[ Ini adalah pidato Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj pada acara sidang tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Senin-Kamis, 4-5 November 2019, di Bumi Silih Asuh Keuskupan Bandung, Jalan Moch. Ramdan, Regol, Bandung, Jawa Barat ]
Pertemuan Paus Fransiskus dan Imam Besar al-Azhar, Syeikh Ahmed Al-Tayeb, pada 4 Februari 2019 yang melahirkan Perjanjian Abu Dhabi memberikan harapan baru tentang hubungan Islam dan agama lain, khususnya Katolik. Sehingga, dengan Perjanjian dua tokoh agama penting tersebut, saya berharap, akan memberikan dampak positif terhadap hubungan Islam dan Katolik di Indonesia. Dalam konteks inilah, forum ini, Hari-Hari Studi Para Uskup Seluruh Indonesia memiliki peran strategis dalam membangun kerjasama dan kolaborasi untuk membangun Indonesia yang berperadaban, berkeadilan dan menjadi rumah bersama yang damai dan penuh cinta kasih.
Bapak/ibu para tokoh agama yang saya hormati
Jika kita membaca Perjanjian Abu Dhabi tersebut, ada beberapa pokok pikiran yang penting saya sampaikan kembali pada forum ini. Pertama, tujuan utama dari agama-agama itu adalah untuk hidup bersama dengan damai, menghargai kemanusiaan, dan menghidupkan kembali kebijaksanaan, keadilan, dan cinta kasih. Ini sangat sesuai dengan semangat dan nilai-nilai Islam. Bahwa tujuan dari Islam itu adalah menjadi rahmat, bukan menjadi laknat atau malapetaka, bagi segenap alam semesta ( rahmatan lil alamin ). Allah berfirman surat al-Anbiya ayat 107:
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107).
Nabi Muhammad pun memberikan keteladanan bagaimana ia menjadi rahmat, bukan hanya kepada sesama muslim, tetapi juga kepada non-Muslim, bahkan kepada orang-orang yang memusuhinya. Contohnya, di dekat pintu kota Madinah, ada pengemis tua yang beragama Yahudi. Setiap harinya, ia menghina dan memfitnah nabi Muhammad, dengan mengatakan “Jangan pernah engkau dekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir”. Apa yang dilakukan Nabi Muhammad terhadap pengemis Yahudi itu? Tentu nabi tidak mengusirnya, tidak merespon dengan cara-cara kekerasan. Sebaliknya, nabi Muhammad dengan penuh cinta kasih, memberikan makan dan bahkan menyuapinya setiap hari sampai di penghujung hayat nabi Muhammad. Sikap kasih sayang nabi itulah yang menjadikan orang Yahudi tersebut masuk Islam.
Begitu pun dengan Islam di Indonesia. Apa yang dilakukan Walisongo dan para kiai-kiai pesantren adalah memberikan keteladanan bahwa menjadi Muslim itu harus memberikan rasa damai kepada sesama manusia, karena pada prinsipnya kita semua bersaudara, sebagai anak cucu adam. Karena itulah, Islam menjunjung tinggi ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). Sebagai salah satu bukti bagaimana Islam menjunjung tinggi persaudaraan sesama manusia adalah larangan untuk menghina kelompok yang berbeda, larangan untuk mengolok-olok agama orang lain.
Dalam surat al-Hujurat ayat 11, Allah berfirman:
يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.
Allah berfirman dalam surat al-An’am ayat 108:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.
Dalam haji terakhir (haji Wada’) nabi dalam khutbahnya menyampaikan komitmen bahwa setiap manusia, sekalipun berasal dari etnis dan agama yang berbeda, dalam lingkup kehidupan berbangsa dan bernegara, adalah setara. Nabi bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاُس، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلاَ لأَحْمَرَ عَلىَ أَسْوَدَ، وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى
Ingatlah bahwa Rabb kalian itu satu, dan bapak kalian juga satu. Dan ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ajam (non-Arab), tidak pula orang ajam atas orang Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah; kecuali atas dasar ketakwaan
Bapak/ibu para tokoh agama yang saya hormati
Pesan kedua dari Perjanjian Abu Dhabi adalah bahwa budaya toleransi, penerimaan terhadap kelompok lain, dan kehidupan bersama dengan damai akan membantu mengatasi pelbagai masalah ekonomi, sosial, politik dan lingkungan.
Kita semua perlu menyadari bahwa persoalan yang dihadapi Indonesia sangatlah kompleks dan tidak ringan. Sejumlah pakar mengatakan bahwa pada tahun 2045, Indonesia akan menjadi negara yang kuat secara ekonomi, bahkan masuk 10 besar kekuatan ekonomi dunia. Pandangan yang optimis itu salah satunya berangkat dari potensi bonus demografi, di mana pada tahun tersebut, yakni 2045, sekitar 70 persen populasi Indonesia merupakan penduduk usia produktif.