Ngasuh dan Pentingnya Sanad Keilmuan

Seorang sahabat mengusulkan nama renungan subuh menjadi “Ngasuh” (renuNGAn SUbuH). Respon saya atas usulan tersebut langsung saya posting di status, karena saya tertarik dan memang menarik. Tapi subuh ini saya masih gunakan nama Renungan Subuh, belum Ngasuh. In syaa Allah besok. Mudah-mudahan tidak lupa. amiin.

Kata Ngasuh sebenarnya bukan bahasa baku dalam Bahasa Indonesia, yang baku ya “asuh”. Kata ngasuh berasal dari “mengasuh”, lalu disingkat menjadi ngasuh. Jadi ya sah-sah saja kita menggunakannya. Karena dalam pelajaran bahasa kita juga mengenal singkatan-singkatan kata agar praktis. Kalau dalam Bahasa Arab ada yang disebut li al-Takhfif. Hal seperti ini juga ada dalam ayat al-Qur-an. Misal ayat: وما خلقت الجن والإنس الا ليعبدون

Ayat tersebut asalnya Liya’buduuniy, ada NUN Wiqoyah dan YA almutakallim (ني), tapi dihilangkan karena li al-takhfif. Makanya terjemahannya’ Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-KU.” Kalau tidak ada “NIY” terjemahannya ya tanpa kalimat “kepada-KU”.

Contoh lain misalnya dalam surat al-Qodr, seharusnya pada ayat ke empat itu bunyinya “ Tatanazzalu” tapi huruf ‘TA” yang satu dihilangkan sehingga menjadi “ Tanazzalu”. Makanya di tafsir Jalalain dikatakan بحذف إحد التائين من الأصل . Jadi meringkas kata atau kalimat itu hal yang biasa terjadi. Oleh karenanya mengasuh supaya bisa jadi enak sebagai kepanjangan Renungan Subuh, ya disingkat jadi “Ngasuh.” He he

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), asuh—mengasuh—- merupakan padanan dari kata menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil; membimbing supaya—orang yang dibimbingnya—dapat berdiri sendiri, dan; memimpin. Jadi pada kata “mengasuh” ada proses menjaga, merawat, mendidik, membimbing dan memimpin. Makna ini terasa penting untuk kita pahami dalam memproses untuk mewujudkan generasi yang saleh.

Ada kaidah fiqh yang cukup masyhur yang sering dikutip ulama-ulama kita: “ al-Muhafazhotu ‘ala qodiym al-sholeh wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, memelihara atau menjaga nilai-nilai lama lama yang baik dan mengambil nilai-nilai yang baru yang lebih baik.” Dari kaidah ini terkandung makna mengasuh, dimana seorang yang diamanahi untuk mengasuh, dia hendaknya menjaga nilai-nilai lama yang baik untuk kebaikan dan kemanfaatan orang yang diasuhnya serta membimbing mereka untuk bisa mengambil keputusan—sebagai pemimpin— tentang nilai-nilai baru yang dipandang akan lebih mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan.

Oleh karena itu, kita tidak perlu heran bila di pesantren lebih senang menggunakan kata pengasuh dibanding kata-kata lain, misal pemimpin, pengurus atau ketua. Kenapa? bisa jadi salah satu faktor penyebabnya adalah karena ada keinginan dari para kiyai dan asatiz untuk merawat, mendidik dan membimbing santrinya sehingga bisa merawat nilai-nilai lama yang baik dan berani mengambil keputusan untuk mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.

Salah satu nilai-nilai lama yang senantiasa dijaga — dan saya kira harus selalu dijaga— adalah menjaga kesambungan sanad keilmuan dalam mempelajari ilmu keislaman. Nilai yang saat ini—maaf bila saya katakan—kurang dihiraukan dan diperhatikan oleh generasi millenial saat ini dalam mempelajari ilmu keislaman sehingga mereka mengambil ilmu keislaman dari orang yang secara kompetensi keilmuan belum pantas dan belum saatnya untuk dijadikan rujukan ilmu agama. Bahkan terkadang yang lebih menyedihkan, dengan alasan praktis dan efisien, tidak sedikit yang langsung mempelajarinya dari buku-buku keagamaan. Padahal belajar agama tanpa dibimbing ustaz sangat rawan dan berpotensi untuk gagal paham dalil agama sehingga mudah tertipu ajaran yang tidak sohih bahkan sesat.

Sebagai misal bagaimana seseorang bisa melaksanakan ibadah solat yang benar bila langsung membaca buku tanpa adanya bimbingan ustaz, terlebih Rasul SAW bersabda : “Solatlah seperti engkau melihat aku solat.” Supaya solat kita benar sesuai tuntunan maka kita butuh bimbingan dari ustaz yang mana ustaz inipun dibimbing oleh ustaz sebelumnya dan ustaz sebelumnya sehingga sanad ilmunya sampai ke Rasul SAW.

Begitu pula dalam memahami al-Qur’an misalnya, bagaimana seseorang akan benar dalam memahaminya bila tanpa dibimbing ustaz. Sebab lafadz al-Qur’an ada yang bersifat metafora dan kinayah, ada yang musytarok (dalam Bahasa Indonesia disebut polisemi, yaitu satu lafazh yang memiliki makna yang banyak, seperti lafazh quru’ yang bisa berarti suci dan haidh) dan murodif (dalam Bahasa Indonesia disebut sinonim yaitu banyak lafazh tetapi memiliki arti yang mirip atau sama, seperti lafazh al-syukh dan al-bukhl, al-khauf dan al-khosyah) serta sifat al-Qur’an yang mujmal atau global. Sehingga perlu rincian dan penjelasan untuk menemukan hakikat makna sesungguhnya. Ini baru dari sisi memahami makna al-Qur’an, belum kepada cara membacanya yang juga butuh bimbingan ustaz sehingga tidak salah membaca. Demikian pula untuk cabang-cabang ilmu yang lain seperti ilmu fiqh, hadits dan lain-lain yang tentu membutuhkan bimbingan ustaz dalam memahaminya.

Namun yang perlu difahami juga, dalam belajar agama bukan hanya sekedar dibimbing oleh ustaz—tapi untuk kehati-hatian agar tidak terjerumus kepada pemahaman yang salah dan keliru—, kita juga hendaknya memperhatikan sanad keilmuan yang dimiliki ustaz tersebut karena sanad adalah bagian dari agama sebagaimana dikatakan oleh Imam Abdullah ibn al-Mubarok:

الإسناد من الدين , لو لا الإسناد لقال من شاء بما شاء

isnad/sanad adalah bagian dari agama, karena kalua bukan karena sanad maka setiap orang akan bisa berkata sekehendaknya.” (Taudhih al-Afkar li Ma’aniy Tanqiyh al-Anzhar, Muhammad ibn Ismail al-Shan’ani, Juz 2, Maktabah al-Salafiyah, hal 296, lihat juga dalam kitab Hidayah al-Sariy ila Dirasah al-Bukhoriy, Jus 2, hal. 275 dengan tambahan redaksi …..بل هو لازم للعلوم الدينية خاصة للحديث الشريف ).

Sanad ilmu menunjukkan pentingnya otoritas dalam ilmu al-Din. Lebih-lebih kita yang masih awam yang tidak memiliki kemampuan untuk menelaah suatu persoalan dalam ilmu ini, maka kehadiran ustaz untuk memberikan bimbingan merupakan keniscayaan. Kajian keilmuan secara sanad riwayah cukup penting, agar teks yang dikaji tidak ada tahrif atau penyelewengan teks baik berupa pemalsuan teks maupun kesalahan tulisan yang akan berimplikasi terhadap kesalahan makna dan arti teks yang tertulis. Demikian pula kajian keilmuan berlandaskan sanad dirayah juga penting, agar tidak terjadi kesalahan pemahaman dalam mengkaji suatu teks keilmuan dan selain itu tentunya materi keilmuan Islam juga hendaknya kontekstual dan membumi sehingga bisa memberikan solusi terhadap problematika kekinian ummat.

Di akhir renungan ini, Alhamdulillah Jumat malam kemarin (tanggal 24 Juli 2020, saya diundang menghadiri peresmian sekaligus pembukaan asrama dan tempat belajar pesantren Daar ummahat al-mukminin di kawasan Condet Batu Ampar Jakarta Timur yang diasuh oleh al-Habib Hamid bin Ja’far al-Qadri. Dan tausiyah yang disampaikan oleh al-habib Muhammad bin Soleh al-Attas dan al-Habib Alwi Abdullah al-Idrus (beliau berdua tuan guru dari Hadramaut, Yaman) ternyata juga menegaskan tentang urgensi sanad dalam keilmuan Islam.

Selamat dan sukses selalu ya Habibana al-Habib Hamid bin Ja’far al-Qadri beserta para habaib dan asatiz, dan semoga diberi kemudahan dalam mengasuh para santri. Amiiin.

Wallahu a’lam bi al-Showab.
Semoga Bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.