Menjadi Muslim yang Cinta Tanah Air

islamina.id — Sampai saat ini, masih ada saja yang mempermasalahkan dalil “cinta” tanah air. Kadang-kadang penulis bingung kepada orang-orang Muslim atau Muslimah ini. Kadang-kadang juga, kita yang sudah berpikirnya sudah sangat progresif, malah diajak berpikir mundur!. Padahal, Islam adalah agama yang visioner. Apa jadinya coba?.

Artikel ini sebenarnya ingin merefleksikan kondisi umat Islam di Indonesia. Ibarat mengendarai mobil, ada orang yang sukanya belok ke kanan, ada orang yang sukanya belok ke kiri, dan ada orang yang melihat arah ke depan — sambil lihat kaca spion — merupakan ragam kehidupan Muslim di bumi Nusantara ini.

Menjelang peringatan 75 tahun kemerdekaan tanah air tercinta. Indonesia sedang diuji dengan bermacam-macam cobaan. Mulai dari pandemi COVID-19, PHK besar-besaran oleh perusahaan, sampai masalah dalil agama dengan kaitan judul artikel ini. Apa yang harus kita lakukan ketika menjumpai orang yang “masih” bertanya dalil-dalil tersebut?

Pertama, jika bertemu Muslim dengan tipologi seperti itu, berikan senyuman terbaik kamu!. Atau kalau susah, coba sambil menyanyi lagunya Mesut Kurtis yang viral di telinga kita dengan judul “Tabassam“. Kalau dibalas dengan emosi –mereka malah suka gitu sih!– apa bedanya dengan mereka?.

Yang kedua, agak serius sedikit!. Yakni dengan memberikan pengetahuan jika para ulama salaf menganjurkan untuk cinta tanah air. Ada rujukan dari Sayyid Muhammad dalam kitab al-Tahliyah wa al-Targhīb fî al-Tarbiyah wa al-Tahdzīb. Pada kitab tersebut ada definisi tanah air (al-waṭan). al-waṭan sebagai pijakan kita saat lahir dan berkembang di sana, memanfaatkan tumbuhan dan hewan ternaknya, menikmati air dan udaranya, tinggal di atas tanah dan di bawah langitnya, serta menikmati berbagai hasil bumi dan lautnya. Semua fasilitas itu konsekuensi manusia menyerahkan jiwa, raga, dan harta untuk mengabdi pada tanah airnya dengan mendatangkan al-iḥsān (kebaikan), mengembangkan al-iqtiṣād (perekonomian), dan memajukannya.

Yang ketiga atau terakhir, Muslim Indonesia atau kamu yang generasi millenial mengajak mereka untuk berpikir lebih maju. Orang-orang yang masih “mensyubhatkan” dalil cinta tanah air, mereka harus kita sadarkan dengan karya atau kegiatan yang dapat mengubah perspektif mereka. Seperti merayakan bulan kemerdekaan ini dengan membaca Alquran serentak, mulai memasang bendera merah putih di depan rumah, atau memberikan perhatian kepada fakir miskin.

Jadi, sebenarnya cinta tanah air itu tak perlu dalil bagi umat Islam. Rasulullah SAW hijrah ke Madinah pun masih “kepikiran” tanah kelahirannya (Mekah). Di Madinah, Rasulullah SAW mampu membentuk komunitas Muslim yang tidak diskriminatif, diakui, dan dihargai oleh lintas etnis dan agama. Cinta tanah air adalah fitrah dan lazim bagi Muslim. Mari kita cintai negeri ini!.

Syahril Mubarok

Netflix dan Kopi Hitam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.