Senyuman Buaya: Waspada Laten Radikal dan Teroris

Andaikata Mr. Syarifuddin Prawiranegara mau bisa saja dia mengambil kekuasaan pada masa lebih kurang tujuh bulan (207 hari). Tapi tidak, karena dia memahami betul bagaimana komitmen tokoh bangsa dalam menjalankan tujuan negara dan Empat Pilar Kebangsaan dan itu final.

“Jadi Pak Syaf adalah presiden yang menggantikan Bung Karno? Tidak persis begitu. Secara tugas memang iya, tetapi saya lebih suka menyebutnya sebagai Ketua PDRI, bukan Presiden PDRI,” Presiden Prawiranegara: Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia. Bela Negara dalam dimensi loyalitas kepada pemimpin dihadirkan Mr Syaf ketika itu (19 Desember 1948 – 13 Juli 1949).

Kisah senada ketika Bung Hatta membaik pasca stroke dan berkeliling Eropa dan Amerika untuk berceramah, ketika ditanya tentang Soekarno dia pun menjawab.

“Dalam banyak hal saya tidak setuju dengan Bung Karno. Tetapi ia Presiden Republik Indonesia, negeri yang kemerdekaannya saya perjuangkan selama bertahun-tahun. Benar atau salah, ia presiden saya,” Otobiografi Mohammad Hatta.

Pemikiran para tokoh bangsa saat itu yang tahu betul bagaimana beratnya pengorbanan dalam mendirikan negara untuk sejajar dengan bangsa lain, diantaranya sejarah Revolusi Industri (1750 – 1850) dan Revolusi Perancis (1789 – 1799) banyak mempengaruhi pemikiran dan peta politik sosial dunia termasuk para tokoh bangsa. Hingga konsensus tokoh bangsa disepakati pada 18 Agustus 1945. Konsensus itu dalam perspektif Cinta Tanah Air bersendi Empat Pilar Kebangsaan menjadi hal yang mulai tergerus di kaum milenial saat ini. Peluang inilah dimanfaatkan para kelompok anti Empat Pilar Kebangsaan dalam membangun paradigma buruk untuk menantang dan sekaligus membangun idiologi baru seolah para tokoh bangsa adalah rendah pengetahuannya.

Apakah tokoh kelompok yang anti tersebut lebih cerdas dengan Bung Hatta? Lebih piawai dari Mr Syarifuddin Prawiranegara? Lebih alim dan bijak dari ulama-ulama besar pencinta Empat Pilar Kebangsaan yang tergabung dalam PPKI? Ini yang mesti disampaikan kepada kaum milenial saat ini untuk merobohkan paham aneh yang telah dan akan ditanam tokoh penentang itu kepada generasi penerus bangsa.

Baca juga: HUT RI ke-75: Mengisi Kemerdekaan dengan Nilai-Nilai Ilahiyah

Sudah menjelang 76 Tahun bangsa ini merdeka dan sudah hampir sejajar dengan bangsa lain. Salah besar apabila ada sekumpulan kelompok yang sepertinya terus mencoba membangkitkan pemikiran paradigma radikal dan teroris yang ujungnya adalah memberontak. Sejarah sudah mencatatkan berpuluh pemberontakan dapat ditumpas karena rakyat juga tidak mendukung. Rakyat tahu persis mana emas dan mana imitasi.

Tak juga jera, paradigma baru dikemas dengan simbol tertentu dan cara tertentu. Lagi-lagi rakyat tahu mana berlian mana kaca. Alhasil, paradigma itupun selesai dipangkas habis dengan dukungan semesta.

Memang, sulit menerka sekumpulan Buaya sedang menganga, apakah ia sedang tersenyum atau bersiap memangsa. Tentu, kita tak boleh lengah karena peluang baru dengan simbol baru mengatasnamakan kelas sosial boleh jadi akan dibangun yang targetnya adalah pertentangan antar kelas yang dihembuskan dalam perspektif ketidakadilan perlakuan. Para pemimpin bangsa mesti peka akan hal ini sebagai game changer yang akan dilakukan kelompok penentang Empat Pilar Kebangsaan.

Langkah taktis dan strategis pemerintah dalam menangkal game changer ini adalah dengan melakukan pemetaan dan mengeksekusi pemetaan dalam implementasi pemerataan perlakuan proporsional kepada semua kelompok dalam birokrasi, politik, sosial dan budaya.

Seperti pembentukan Gugus Tugas Pemuka Agama yang dibesut BNPT RI merupakan langkah cerdas menuju pemerataan perlakuan dalam membentuk input lingkungan (environmental input) yang selanjutnya akan berlanjut pada input alat (instrumental input) dan input masukan (raw input) sebagai usaha hasil akhir prestasi dan kualitas generasi bangsa ke depan untuk mengenal diri, lingkungan, negara dengan baik sebagai jati diri sesuai Empat Pilar Kebangsaan.

Langkah ini diyakini akan mampu menekan dan mengkerdilkan fase ke lima terbangunnya paham yang keluar dari batas negara. Karena bangsa ini sudah berpengalaman dan terlatih dalam menghempangnya sejak masa sebelum kemerdekaan, orde lama, orde baru, orde reformasi dan paska reformasi. Walau demikian perlu merawat aktif tombol kewaspadaan dini pada aspek laten. Waspada laten adalah tugas tak mudah dan tak pernah berakhir. Mari Bersama Menangkal Paham Radikal dan Teroris, Salam Bela Negara, Jangan Pernah Letih Mencintai Indonesia.

Penulis: HM Affan Rangkuti
Editor: Syahril Mubarok

Baca juga: Kisah Kelam Kekerasan dan Teror dalam Sejarah Agama Samawi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.