Beberapa tahun yang lalu, saya pernah membaca sebuah artikel tentang orang saleh. Dimana penulisnya membagi orang saleh secara sosiologis. Pertama, saleh yang merupakan nama seseorang. Tapi sayangnya nama tersebut hanya sekedar nama pada dirinya, namun sikap dan perbuatannya tidak menunjukkan ciri-ciri kesalehan. Namanya saja “saleh” tapi akhlaknya justru berbalik seratus delapan puluh derajat dengan namanya. Ia tidak taat beribadah, sering bermaksiat dan atau melakukan perbuatan yang mendatangkan kemadharatan bagi lingkungannya. Jadi sikap dan perbuatannya adalah sikap dan perbuatan orang yang “tholeh”.
Oh iya dalam Bahasa Arab, makna kata tholeh.( طالح ) kebalikan/antonim dari kata saleh ( صالح ). Makanya hati-hati kalau berdoa, jangan sampai tertukar antara kata saleh dengan tholeh…he he.
Sama juga dengan kata ni’mah (نعمة) dan niqmah (نقمة). Dua kata ini juga memiliki makna berseberangan. Untuk itulah yang membaca Solawat Badar harus hati-hati juga, jangan sampai tertukar. Karena saya pernah menghadiri acara satu peringatan hari besar agama Islam, mendengar orang-orang mengucapkannya keliru, pakai ‘AIN padahal yang benar pakai QOF pada kata niqmah ( نقمة). Kalimat yang benar : “Ilahiy sallim al-ummah min al-afati wa al-Niqmah ( اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلا ُمـَّة مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَةَ )” bukan: “ilahiy sallim al-ummah min al-afati wa al-ni’mah ( إلهِـى سَـلِّـمِ اْلا ُمـَّة مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـعْـمَةَ )”.
Kedua, Saleh dalam arti julukan yang diberikan kepada seseorang yang hanya asyik dengan dirinya sendiri dalam beribadah kepada Allah. Hablun minallah-nya bagus, tapi di sisi lain hubungan dengan sesamanya (hablun minannas-nya) tidak bagus. Sholat dan ibadah puasanya rajin luar biasa, tapi kepedulian pada sesama, akhlak dalam pergaulan tidak berbanding lurus dengan sholat dan ibadah puasanya. Haji dan umroh mungkin lebih dari sekali atau dua kali, tapi bakhil dan kikirnya demikian melekat pada dirinya. Orang seperti ini mungkin masih dikatakan saleh meski hanya saleh individual dan belum masuk dalam kategori orang saleh yang ideal. Tapi saleh individual ini masih jauh lebih baik dibanding saleh pertama yang hanya sekedar nama seseorang.
Sedangkan saleh yang ketiga adalah saleh yang menggambarkan sosok yang hubungan vertikalnya dengan Allah sangat bagus dan hubungan horizontalnya denga sesama juga oke punya. Bila pada saleh yang kedua biasa kita kenal dengan saleh individual yang tidak berimbas kemanfaatannya pada lingkungan sekitar, maka pada saleh yang ketiga ada imbas kemanfaatannya pada lingkungan sekitar. Saleh yang ketiga ini sejalan dengan hadits Nabi SAW yang berbunyi “khoir al-Nas anfa’uhum li al-nas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Untuk melakukan gerakan perubahan umat ke arah kebaikan menuju Sa’adah al-ummah, yang kita perlukan adalah orang-orang saleh yang ketiga ini. Merekalah yang sangat bisa diharapkan untuk menjadi agen perubahan. Dan orang saleh yang seperti inilah yang digambarkan dalam al-Quran surat ali Imran ayat 114:
يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”[Ali-Imran:114]
Dari ayat di atas kriteria yang paling asasi dari orang saleh adalah keimanan. Kriteria inilah yang akan membedakan nilai amal seseorang. Bisa saja seseorang melakukan amal yang baik dan bermanfaat buat orang banyak tapi sejatinya belum disebut amal saleh karena pelakunya tidak beriman. Mungkin secara bahasa kebaikan yang dilakukannya bisa disebut saleh, tapi tidak dalam pengertian saleh secara teologis. Artinya perbuatan saleh yang dilakukannya tersebut hanya berdampak di dunia tapi tidak di akhirat karena tidak mendatangkan kemanfaatan bagi pelakunya di akhirat.