Halal Tourism atau Moslem Friendly Tourism?

islamina.id — Wisata merupakan suatu kegiatan bepergian yang sudah menjadi budaya oleh masyarakat, khususnya Muslim Indonesia. Tawaran dari berbagai penyedia atau destinasi pariwisata, membuat Muslim sangat ingin mengunjunginya karena faktor pemandangan alam yang bagus, melihat budaya setempat, dan mengunjungi destinasi wisata buatan. Indonesia dengan penduduk mayoritas Muslim, menjadi peluang bagus bagi perekonomian di sektor pariwisata.

Penulis pribadi memang menaruh perhatian tersendiri kepada tema pariwisata ini. Ada dua hal yang menjadi bahan perbincangan oleh Muslim Indonesia, Wisata Halal (Halal Tourism) dan Wisata Ramah Muslim (Moslem Friendly). Pemerintah Indonesia sejak tahun 2015 giat menggarap Wisata Halal bersamaan dengan diraihnya penghargaan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dari The World Halal Summit di Abu Dhabi.

Beberapa definisi wisata halal yakni kegiatan dalam pariwisata yang ‘diizinkan atau dibolehkan’ menurut ajaran Islam (Battour dan Ismail, 2016). Kemudian suplai produk dan service pariwisata yang melengkapi kebutuhan wisatawan Muslim sesuai ajaran Islam (Mohsin, 2016). Atau menawarkan paket wisata dan tujuan yang khusus untuk memenuhi pertimbangan dan kebutuhan Muslim (Halbase, 2015).

Wisata halal menjadi selling point pemerintah Indonesia. Karena sadar potensi wisatawan mancanegara Muslim yang semakin naik dari tahun ke tahun. Di sisi lain juga, wisata halal menjadikan pelaku industri ataupun regulator pariwisata terikat dengan ketentuan halal atau syariah.

Sedangkan wisata ramah Muslim tidak sepopuler dengan wisata halal. Padahal sejak lama pariwisata di Indonesia yang sudah banyak menerapkan prinsip-prinsip Islam. Contohnya fasilitas pada destinasi wisata terdapat makanan halal, Masjid atau Mushalla, penunjuk kiblat, tempat wudhu, dan ketersediaan Alquran.

Dalam artikel Crescentrating.com yang menjadi acuan “Halal Travel” se-dunia, masih simpang siur terkait definisi wisata halal dengan wisata ramah Muslim. Crescentrating membagi dua makna wisata ramah Muslim yaitu berdasarkan tujuan dan berdasarkan fasilitas atau pelayanan. Sedangkan Di Thailand, Singapura, Malaysia, Korea selatan, Jepang, Taiwan, dan China adalah negara -negara yang secara progresif mengembangkan pariwisata yang ramah terhadap wisatawan Muslim.

Terkait dua penyebutan Halal Tourism dan Moslem Friendly Tourism, Muslim Indonesia sudah memiliki prinsip Islam yang kuat. Muslim Indonesia yang moderat tahu akan kecocokan destinasi wisata yang akan dikunjunginya. Tidak masalah sebutan mana yang pas, karena hal yang terpenting dalam berwisata adalah sambil ber-tadabbur, dan menjaga kemaslahatan diri serta umat Islam.

Syahril Mubarok

Netflix dan Kopi Hitam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.