Peranan Ibu Nyai terhadap Pengembangan Pesantren

Islamina.id – Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat segolongan santri yang mengaji & memperdalam ilmu-ilmu agama secara kaffah khususnya, serta ilmu-ilmu lain secara umum kepada seorang kyai atau ibu nyai dalam beberapa waktu yang relatif lama di sebuah asrama tertentu.

Di dalam rukun pesantren ada 5 aspek yang harus terpenuhi untuk memenuhi kategori pesantren. Rukun pesantren itu adalah sebagai berikut : adanya seorang kyai atau ibu nyai, santri, asrama, masjid, dan pengajian kitab kuning.

Pada awalnya, pesantren-pesantren itu biasanya dipimpin oleh seorang kyai. Mereka sangat dihormati, disegani, bahkan dikagumi oleh para santrinya baik dari sisi keilmuannya, ibadahnya, atau sisi kharismatik lainnya sehingga para santri begitu patuh, taat, dan senantiasa mengharap limpahan ilmu dan doa dari sang kyai.

Namun, dewasa ini ada banyak pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang perempuan atau ibu Nyai dalam bahasa pesantren.

Latar belakang dan historisnya beragam. Ada yang disebabkan sang kyai sudah meninggal lalu kepemimipinan pesantren dilimpahkan kepada istrinya (ibu nyai).

Ada yang sang kyai dan istrinya sudah meninggal. Namun, semua anaknya perempuan sehingga mau tidak mau pada gilirannya kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh para “ning” sebutan untuk putri dari seorang kyai / ibu nyai, atau bahkan misalnya, seorang suami yang mengemban amanah untuk memimpin pesantren itu tidak mampu karena berbagai hal baik dari sisi keilmuan, kesehatan, atau hal lain yang justru mengambat perkembangan pesantren.

Sehingga pada akhirnya roda kepemimpinan itu kembali beralih kepada sang istri atau ibu nyai yang dianggap lebih mampu untuk melaksanakannya.

Sesungguhnya, siapapun yang memimpin di depan sebagai figur pesantren. Di balik itu semua ada pasangan yang juga begitu setia, mendampingi, memfasilitasi serta membantu pasangannya dalam mensukseskan program-program pesantren.

Pada saat itu, lumrahnya sang figur pesantren yang memimpin di depan adalah sang kyai. Sehingga dalam hal ini pasangan itu adalah sang istri kyai atau ibu nyai. Oleh karenanya, sejak awal sesungguhnya sang ibu nyai sudah memegang peranan penting dalam mensukseskan pesantren meski di balik kebesaran jubah sang kyai.

Karena sebagaimana kita tahu bahwa seorang kyai dan ibu nyai itu hidup bersama dalam sebuah bahtera rumah tangga. Sudah barang tentu, selain memikirkan pesantren dan para santrinya mereka juga tentunya memperhatikan kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, ekonomi keluarga, dan hal lain yang menjadi tanggung jawab bersama dalam peranan masing-masing menjalani bahtera kehidupan rumah tangga.

Pada prakteknya, biasanya keduanya membagi tugas di mana seorang suami (kyai) lebih fokus untuk memikirkan & mengerjakan hal-hal yang bersifat publik. Mengurus pesantren, diantaranya. Sementara sang istri (ibu nyai) lebih fokus mengerjakan hal-hal yang bersifat domestik. Seperti mengurus anak, memasak, menyapu, mencuci, dan lain sebagainya. 

Lebih dari itu, dewasa ini memang tidak sedikit pondok pesantren yang dipimpin oleh para ibu nyai. Terlepas dari berbagai latar belakang historis di atas.

Peran Bu Nyai

Maka dengan posisi tersebut seorang ibu nyai mengambil peran yang begitu sentral dengan permasalahan yang lebih kompleks dibanding saat sang kyai yang menempati posisi tersebut. Bagaimana tidak? Mereka yang sebelumnya hanya fokus mengerjakan hal-hal yang bersifat domestik.

Pada saat yang bersamaan, kini mereka juga harus menjalani peran yang biasanya dilakukan oleh sang kyai yakni memikirkan pesantren sekaligus mengerjakan segala hal yang bersifat publik lainnya.

Namun, hal itu tidak menjadikan seorang ibu nyai semakin terpuruk dan tidak berdaya justru mungkin malah sebaliknya. Mereka lebih cekatan, progresif, dan bahkan produktif. Mengapa demikian? karena mungkin mereka juga sejatinya sudah terbiasa memikul beban ganda (double garden) bahkan saat sang kyai masih ada.

Misal, seperti dengan menjadi istri sekaligus menjadi ibu nyai, menjadi ibu rumah tangga sekaligus mengajar para santri, mengurus anak sekaligus mengimami jamaah bagi pondok pesantren yang memiliki santri putri, dan beban ganda lain yang mungkin tidak disadari oleh publik atau bahkan sang ibu nyai sendiri.

Sehingga dengan demikian, mereka tidak terlalu kaget dengan posisi barunya sebagai pimpinan pesantren. Selain karena memang sudah terbiasa dan terlatih juga mungkin mereka yang biasanya dominan menggunakan perasaan kini juga harus pandai-pandai memutar otaknya dalam mengelola pesantren.

Oleh karena itu, pada akhirnya segala pertimbangan, kebijakan, atau keputusan dari seorang ibu nyai untuk pesantren itu sudah diproses matang-matang baik dari sisi emosional ataupun kerangka berpikir.           

Peranan terakhir yang paling penting dari seorang ibu nyai adalah bahwa dengan mereka menjadi pemimpin pesantren mereka mendorong para perempuan lain untuk tampil percaya diri dalam ruang publik, menyampaikan pandangan-pandangan berdasarkan pengalaman biologis perempuan sendiri yang jarang dipahami dan sering diabaikan oleh golongan laki-laki.

Pada saat yang bersamaan kehadiran mereka membantah sekaligus menjawab perdebatan dan keraguan kepemimpinan perempuan bahwa nyatanya perempuan juga mampu menjadi seorang pemimpin pesantren sebagaimana laki-laki.

Awanilah Amva
Latest posts by Awanilah Amva (see all)

Awanilah Amva

Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Cirebon

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.