Mengenal Istilah Kitab Kuning dan Fungsinya

Islamina.id – Kitab kuning merupakan gabungan atau bentuk idlafi dari dua kata, yaitu: kitab dan kuning. Kitab secara harfiah bermakna buku, sedangkan kuning merujuk pada salah satu rupa warna.

Dalam konteks “kitab,” warna “kuning” itu juga menunjuk pada warna yang digunakan untuk kertas kitab yang berwarna kuning.

Namun seperti yang disampaikan oleh Martin, bahwa sebutan kitab kuning juga merujuk pada kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren, mulai ditulis oleh para ulama abad 10 M-15 M, bahkan sebelumnya.  

Kiai Sahal Mahfudz juga pernah menuliskan bahwa yang dimaksud dengan istilah kitab kuning itu lebih merujuk pada identitas kitab-kitab klasik. Bahkan dalam salah satu tulisannya, ia pernah menyebut kitab ar-Râd ‘Alâ man Akhlada Ilâ al-Ardl, yang ditulis oleh Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H) sebagai kitab yang sangat klasik.

Padahal as-Suyuthi ini juga yang menulis beberapa kitab yang populer di pesantren, seperti Tafsir Jalalain, Lubâb an-Nuqȗl Fî Asbâb an-Nuzȗl, al-Itqân Fî ‘Ulȗm al-Qur’ân, dll.

Kitab Kuning di Nusantara

Namun sebutan kitab kuning digunakan di Indonesia tidak terbatas pada kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab. Ali Yafie pernah memberikan istilah terhadap kitab kuning, bahwa yang dimaksud dengan istilah tersebut bukanlah terbatas pada kitab-kitab agama (tauhid, fiqh, tasawuf) yang berbahasa Arab dan ditulis oleh orang Arab. Tetapi juga termasuk karya tulis ulama Nusantara baik yang berbahasa Arab maupun yang berbahasa Jawa.

Sedangkan kitab kuning itu sangat lekat dengan pesantren, karena merupakan lembaga kajian dan pengembangan kitab kuning. Pesantren tidak mengenal adanya buku-buku selain kitab kuning. Namun tidak menutup kemungkinan sebelum pesantren sebagai lembaga itu berdiri di Nusantara, kitab-kitab kuning sudah dipelajari di berbagai tempat.

L.W.C van den Berg pernah melakukan inventarisir kitab-kitab kuning yang digunakan di pesantren Jawa dan Madura pada abad 20. Menurutnya dari sekian banyak kitab kuning yang diajarkan di pesantren itu bisa dipetakan menjadi tiga genre. Yaitu, Fiqih, Tafsir dan Hadits.

Menurut Martin, ini berbeda dengan tradisi pembacaan kitab kuning di era Nurrudin Ar-Raniri, Abdurrauf as-Singkel abad 17, yang masih lekat dengan kitab-kitab filsafat bernilai tinggi.

Jika diajukan pertanyaan, darimana sebutan kitab kuning itu berasal? Belum ada temuan yang tegas terkait periode awal mula penyebutan istilah tersebut lahir. Hanya saja, pada tahun 1960 an, penyebutan kitab kuning ini menjadi sarkasme untuk kelompok NU sebagai organisasi Islam yang konservatif dan bergenre kampung serta tidak bisa lepas dari kitab kuning yag dinilai “usang.”

Sedangkan istilah kitab putih yang menunjuk pada kitab-kitab modern identik dengan Ormas modern seperti Muhammadiyah.

Khoirul Anwar Afa

Khoirul Anwar Afa

Penulis adalah Dosen Fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.