Misi Pesantren untuk Kemaslahatan Publik (2)

Islamina.id – Apa yang dikerjakan oleh pesantren merupakan tugas mulia, melalui fungsi Pendidikan, Dakwah dan Pemberdayaan Ekonomi. Dengan sumber daya yang berbeda (lemah dan kuat), masing-masing pesantren berusaha melaksanakan satu, dua, atau tiga fungsi sekaligus. Sebagian besar pesantren setidaknya menjalankan fungsi Pendidikan.

Beragam, ada yang masuk kategori formal seperti Pendidikan Diniyyah Formal (PDF), Pendidikan Muadalah, dan Ma’had Ali. Dan ada yang non formal, yang sepenuhnya mendasarkan kepada kitab kuning, baik secara berkelas (jenjang) maupun yang tidak. 

Yang diperlukan dari negara adalah rekognisi (pengakuan). Keragaman pendidikan pesantren diakui sebagai bagian dari capaian pendidikan Indonesia.

Dengan demikian pendidikan pesantren diakui sebagai bagian capaian SDGs (sustainable development goals), dan lulusannya berhak menggunakan ijazah (syahadah) sebagai alat untuk mendapatkan hak sipil dan politik, melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya dan akses terhadap pekerjaan. Untuk kepentingan tersebut, maka negara harus melakukan afirmasi dan supporting terhadap pendidikan pesantren.

Baca juga: Misi Pesantren untuk Kemaslahatan Publik (1)

Dalam upaya mendorong fungsi dakwah agar optimal, negara harus pula mengambil peran strategis. Cita-citanya adalah mendorong pesantren Indonesia sebagai rujukan dunia untuk keberagamaan Islam yang moderat (wasathiy). Beberapa hal yang dapat didorong antara lain sebagai berikut.

Pertama, bagaimana santri mendapat penguatan kapasitas yang memudahkan penyampaian gagasan Islam rahmatan lil ‘alamin ke dalam forum-forum nasional dan internasional.

Kedua, negara memfasilitas para santri berkarya dan mendistribusikan di tingkat nasional dan internasional.

Dan ketiga, bagaimana mendekatkan santri dengan akses digital. Bukan hanya soal ketercukupan kuota, tetapi skill menggunakan media digital: internet (big data) sebagai sumber pengetahuan dan bagaimana menggunakan internet dalam metode pembelajaran.

Dan dalam kaitan dengan fungsi pemberdayaan masyarakat, negara harus mempertimbangkan pesantren sebagai aktor strategis untuk pertumbuhan ekonomi. Agregat pertumbuhan ekonomi dapat ditunjang melalui aktivitas pesantren.

Ada 5 juta santri aktif bermukim di pesantren, ada 13 juta santri non mukim, dan ada lebih dari 90 juta komunitas santri. Mereka adalah potensi pertumbuhan ekonomi. Menguatkan ekonomi santri akan berdampak karambol kepada penguatan ekonomi elemen masyarakat yang lain.

Baca juga: Toleransi Umar bin Khattab kepada Umat Beragama

Pesantren yang kuat secara ekonomi menjadikan peran dan posisi pesantren akan makin kuat: memberikan dukungan untuk pembangunan Indonesia ke depan.

Pesantren menjadi enabling factor untuk Indonesia yang lebih kuat, meningkatkan human development index (pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan), dan dalam posisi kuat secara ekonomi dan politik dalam percaturan dunia.

Wallahu a’lamu bish-showab. 

Abdul Waidl

Pengurus PCNU Depok - Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.