Nasehat Habib Umar di Peringatan Hari Asyura

islamina.id — Pada tanggal 29 Agustus 2020 atau bertepatan 10 Muharram 1442 Hijriyah, umat Islam memperingati yaumil ‘asyura. 10 Muharram bisa juga disebut yaumil ‘asyura atau hari Asyura. Hari Asyura merupakan hari dimana peristiwa terbunuhnya cucu Nabi Muhammad SAW yakni Sayyidina Hussein di Karbala (Irak). Tetapi, dalam tulisan kali ini, mari kita renungkan nasehat-nasehat oleh Habib Umar bin Muhammad al-Hafidz tentang Hari Asyura.

Dikutip dari media sosial resmi Habib Umar, ada nasehat yang harus direnungkan dan diaplikasikan sehari-hari bagi umat Islam. Nasehat tersebut berbunyi:

مضى سيّدنا الحُسين وأولاده وذريَّته من بعده على الاستقامةِ، والصِّدقِ والإنابة، والإرث للأسرار والأوصاف والأخلاق.. لا يعرفون بدعوى محبّة أحد أن يسبّوا أحداً، ولا يعرفون بدعوى محبّةِ أحد أن يظلموا أو يحقروا أحداً، ولا يعرفون إثارةَ الشّحناء والبَغضاء بين المسلمين والمؤمنين، هم حصون الأخوّة الإيمانية، هم حصون المحبة في الله تبارك وتعالى، أحسَنوا إلى من أساءَ إليهم، وأحسَنوا إلى مَن آذاهم، وأرادوا الإنقاذَ حتى لمن ضَرَّهم، عليهم رضوان الله تعالى..

Berlalu sejarah Sayyidina al-Hussein beserta anak dan cucu setelahnya dengan penuh keistiqamahan, ketulusan, kedekatan diri kepada Allah serta mewariskan sifat-sifat dan akhlak mulia. Mereka tidak mengenal cara mencintai seseorang dengan mencela seseorang. Tidak mengenal cara mencintai seseorang dengan menzhalimi dan merendahkan seseorang. Mereka juga tidak mengenal cara menebar kebencian dan permusuhan antara umat Islam dengan orang beriman. Mereka itulah benteng pertahanan ukhuwah keimanan, benteng kecintaan yang tulus karena Allah. Berbuat baik kepada mereka yang berbuat keburukan, berbuat baik kepada mereka yang mengganggunya, mereka ingin menyelamatkan semua ummat manusia bahkan kepada mereka yang mencelakainya. Semoga Allah meridhoi mereka..”

Dari nasehat-nasehat beliau diatas, dapat kita simpulkan poin-poinnya sebagai berikut:

1. Meneladani Akhlak Anak Cucu Sayyidina al-Hussein di Hari Asyura

Secara genealogi, para keturunan Nabi Muhammad SAW harusnya memiliki akhlak yang terpuji. Legalitas tersebut adalah suatu kelebihan tersendiri. Para Dzurriyah Nabi Muhammad SAW adalah teladan bagi umat Islam sebagaimana nasehat Habib Umar bin Muhammad al-Hafidz.

Para anak cucu Sayyidina al-Hussein selalu istiqamah, memiliki sifat tulus, dekat dengan Allah, dan mewarisi akhlak mulia. Di Indonesia, tak sedikit para anak cucu Sayyidina al-Hussein menyebar di seluruh penjuru kepulauan Nusantara.

2. Tidak Pernah Mencela Orang

Kemudian Habib Umar bin Muhammad al-Hafidz melanjutkan nasehatnya bahwa para anak cucu Sayyidina al-Hussein harus berkata baik dan tidak akan mencela orang. Nasehat yang kedua ini dirasa paling penting, karena lisan adalah sarana paling krusial yang bisa mendatangkan mudharat.

Seperti bunyi hadits Nabi yang diriwayatkan dari Imam Bukhari:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَـيْرًا أَوْ لِيَـصـمُــتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”

3. Tidak Menzhalimi dan Menebar Kebencian

Pasti salah satu diantara kita pernah menzhalimi teman, tetangga, atau bahkan saudara. Berbuat zhalim seperti bullying, intimidasi, dan sebagainya tidak pernah dicontohkan oleh Sayyidina al-Hussein. Ayahnya dan kakeknya tidak pernah mencontohkan itu.

Lalu, para keturunan Rasulullah SAW juga harusnya tidak menebar kebencian (hate speech) terhadap umat manusia. Jika ada keturunan Nabi SAW yang menebar kebencian, kemungkinan ia lupa bagaimana datuknya sangatlah agung dalam berkemanusiaan.

Dari nasehat-nasehat Habib Umar bin Muhammad al-Hafidz diatas, kita sebagai umat Islam semakin menjadi tercerahkan. Momentum hari Asyura dijadikan bukti, betapa Sayyidina al-Hussein dan para anak cucunya masih meneruskan thariqah an-nabawiyyah yang relijius dan pluralis.

Syahril Mubarok

Netflix dan Kopi Hitam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.