Refleksi Idul Adha dan Kurban


Sebagaimana kita ketahui bahwa Idul Adha menjadi momentum religius bagi umat muslim setiap tahunnya. Kita semua dianjurkan merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban dari binatang ternak. Seperti domba, sapi atau sejenisnya, yang dilaksanakan selepas sholat Idul Adha sampai tiga hari setelahnya (ayyamut-tasyriq).
Ibadah kurban laksana napaktilas laku lampah Nabi Ibrahim as yang ketika itu diperintah menyembelih putera kesayangan, yaitu Nabi Ismail as. Kala itu Ismail masih bocah sedang lucu-lucunya. Diceritakan dalam al-Qur’an surah as-Shaffat yat 100:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٠٢

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Dalam tafsir Jalalain ayat tersebut diberikan penjelasan bahwa pada saat itu, nabi Ismail baru berusia tujuh tahun, ada juga yang mengatakan tiga belas tahun.

Namun demi kepatuhannya kepada Allah, apapun harus rela dipertaruhkan meskipun seorang putra dari darah dagingnya sendiri. Sebuah totalias kepatuhan yang harus diteladani, anak yang dicintai setelah sekian lama dinanti harus diikhlaskan atas permintaan Sang Pencipta.


Singkat cerita, tugas mulia itu dilakukan dengan patuh, sabar dan ikhlas. Sepontan ketika pisau hendak diiriskan ke leher Ismail, lalu Allah mengantinya dengan domba dari surga.
Kalau kita baca lebih jauh, rupanya, perintah kurban sudah ada jauh sebelum Nabi Ibrahim ada, yakni ketika Habil dan Qabil putera Nabi Adam as diperintah melaksanakan kurban. Lalu pelajaran apa yang dapat dipetik dari kisah monumental dan fenomenal tersebut?.
Pertama, dari sudut akar historisnya, merujuk pada pelaksanaan kurban sejak Nabi Adam, kurban adalah bentuk ibadah yang sama tuanya sejak manusia ini ada.
Kedua, digantikannya nabi Ismail pada saat itu dengan domba, seolah memberi jawaban tuntas sekaligs meluruskan kekeliruan pemikiran kurban berupa manusia yang kerap terjadi pada masa itu. Sebut saja di Mesir dikenal tradisi mengurbankan gadis tercantik untuk dewi sungai Nil, di Kanaan Iraq bayi-bayi dipersembahkan untuk dewa Ba’al. Di Meksiko suku Aztec mengorbankan jantung manusia untuk dewa Matahari. Di Eropa utara, orang-orang Viking yang tadinya mendiami skandinavia mengorbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada dewa perang “Odin”.
Jadi kehadiran Nabi Ibrahim yang diperkirakan hidup pada abad ke-18 sebelum masehi tersebut menjadi jawaban atas penolakan kurban berwujud manusia.
Ketiga, Allah sedemikian kasihnya terhadap manusia, sehingga kurban dalam bentuk mansuia tidaklah diperkenankan. Manusia hidup tidak untuk dikurbankan tetapi untuk dimuliakan, karena manusia diciptakan untuk mengabdi dan melestarikan isi bumi.


Darah dan daging yang teralir pada saat penyembelihan kurban bukan untuk Allah Yang Maha Suci. Oleh sebab itu, sebagaimana firman Allah:


لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ – ٣٧

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik,” (QS. Al-Hajj, 37)

Karena Allah tidak butuh persembahan darah segar, wanita cantik, bayi mungil atau jantung manusia. Justru Dia-lah sang pemberi nikmat. Dan hanya ketakwaan manusia yang mendapat penghargaan dari Allah.


Adapun Implikasi terpenting dari ibadah kurban adalah menyembelih sifat-sifat hewani manusia. Tidak melakukan perbuatan keji yang bisa merugikan sesama manusia atau mengeksploitasi makhluk lain. Jika demikian, melalui kurban yang pro-sosial itu, rasa kasih sayang kita kepada sesama sedang ditagih secara konkret, dimana keuntungannya tidak hanya kepada penerima tetapi berpengaruh positif terhadap kejiwaan si pemberi. Karenanya harus dikembangkan, kita lestraikan dan harus disuarakan dengan lantang dimanapun kita berada

Khoirul Anwar Afa

Khoirul Anwar Afa

Penulis adalah Dosen Fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.