aliran ini yang mewarnai folklor ilmu hitam yang sangat kontra dengan ajaran Islam. 

Pada masa pra-Islam, tanah Jawa sering diceritakan oleh sejarawan atau budayawan sebagai kawasan hutan, gelap, dan sepi. Seperti gambaran dalam Pupuh Asmaradana nomor 26 yang berbunyi:

Ada cerita yang tertulis untuk tanah Jawa, dari Arab asalnya. Sejarah di pulau Jawa, waktu masih berupa hutan. Keadaan hutan selalu gelap gulita dan sepi, serta berserakan daun asam (Sukri, 2011).”

Perlu diketahui, di Jawa sebelum Islam, rakyatnya menganut agama Kapitayan, Hindu, dan Budha. Keyakinan ini dianut mulai dari lapisan bawah sampai kalangan atas (raja atau penguasa). Sebelum menerima pengaruh dari kebudayaan dan agama Hindu-Budha, suku Jawa telah memegang kepercayaan animisme dan dinamisme. Mereka memuja roh nenek moyang serta yakin akan adanya kekuatan gaib atau daya magis pada benda, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan pada objek yang dianggap sakral. Dua atensi disini, yakni kepercayaan dan pemujaan, belum terwujud dalam format agama secara nyata dan sadar (Afdillah, 2010).

Diceritakan dalam Kitab Musarar Babon Saka ing Rum yang dikutip dalam Primbon Ramal Djajabaja bahwa Raja Rum, Sultan Al-Gabah mengirim 20.000 keluarga Muslim untuk mengislamkan Jawa. Akan tetapi, misi mereka mengalami masalah yang sangat pelik (Tanoyo, 1956). Mereka mati terbunuh oleh penghuni hutan tanah Jawa. Hal itu tergambar dari Pupuh II Sinom nomor 1:

“Awal mula yang diceritakan, disaat kekosongan tanah Jawa. Masih berupa hutan berbahaya. Isinya hanya hantu, peri, dan jin, serta segala makhluk halus, seperti dewarak-sasa dan banaspati, ilu-ilu, serta jeram-bangan (Sukri, 2011).” 

Kabar banyaknya utusan Muslim terbunuh oleh makhluk-makhluk halus tersebut membuat Sultan Al-Gabah marah. Untuk itu beliau mengirim Syekh Subakir yang sakti agar “menumbali” tanah Jawa. Dan pada akhirnya tanah Jawa dapat ditempati atau menjadi ladang syiar Islam, (Sunyoto, 2016).

Sumber lain dari Marcopolo, menyatakan bahwa penduduk tanah Jawa yang masuk Islam masih sedikit sekitar kota. Namun di pedalaman, penduduknya masih hidup seperti hewan. Mereka dikabarkan masih memakan daging manusia (Hambis, 1955). 

Kisah ini mewarnai sketsa kita bahwa dahulu tanah Jawa sangat menakutkan, angker, dan tidak terjamah oleh manusia. Sesuatu yang pada zaman sekarang dianggap irasional. Hal ini yang banyak dan terus-menerus digambarkan publik. 

Baca Juga:
Sejarah Islam (1): Pengaruh Cina-Champa Ke Nusantara


Referensi:

Afdillah, Muhammad. “Agama Jawi: Sejarah, Ajaran dan Perkembangannya”. Jurnal Kajian Keislaman “al-Afkar ”, Vol. 3, No. 2. 2010.
Hambis, Louis (ed.), Marco Polo, La Description du Monde, Paris: Klincksieck. 1955. 
Sunyoto, Agus. “Eksistensi Islam Nusantara”, Jurnal Mozaic Islam Nusantara, Vol. 2, No. 2. 2016. Sukri, Mat. Kitab Musarar Syaikh Subakir (Asal Muasal Tanah Jawa). Yogyakarta: Haura Pustaka. 2011.
Tanojo, R., Primbon Ramal Djajabaja, Surakarta, 1956.

Syahril Mubarok

Netflix dan Kopi Hitam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.