Tasawuf Sebagai Jalan Bahagia (1)

Ahlussunah wal Jama’ah yang kita anut ini adalah faham keislaman yang dianut mayoritas muslim dunia, termasuk masyarakat Nusantara. Aswaja dalam bentuk yang kita saksikan bersama ini adalah kelanjutan tradisi cara berfikir dan berpraktek yang telah dijalani kaum muslimin dari generasi ke generasi.

Islam adalah agama moderat (proposional), sehingga Ahlussunah wal Jamaah sebagai duta utama Islam tentu berkarakter moderat, dan sebagai agama penuh rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil’alamin), Islam menuntun penganutnya agar bisa senantiasa bersikap proposional atau moderat terhadap siapapun dan apapun. Dalam hal ini, Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) memerankan sebagai penengah, dan pengemban amanah kerahmatan alam. Sehingga di antara praktik bersikap moderat itu adalah tidak melakukan sikap berlebihan atau mudah merespon segala sesuatu dengan sikap negatif destruktif.

Sebagaimana dinyatakan dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, agama ini mengandung tiga unsur utama, yaitu iman (akidah), Islam (fikih) dan ihsan (tasawuf). Masing-masing unsur ini ketika berdialektika dengan konteks dan zaman melahirkan peradaban ilmu yang berkembang pesat dan dalam, yang terlembagakan dalam mazhab (pijakan ajaran). Masyarakat muslim di Nusantara.

Sejak dahulu hingga kini dikenal mengikuti tiga mazhab, yaitu dalam fikih mengikuti salah satu empat mazhab fikih, terutama Imam Syafi’i (w. 204 H). Dalam aqidah mengikuti Mazhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari (w. 324 H) dan Imam Abu Manshur al-Maturidy (w. 333 H). Dalam tasawuf mengikuti Mazhab Imam Junaid al-Baghdadi (w. 297 H), Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H), dan yang searah. Penulis dalam hal ini menyorot tentang tasawuf.

Dilabeli, disadari ataukah tidak, masing-masing umat Islam sedang dan menuju tasawuf sebagai jalan memperbaiki diri. Karena itu tasawuf tak mengenal usia, tua muda bisa asyik menjumpakan diri dengan-Nya. Para santri muda di pesantren misalnya, jamak diketahui bahwa mereka sedang mempraktikkan jalan bertasawuf. Di Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang Jawa Timur, bukan pemandangan yang aneh ketika melihat para santri muda berduyun-duyun mengikuti pengajian dan praktik ibadah masyarakat sekitar, dan tanpa canggung berbaur dengan para sepuh.

Di kampus Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto Jawa Timur, para mahasiswa yang dalam usia muda itu menata hati dengan cara mengaji kitab al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah kepada salah seorang dosen. Semula dengan sedikit peserta, berikutnya bertambah dan bertambah. Pak Ustaz mengaji memakai tablet yang di dalamnya ada pdf al-Hikam. Bahkan ditemani kopi, rokok dan gitar. Peserta ada yang membawa kitab, dan ada pula yang cukup membawa HP. Benar-benar kekinian, dan bukti bahwa tasawuf itu untuk semua kalangan.

Tak cukup hanya dengan mengaji, selepasnya, anak-anak muda dari strata satu dan paska ini masih terus mengitari dan berdialog dengan Pak Ustaz yang seorang dosen agama. Ulasan-ulasan mutiara tasawuf itu didekati dan disinergikan dengan filsafat. Kegelisahan para muda itu diwadahi dan diselami pak dosen dengan bijak. Dan dengan mengikuti pengajian tasawuf itu, sebenarnya anak-anak muda itu merindukan kebahagiaan rohani.

Demikianlah, sebenarnya tak kenal tua muda, manusia memang menghajatkan kebahagiaan, dan dengan tasawuf manusia diharapkan berbahagia dalam hidupnya, dengan cara manusia berusaha memperbaiki kualitas dirinya terus menerus. Untuk meraih kebahagiaan dihajatkan akhlak mulia dengan menyeimbangkan dan memoderasi potensi kemanusiaan. Akhlak mulia itu adalah empat potensi daya utama. Ada empat induk keutamaan, yaitu kebijaksanaan (hikmah), keberanian (syaja’ah), pemeliharaan diri (‘iffah), dan keseimbangan (‘adalah).

Bersambung

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.