Entah secara kebetulan atau tidak, tapi yang jelas ada tiga buah musholla di Kalibata dan bertetanggaan RW nya. Bila saya tarik garis dan mencoba membuat benang merahnya, in syaa Allah kita bisa mengambil I’tibar dari ketiga nama musholla tersebut. Musholla pertama yang dekat dengan rumah mertua, namanya “Shallah al-Ummah“, yang terletak di RW 04.
Lalu bila kita ke arah utara akan ketemu musholla Al-Shalihin yang terletak di komplek Pomad/Paspampres di RW 06. Ke arah utara lagi dan bersebelahan dengan komplek Pomad/Paspampres, maka akan ketemu musholla Sa’adah al-Ummah, musholla wakaf dari kakek buyut saya, semoga jadi amal jariyah beliau dan orang-orang yang membantu mendirikannya. Amiin.
Untuk menuju Sa’adah al-Ummah (kebahagiaan ummat), kita harus membangun kekuatan di semua sektor kehidupan, memperkokoh kesatuan, persatuan, keamanan dan kedamaian. Benih-benih yang disinyalir akan mengganggu keamanan, perdamaian dan persatuan mau tidak mau harus diantisipasi sedini mungkin. Karena setuju tidak setuju, robohnya persatuan dan kedamaian itu akan membuat ummat terpecah, timbul ketidakamanan, konflik horisontal yang akhirnya berujung pada hancurnya peradaban ummat. Dan kondisi seperti ini pasti jauh dari “sa’adah al-ummah“.
Upaya-upaya memperkokoh kesatuan, persatuan dan proses mewujudkan kedamaian sehingga bisa menuju sa’adah al-ummah itulah yang tersirat dari nama musholla Shallah al-ummah (Perdamaian/Kedamaian ummat).
Shallah al-ummah itu akan efektif bila sejak awal kita kita mulai menanamkan nilai-nilai rahmat dan kedamaian dalam setiap individu warga bangsa. Dalam konteks renungan subuh, penanaman nilai-nilai ajaran Islam yang rahmah dan cinta damai dari sejak dini dan berkelanjutan mutlak diperlukan.Karena memang ajaran islam itu adalah rahmah dan damai, mengajarkan kesantunan, tidak emosional, ramah, serta jauh dari permusuhan, dendam dan kebencian. Dalam satu hadits dijelaskan tentang orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut diharamkan baginya neraka.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟, قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ, قَالَ: ” كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ قَرِيبٍ سَهْلٍ
“Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram baginya tersentuh api neraka?” Para sahabat bertanya, “Mau, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab: “Orang yang Hayyin (tidak mudah marah), Layyin (santun dan baik tutur katanya), Qarib (ramah), Sahl (memudahkan urusan orang, bukan mempersulit).” (HR. At-Tirmidzi & Ibnu Hibban).
Mengaca pada sejarah, bagaimana hebat dan luar biasanya sikap dan akhlak Rasul SAW saat fath al-Makkah. Ketika mengalami kemenangan dan ada sahabat yang mengatakan; “Hadza al-Yaum Yaum Malhamah, ini hari, hari pertumpahan darah( hari balas dendam).” Dan hal tersebut bisa saja dilakukan Rasul SAW, beliau hanya tinggal memberikan komando untuk menghabiskan orang-orang kafir Quraisy. Tapi tidak demikian, beliau pribadi yang nihil sifat dendam, full sifat rahmah dan damai. Beliau justru mengatakan yang sebaliknya sebagaimana yang beliau ucapkan kepada Abu Sufyan saat mengkonfirmasi hal tersebut:
يا ابا سفيان اليوم يوم المرحمة, اليوم يعز الله قريشا
“Ya Aba Sufyan, ini hari, hari kasih sayang, hari dimana Allah memuliakan Quraisy.” (Fath al-Bari bi Syarh Shohih al-Bukhori, Juz 7, cetakan tahun 2001, penerbiit al-Amir Sulthan ‘Abd al-‘Aziz Ali Sa’ud hadits no 4.280, hal. 601; lihat juga kitab al-Siyrah al-Nabawiyah, Abu al-Hasan Ali al-Hasani al-Nadwiy, cetakan ke 9, Darr al-Syuruq, 1989, 238 dengan tambahan redaksi:
بل اليوم يوم المرحمة, اليوم يعز الله قريشا, ويعظم الله الكعبة
Mereka yang bisa mengimplementasikan nilai-nilai tersebut di atas—meski tidak sesempurna Rasulullah SAW— itulah yang sejatinya disebut orang soleh, yang bentuk jamak atau pluralnya adalah shalihin. Dan inilah nama musholla yang kedua yang berada di komplek POMAD/Paspampres Kalibata, Musholla al-Shalihin.