Percepatan Revolusi Industri 4.0 di Masa Pandemi COVID-19

Di era Revolusi Industri 4.0 semua telah diupayakan untuk berganti kepada teknologi, yang terdengar begitu hebat karena akan mengubah masa depan dunia penuh dengan digitalisasi. Tetapi tak semudah itu, Revolusi 4.0 berhubungan erat dengan kapitalisme yang mana pemberlakuakn Revolusi ini bertujuan untuk memangkas tenaga kerja manusia menjadi mesin. Maka penting bagi kita untuk cepat dan tanggap dalam menyikapi perubahan yang tengah terjadi agar dapat beradaptasi dan tak tertinggal.

Mari perhatikan tantangan dan peluang yang ada. Sebagian dari kita akan mengira bahwa pengangguran di Indonesia semakin banyak karena lagi-lagi semua akan beralih kepada Artificial Intellegen (kecerdasan buatan). Tapi ternyata tidak sedangkal itu, siapa  sangka dibalik kemurungan para pekerja yang ketakukan akan memiliki status baru yakni ‘pengangguran’ menadikan hadirnya usaha-usaha baru serta lapangan pekerjaan yang mungkin tak dibayangkan seelumnya, seperti halnya menjadi seorang admin media social, kemudahan berjualan secara online diberbagai market place sampai kepada buzzer politik.

Menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 memang tidak mudah, masyarakat Indonesia perlu melek teknologi, tak bisa hanya mengandalkan pada satu aspek yang digeluti, semisal seorang Akuntan. Di era yang sudah berubah, seorang Akuntan tidak lagi cukup dengan memuat laporan keuangan, tetapi harus maju satu langkah kedepan yaitu dengan memuat aplikasi tentang accounting yang dapat digunakan oleh masyarakat luas. Karena semua ini dapat digantikan oleh mesin kecuali orang-orang yang memiliki pemikiran out of the box.

Begitu juga dalam Islam, tak seorang pun dapat menyangkal bahwa Allah telah menggambarkan teknologi di dalam al-Qur’an. Hal ini menyimpulkan Allah memberikan pembelajaran serta motivasi kepada umat manusia untuk bisa menguasai berbagai cabang ilmu. Seperti Firman Allah dalam surat Al-Anbiya Ayat 80-81 :

وَعَلَّمْنٰهُ صَنْعَةَ لَبُوْسٍ لَّكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِّنْۢ بَأْسِكُمْۚ فَهَلْ اَنْتُمْ شَاكِرُوْنَ

Dan Kami ajarkan (pula) kepada Dawud cara membuat baju besi untukmu, guna melindungi kamu dalam peperangan. Apakah kamu bersyukur (kepada Allah)?

وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ عَاصِفَةً تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖٓ اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عٰلِمِيْنَ

Dan (Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa adanya perkembangan teknologi dalam pembuatan baju besi yang di rancang khusus untuk para prajurit dalam peperangan, begitu pun dengan Nabi Sulaiman a.s. yang menunjukkan banyaknya peralatan canggih yang dikembangkan seperti kapal layar, kincir angin dan lainnya. Jelas sudah keterkaitan antara Islam dengan Revolusi Industri yang berbanding lurus dan tidak ada alasan bahwa umat manusia tidak melakukan inovasi baru terhadap dirinya sendiri.

Berbicara tentang teknologi, dunia masih dihantui oleh Covid-19 yang tak ada ujungnya hingga sampai saat ini. Tentu setiap masalah ada hikmah dibaliknya, Covid-19 yang telah menghantarkan manusia di dunia agar melek terhadap teknologi secara tidak langsung memberikan keuntungan bagi Revolusi Industri 4.0. Mengapa demikian ?

Seperti yang kita ketahui di masa pandemi, pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk tetap di rumah guna meminimalisir tingkat penyebaran Covid-19 atau biasa disebut dengan social distancing. Ini merupakan tindakan memperlebar jarak fisik antar orang. Saat ini menjaga jarak menjadi acuan yang paling ampuh dan tentunya aman untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19.

Perlakuan tersebut akan meminimalkan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kerumunan atau berkelompok. Dan yang terjadi adalah memaksa mereka untuk mengubah pola konsumsinya ke arah digitalisasi. Beberapa contoh tindakan social distancing menciptakan banyak perubahan, beberapa contohnya adalah bekerja dari rumah, belajar mengajar melalui daring, komunikasi menggunakan media elektronik dan menghindari kegiatan yang bersifat pertemuan fisik.

Beberapa perusahaan dari berbagai industri kemudian melakukan tindakan seperti work from home atau bekerja dari rumah dan lagi-lagi melakukan interaksi secara daring, maka hal ini membuat adaptasi terhadap teknologi digital semakin cepat. Tanpa direncanakan dibalik kekacauan yang terjadi di dunia akibat pandemic Covid-19, ternyata dapat diimbangi karena diuntungkan dengan adanya percepatan digitalisasi yang artinya bahwa covid-19 berbanding lurus dengan revolusi industri 4.0

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.