Siswi Non-Muslim Pakai Jilbab VS Muslimah Lepas Jilbab

Lagi dan lagi, bentuk intoleransi datang dari dunia pendidikan. Kali ini dari SMK Negeri 2 Padang. Ada siswi Non-Muslim mengikuti aturan untuk memakai jilbab yang mana aturan tersebut mencederai keberagaman. Namun, sebagai umat Islam, kita harus juga melihat balik ketika Muslimah mulai melepaskan jilbab atau hijabnya.

Seakan tidak ada habisnya, bentuk atau sikap intoleransi terhadap sesama masyarakat di Indonesia. Kasus di SMKN 2 Padang beberapa hari yang lalu menjadi bukti. Bukti bahwa sikap dan ideologi kaku atas perbedaan sangat mengganggu identitas bangsa.

Kasus yang terjadi di SMKN 2 Padang, seorang siswi Non-Muslim diprotes oleh gurunya disebabkan ia tidak memakai jilbab. Hal ini menyita perhatian sang orang tua siswi dan publik. Atas kejadian itu, publik menyayangkan dan memberikan perspektif bahwa sekolah atau lembaga pendidikan harusnya menjadi contoh. Contoh atau acuan untuk mengajarkan hormat terhadap keyakinan masing-masing.

Kejadian ini memang akan terus terulang jika tidak ada upaya dari pemerintah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Nadiem Makarim sangat menyesal dan segera melakukan upaya agar intoleransi dalam dunia pendidikan tidak terulang bahkan hilang. Ada beberapa poin dari Nadiem untuk segera merealisasikan lembaga dibawah naungannya yaitu:

  1. Menekan angka intoleransi
  2. Meminta PEMDA memberikan sanksi yang tegas terhadap pihak terkait
  3. Aturan seragam harus hormati keyakinan murid
  4. Menyiapkan hotline pengaduan

Menyoal Pakai Jilbab dan Lepas Jilbab

Kasus di SMKN 2 Padang adalah gambaran bahwa Indonesia ini masih belum merdeka secara substantif. Merdeka secara substantif yakni menghargai keyakinan masing-masing warganya. Dalam kasus lain yang tak bisa luput dari perhatian kita adalah lingkup profesi dan perusahaan. Banyak artis, tokoh, atau karyawati yang melepas jilbab dan tidak menerima perempuan berjilbab.

Sempat heboh, banyak artis, tokoh, atau influencer Muslimah melepaskan jilbab atau hijab mereka. Ada Rachel Vennya, Rina Nose, Marshanda, dan masih banyak yang lain sempat berjilbab, tetapi akhirnya mereka lepas jilbab. Dan itupun mengundang berbagai polemik Muslim di Indonesia.

Kasus lain juga adalah masih banyak perusahaan yang tidak menerima karyawati berjilbab. Ini juga perlu kita kritisi. Karena perusahaan tidak boleh membatasi keyakinan seseorang. Perusahaan harus membuka diri atau menerima jika tidak mau dianggap ‘perusahaan amatir’.

Banyak yang kecewa dan juga banyak yang mendukung. Persoalan Muslimah memakai atau tidak memakai jilbab adalah ranah yang tidak bisa dipaksa. Mereka pribadi punya keyakinan dan prinsip masing-masing. Kebiasaan buruk masyarakat Indonesia adalah mudah mengomentari apa yang tidak dan kurang diketahui atas permasalahan tersebut.

Lebih lanjutnya lagi, Muslim Indonesia kurang pemahaman moderasi beragama. Moderasi beragama perlu untuk memberi edukasi hak-hak seseorang. Untuk itu, jadilah Muslim yang cerdas dan progresif.

Syahril Mubarok

Netflix dan Kopi Hitam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.