Apalagi, seluruh amal ibadah, sholat, puasa, zakat dan haji itu tidak kembali kepada Allah, tetapi kembali baik pahala maupun manfaatnya kepada pelakunya, yakni kita sendiri. Allah akan tetap menjadi Allah sekalipun tidak ada satupun manusia yang menyembahkan. Tidak akan mengurangi. Kebesaran Allah tidak akan berkurang sekalipun tidak ada orang yang menyembahnya. Karena Allah tidak bergatung dan tergantung kepada amal ibadah yang dilakukan oleh manusia. Dalam kerangka inilah, benar firman Allah bahwa al-Qur’an itu merupakan petunjuk dan pedoman bagi segenap manusia, bukan pedoman bagi Allah.
Keempat, sebagai konsekuensi dari ketiga sifat di atas, semakin hari, kita semakin menjadi umat yang mudah tersinggung. Seketika kita langsung marah kepada kesalahan orang lain, baik kesalahan dalam bertutur kata, kesalahan dalam bersikap dan bertindak. Kita umbar kesalahan orang lain agar semua orang tahu bahwa si fulan itu telah melakukan kesalahan besar. Sementara kita selalu menyembunyikan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Kita tutupi kesalahan yang kita lakukan dengan cara menuduh orang lain melakukan kesalahan.
Di sisi lain, kita jarang tersinggung terhadap firman-firman Allah yang ada dalam al-Qur’an. Al-Qur’an yang kita baca seringkali untuk menilai orang lain, bukan menilai diri sendiri. Ini berbeda dengan para sahabat Nabi. Para sahabat nabi ketika membaca al-Qur’an merasa tersinggung, karena sikap dan pikirannya masih belum sesuai dengan apa yang digariskan oleh Allah. Alih-alih untuk menilai dan menghakimi orang lain, para sahabat nabi seringkali meneteskan air mata ketika membaca ayat-ayat Allah.
Keempat fakta-fakta tersebut disebabkan karena adanya anggapan dari sebagian umat Islam bahwa syariat Islam hanya persoalan fikih, yang berbicara halal, haram, mubah, sunnah. Kita kurang perhatian aspek adab atau akhlak dan tasawuf yang lebih banyak menilai diri sendiri ketimbang menghakimi orang lain.
Terkait dengan adab ini, Imam Ibnu Qosim memberikan contoh yang baik. Imam Ibnu Qosim ini merupakan murid dari Imam Malik yang lahir 79 tahun setelah nabi Muhammad wafat. Ibnu Qosim ini mondok di pesantrennya Imam Malik selama 20 tahun. Kata Ibnu Qosim dalam kitab Tanbih al-Mughtarrin, “Aku telah mengabdi kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. Dari masa itu, 18 tahun aku belajar adab sedangkan sisanya 2 tahun untuk belajar ilmu”.
Bahkan, salah satu tujuan terpenting diutusnya Nabi adalah memperbaiki akhlak.
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
Tentu saja, akhlak di sini bukan sekedar akhlak kepada sesama manusia, tetapi juga akhlak kepada Allah dan akhlak kepada alam semesta. Secara fikih, seorang laki-laki boleh melakukan sholat sekalipun tidak menggunakan baju, karena pusar ke atas bukan menjadi aurat lelaki. Tetapi, hal itu tidak menunjukkan akhlak yang baik dalam beribadah.
Ketika kita belajar tasawuf, kita akan lebih sibuk mengurusi iman, tauhid dan ibadah kita sendiri ketimbang tauhid dan ibadah orang lain. Tasawuf bukan sekedar mengejar apakah ibadah yang kita lakukan memenuhi syarat dan rukunnya, tetapi bagaimana kita mendekat kepada Allah, baik pada saat melaksanakan ibadah mahdhah maupun ketika tidak melakukan ibadah mahdhah. Karena seringkali badan kita melakukan sholat, tetapi hati kita tidak sholat. Badan kita sujud, tapi hati kita memikirkan hal lain.