Pesan Wahyu Pertama: Umat Islam Dianjurkan Untuk Membaca - islamina.id

Pesan Wahyu Pertama: Umat Islam Dianjurkan Untuk Membaca

Tiada satu pun manusia yang terlahir ke Dunia ini dalam keadaan berilmu. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak mampu merespon permasalahan dirinya maupun orang lain kecuali dengan adanya proses belajar yang terus menerus, karena pada hakikatnya ilmu bisa didapatkan dengan cara belajar, bukan melalui wirid atau tiduran.

Belajar tidak harus di sekolahan, madrasah, kampus, pondok pesantren, melainkan dimana saja kita berada bisa mendapatkan ilmu yang kita inginkan.

Agama menganjurkan Umatnya untuk selalu belajar, menelaah, Hal ini sesuai Wahyu pertama yang turun kepada Nabi, yaitu perintah untuk membaca.

Seorang Mufassir asal Tunisia, Ibnu Asyur menjelaskan bahwa tujuan membaca yang telah dipraktekkan oleh nabi sebagai inspirasi, dan motivasi bagi umatnya untuk selalu membaca, menulis, dan berkecimpung dalam masalah ilmu.

Peradaban sebuah Bangsa menjadi besar dipengaruhi oleh adanya perkembangan ilmu pengetahuan, serta aplikasi yang nyata disegala lini kehidupan.

Namun dibalik itu semua ilmu tanpa di arahkan oleh Akhlak atau etika akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Realita di masyarakat saat ini, banyak orang pintar baik dari kalangan akademisi, maupun ahli agama yang tersangkut masalah Korupsi, Narkoba dan lain sebagainya mencoreng nama baiknya.

Hal ini senada apa yang dikatakan oleh Albert Einstein: Science without religion is lame, religion without science is blind, artinya ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta.

Untuk itu ilmu seharusnya menjadi penuntun kita dalam menghadapi apapun yang akan terjadi menyangkut urusan dunia maupun akhirat.

Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas menyatakan bahwa: Nabi Sulaiman pernah disuruh memilih antara 3 hal, pertama ilmu, kedua harta kekayaan, ketiga menjadi seorang raja, Nabi Sulaiman lantas memilih ilmu sebagai pilihannya maka Allah memberikan semua kepadanya, hal ini berkat ilmu sebagai modal untuk menggapai kekayaan, maupun jabatan yang ia inginkan.

Keistimewaan ilmu diantaranya menjaga bagi yang punya, berbeda dengan harta, kita malah menjadi penjaganya.

Belajar tidak ada batasan waktu maupun tempat, alasanya adalah untuk merespon masa depan dibutuhkan ketajaman analisa, serta membuka wawasan, membaca realita sehingga kita tidak ketinggalan dengan bangsa lain dalam keilmuan maupun bidang lain.

Pahala Orang Ahli Al Qur’an

Qur’an merupakan Kalamullah (Firman Allah) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril sebagai petunjuk umat manusia agar dapat membedakan kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan keburukan.

Orang yang mau memuliakan al-Qur’an dengan membaca, mempelajarinya, memahami isinya serta mengamalkan isinya berarti telah mengagungkan-Nya. Allah akan memberikan pahala dan keistimewaan di dunia dan akhirat. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim:

ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻰ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻬﺎ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ – اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗﺎﻝ: (اﻟﻤﺎﻫﺮ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻊ اﻟﺴﻔﺮﺓ اﻟﻜﺮاﻡ اﻟﺒﺮﺭﺓ ﻭاﻟﺬﻯ ﻳﻘﺮﺃﻩ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻴﻪ ﺷﺎﻕ ﻟﻪ ﺃﺟﺮاﻥ)

Artinya:

Diriwayatkan dari Siti Aisyah RA bahwasanya Rasulullah bersabda: “Orang yang mahir dalam Al-Quran akan dikumpulkan dengan para Malaikat yang mulia, dan orang yang hendak membaca sedangkan ia merasa berat melakukannya maka ia mendapatkan dua pahala. (HR. Imam al-BukhariBukhari dan Imam Muslim)

Menurut Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir menjelaskan bahwa orang yang pandai dalam Al-Quran baik melalui hafalannya, dan bagusnya bacaannya serta mampu mengamalkan isinya akan dikumpulkan dengan para Malaikat yang menjaga Lauhil Mahfudz yang mengirim Wahyu kepada para Nabi.

Ini merupakan keistimewaan yang hanya diberikan kepada orang yang benar-benar cinta kepada al-Qur’an dan mau mengamalkannya, maka sangat beruntung sekali orang yang Ahli dalam Al-Qur’an.

oleh: Moh Afif Sholeh, M.Ag.

Moh. Afif Sholeh, M.Ag

Seorang penggiat literasi dan penikmat kopi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.