Kita perlu mengambil pelajaran penting dari kedua peristiwa tersebut. Bahwa, sebagai ideologi, terorisme dan komunisme menempuh cara menghalalkan segala cara, termasuk membunuh manusia, untuk merealisasikan dan mencapai tujuannya. Ini tentu tidak boleh. Tak boleh ada ideologi yang menghalalkan penumpasan darah manusia.
Lalu bagaimana caranya agar kedua dosa masa lalu itu tidak terulang kembali. Pertama-tama kita perlu mengkaji apa yang menjadi penyebab dari peristiwa tersebut. Dalam konteks terorisme, maka yang pertama-tama yang harus dicegah adalah pencegahan tersebarnya ideologi radikalisme, karena terorisme menurut sejumlah teori merupakan rangkaian lanjutan dari ideologi radikalisme. Kesamaan radikalisme dan terorisme ini terletak pada penolakan terhadap perbedaan. Semua manusia, menurut keduanya, harus sama seperti mereka. Yang berbeda atau di luar keduanya, dianggap sesat dan salah. Perbedaannya, radikalisme tidak mewujud pada tindakan nyata sementara terorisme langsung melakukan kekerasan.
Kemudian, bangsa Indonesia perlu memperkuat nilai dan tradisi bangsa Indonesia yang sejak dulu terkenal ramah dan menerima perbedaan. Kebinekaan yang ada di Indonesia bukan baru saja terjadi, tetapi telah berlangsung berabad-abad lamanya. Hidup dalam kebinekaan ini memberikan pengalaman dan kebijaksanaan bagi bangsa Indonesia. Salah satunya adalah adanya sejumlah tradisi yang merawat dan menjaga hidup rukun dalam kebinekaan. Tradisi-tradisi tersebut kiranya perlu terus dirawat, terutama oleh generasi muda agar kompetensi kebinekaan bangsa Indonesia ini tetap terawat sehingga Indonesia terhindar dari konflik dan perang saudara. [Hatim Gazali]