Soleh secara bahasa bermakna pantas, baik, bagus dan sesuai dan juga bermakna kemanfaatan. Dari makna ini berarti perbuatan yang pantas, baik serta membawa kemanfaatan dinamakan saleh. Jadi orang saleh itu perbuatannya tidak merusak dan membawa kemadharatan, tapi mendatangkan hal-hal yang baik dan mendatangkan kemanfaatan baik bagi dirinya maupun orang lain. Dengan kualitas seperti ini, orang soleh akan menjadi harapan dan teladan bagi lingkungannya. Dengan demikian untuk menuju Sa’adah al-Ummah —nama mushollah setelah al-Shalihin— kita butuh pribadi-pribadi yang soleh, dimana pribad-pribadi yang soleh ini menebarkan kesalehannya di tengah keluarga, dan dari keluarga yang soleh ini in syaa Allah terbangun masyarakat yang soleh yang tentunya akan berrmuara pada ummat yang bahagia (Sa’adah al-Ummah: kebahagiaan ummat). Ada pepatah bahasa Arab — saya mendapatkan ungkapan ini pertama kali di bukunya almarhum Prof.Dr. KH. Muhamamad Adnan hanya entah kemana buku kecil tersebut— yang bisa kita jadikan i’tibar:
إصلاح الأمة لايبدأ بإصلاح الأسرة فهو عقيم و إصلاح الأسرة لا يبدأ بأصلاح الفرد فهو عقيم
“Perubahan/reformasi ummat akan sia-sia bila tidak dimulai dari reformasi keluarga, dan reformasi keluarga juga akan sia-sia bila tidak dimulai dari masing—masing individu (angggota keluarga)”.
Dengan demikian bila ingin memperbaiki/membereskan ummat, hendaknya dimulai dari memperbaiki masing-masing individu. Dan inilah yang Rasulullah SAW lakukan. Beliau melakukan pembinaan kepada para sahabat al-sabiquna al-awwalun (para sahabat yang mula-mula masuk Islam), lalu mereka menebarkan dakwah dan nilai-nilai Islam ini ke keluarga mereka yang akhirnya mengikuti dakwah Rasul SAW dan seterusnya sehingga terbentuklah masyarakat ‘Khair al-Ummah”. Sebagaimana disebut dalam al-Qur-an:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (Q.S Ali Imran: 110).
Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengutip beberapa perkataan diantaranya:
ورواه أحمد في مسنده ، والنسائي في سننه ، والحاكم في مستدركه ، من حديث سماك ,عن سعيد عن بن جبير عن ابن عباس في قوله (كنتم خير أمة أخرجت للناس) قال : هم الذين هاجروا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم من مكة إلى المدينة والصحيح أن هذه الآية عامة في جميع الأمة ، كل قرن بحسبه ، وخير قرونهم الذين بعث فيهم رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونهم .
“Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya, Imam al-Nasa’i dalam kitab Sunannya, dan Imam Hakim dalam kitab Mustadraknya, meriwayatkan melalui hadits Sammak dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas RA terkait firman Alla SWT: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” Beliau mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang hijrah bersama Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah. Pendapat yang benar mengatakan bahwa ayat ini mengandung makna umum mencakup semua umat ini dalam setiap generasinya, dan sebaik-baik generasi mereka adalah orang-orang yang Rasulillah SAW diutus di kalangan mereka, kemudian orang-orang yang sesudah mereka, kemudian yang sesudah mereka.”
Wallahu a’lam bi al-Shawab.
Semoga Bermanfaat