Nasehat Untuk Pemuda dan Pemudi Islam

Bertepatan dengan perayaan Hari Sumpah Pemuda, bolehlah kita merefleksi terkait sejarah lahirnya hari tersebut. Mungkin generasi yang mendominasi sekarang juga tak tahu, apa substansi isi teks keputusan Kongres Pemuda yang berusia 92 tahun itu. Jika dipraktekkan, para pemuda dan pemudi akan menjadi ummatan wāẖidah (umat yang bersatu). Faktanya, para pemuda dan pemudi sekarang menjadi tidak terarah dan jauh dari adab.

Indonesia dihuni oleh mayoritas umat beragama Islam. Kemudian juga didominasi oleh generasi yang disebut millenial dan Gen-Z. Bonus demografi ini seharusnya berjalan beriringan dengan apa yang disebut akhlak, adab, atau moral.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 2019, jumlah pemuda dan pemudi (rentang usia 16-30) sekitar 64,19 juta jiwa. Jumlah ini tentunya tidak sedikit dan harus diperhatikan secara khusus. Perhatian khusus terhadap peran pemuda dan pemudi terhadap agama dan bangsanya.

Khususnya para pemuda dan pemudi Islam, patut dipraktekkan nasehat-nasehat dibawah ini. Mengingat kondisi umat Islam di Indonesia yang masih belum dalam kategori ummatan wāẖidah. Berikut nasehat-nasehatnya:

1. Selalu Berpegang Teguh Kepada Alquran

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,” [Q.S. Ali Imran: 103]

Ayat diatas menyadarkan kita, bahwa umat Islam itu harus bersatu. Tidak boleh saling memusuhi, apalagi saling mencaci-maki. Bagi para pemuda dan pemudi Islam, ayat ini sangat relevan. Para pemuda dan pemudi selain sebagai agent of change, juga harus mempunyai moral force.

Banyak sekali kelompok yang mengatasnamakan Islam, namun tidak mencerminkan akhlak Nabi Muhammad SAW. Padahal, Nabi SAW kehidupannya selalu berakhlak. Apakah masih ingat menteri yang bilang bakso “pakai akhlak”? heheh..

Tren “pakai akhlak” ini seharusnya ditanam dalam diri para pemuda dan pemudi Islam. Agar tidak kebablasan menjadi imoral atau tidak berakhlak. Pemuda dan pemudi Islam harus berakhlak!

2. Menyikapi Perbedaan

Pemuda dan pemudi Islam harus bersikap inklusif. Indonesia tidak hanya dihuni oleh satu agama. Indonesia juga bukan negara agama. Indonesia juga tidak dihuni oleh satu suku. Oleh karena itu, para pemuda dan pemudi Islam harus menghargai, merangkul, dan tidak menyulut sikap intoleransi terhadap pemuda-pemudi agama lain.

Di Alquran juga sudah mengingatkan kita dengan ayat yang berbunyi:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” [Q.S. ar-Rum: 22]

Baca juga: Hikmah Perbedaan Bahasa, Warna Kulit dan Cara Menyikapinya

Kemudian surah al-Hujurat ayat 13 yang artinya:

“Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kamudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

3. Jalan Tengah

Para ulama salaf telah memberikan contoh kepada kita apa yang dinamakan dengan “jalan tengah”. Contohnya seperti para Imam madzhab antara lain; Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. Mereka berbeda dalam perspektif fikih misalnya. Dan empat madzhab ini dianut oleh umat Islam di Nusantara.

Jalan tengah ini bisa juga disebut wasathiyah atau moderat. Sikap moderat harus dimiliki oleh siapapun, tanpa terkecuali bagi para pemuda dan pemudi Islam. Lihat saja kelompok-kelompok yang tidak mempunyai sikap ini. Selalu memusuhi kelompok yang berbeda pandangan dengan mereka. Kelompok ini sebenarnya sedikit, tetapi sangat berisik dan mengancam kedamaian hidup warga +62 !

Kesimpulannya, marilah para pemuda dan pemudi Islam menerapkan tiga nasehat diatas. Jadilah contoh ummatan wāẖidah. Tidak saling memusuhi, tidak saling mencaci-maki, tidak saling mengkafirkan, dan harus menciptakan perdamaian.

wallahu a’lam

Syahril Mubarok

Netflix dan Kopi Hitam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.