Misi Utama Al Qur’an sebagai Pembawa Rahmat bukan Penebar Laknat - islamina.id

Misi Utama Al Qur’an sebagai Pembawa Rahmat bukan Penebar Laknat

Al-Qur’an kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk umat manusia juga sebagai rahmat untuk alam semesta baik alam manusia, jin, maupun alam yang lainnya.

Sayangnya, sebagian umat Islam kurang memahami sehingga dirinya bukan menjadi penebar rahmat melainkan menebar laknat atau suka menyalahkan orang lain terutama yang berbeda dengan dirinya.

Fenomena ini berawal dari pemahaman terhadap kitab suci yang sepotong-sepotong saja, tidak komprehensif. Padahal Al-Qur’an diibaratkan lautan yang tak bertepi maka dibutuhkan ilmu-ilmu pendukung lainnya.

Salah satu tujuan pokok Al-Qur’an adalah memberikan rahmat (kasih sayang) kepada siapapun sehingga terjalin hubungan yang baik sesama manusia dan kepada Tuhannya.

Hal ini sesuai ayat yang berbunyi,

أَوَلَمۡ یَكۡفِهِمۡ أَنَّاۤ أَنزَلۡنَا عَلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ یُتۡلَىٰ عَلَیۡهِمۡۚ إِنَّ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ لَرَحۡمَةࣰ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمࣲ یُؤۡمِنُونَ

Artinya:

Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.(QS. Al-Ankabut: 51).

Menurut Ibnu Abbas dalam Tafsir Tanwir al-Miqbas menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ahli Makkah yang tak kunjung beriman setelah diberikan tanda-tanda kebenaran dari Nabi Muhammad Saw berupa al-Qur’an melalui Malaikat Jibril yang berisi tentang perintah maupun larangan, juga kisah-kisah umat terdahulu.

Orang-orang yang mau mengikuti dan mengimani Kitab tersebut maka akan diberikan rahmat, dijauhkan dari adzab serta sebagai petuah kehidupan bagi orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad dan al-Qur’an.

Sedangkan menurut Imam Qurthubi dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa kitab suci Al-Qur’an merupakan rahmat Allah di dunia sebagai penyelamat umat manusia dari kesesatan serta sebagai petunjuk kebenaran bagi orang yang beriman.

baca juga: Mengenal Tasawuf dan 3 Pilar Ajarannya

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat diatas memaparkan beberapa kebodohan serta ketidakmampuan orang musyrik yang hendak menandingi kebenaran al-Qur’an. Padahal al-Qur’an merupakan Wahyu dari Tuhan dan tak ada yang mampu menandinginya untuk membuat satu kitab seperti al-Qur’an.

Suka Melaknat kelak tak bisa Memberi Syafaat

Berbeda itu pasti ada, karena sudah menjadi Sunnatullah di alam ini. Pastinya untuk menghadapi perbedaan dibutuhkan kedewasaan dalam berpikir, dan menghargai pendapat orang lain.

Realita di masyarakat saat ini, gara-gara berbeda dalam urusan pilihan politik, seringkali saling mencela sesama teman, bahkan satu keluarga tak saling sapa. Sungguh hal itu sangat disayangkan.


Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Abi Darda’ yang berbunyi:

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ اﻟﺪﺭﺩاء ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: “ﻻ ﻳﻜﻮﻥ اﻟﻠﻌﺎﻧﻮﻥ ﺷﻔﻌﺎء، ﻭﻻ ﺷﻬﺪاء ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ” ﺭﻭاﻩ ﻣﺴﻠﻢ.

Artinya:

diriwayatkan Abi Darda’ RA. berkat: Nabi bersabda: para pelaknat tak akan bisa memberi Syafaat, dan tak akan menjadi saksi di hari kiamat. (H.R. Muslim).

Ibnu Hajar dalam Al-Fatawa al-Hadisiyyah menjelaskan bahwa larangan melaknat karena hal itu akan menjauhkan dari Rahmat Allah kepada seseorang, perbuatan ini sangat dilarang, bahkan bila melaknat kepada sesama orang mukmin bisa dikategorikan membunuhnya.

baca juga: Siapa Sih yang Berhak Mengeluarkan Fatwa?

Maka dari itu sebagai orang mukmin ketika menghadapi perbedaan harus disikapi dengan bijaksana, dan tak perlu mengumpat bahkan mengeluarkan kata-kata yang tak pantas demi kepentingan sesaat.

Dari penjelasan ini, umat Islam diharapkan mampu memahami tujuan pokok Al-Qur’an sehingga mampu menjadi penebar kebaikan dan pemberi rahmat kepada siapapun.

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Seorang penggiat literasi dan penikmat kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *