Begitu pula dalam memahami al-Qur’an misalnya, bagaimana seseorang akan benar dalam memahaminya bila tanpa dibimbing ustaz. Sebab lafadz al-Qur’an ada yang bersifat metafora dan kinayah, ada yang musytarok (dalam Bahasa Indonesia disebut polisemi, yaitu satu lafazh yang memiliki makna yang banyak, seperti lafazh quru’ yang bisa berarti suci dan haidh) dan murodif (dalam Bahasa Indonesia disebut sinonim yaitu banyak lafazh tetapi memiliki arti yang mirip atau sama, seperti lafazh al-syukh dan al-bukhl, al-khauf dan al-khosyah) serta sifat al-Qur’an yang mujmal atau global. Sehingga perlu rincian dan penjelasan untuk menemukan hakikat makna sesungguhnya. Ini baru dari sisi memahami makna al-Qur’an, belum kepada cara membacanya yang juga butuh bimbingan ustaz sehingga tidak salah membaca. Demikian pula untuk cabang-cabang ilmu yang lain seperti ilmu fiqh, hadits dan lain-lain yang tentu membutuhkan bimbingan ustaz dalam memahaminya.
Namun yang perlu difahami juga, dalam belajar agama bukan hanya sekedar dibimbing oleh ustaz—tapi untuk kehati-hatian agar tidak terjerumus kepada pemahaman yang salah dan keliru—, kita juga hendaknya memperhatikan sanad keilmuan yang dimiliki ustaz tersebut karena sanad adalah bagian dari agama sebagaimana dikatakan oleh Imam Abdullah ibn al-Mubarok:
الإسناد من الدين , لو لا الإسناد لقال من شاء بما شاء
“isnad/sanad adalah bagian dari agama, karena kalua bukan karena sanad maka setiap orang akan bisa berkata sekehendaknya.” (Taudhih al-Afkar li Ma’aniy Tanqiyh al-Anzhar, Muhammad ibn Ismail al-Shan’ani, Juz 2, Maktabah al-Salafiyah, hal 296, lihat juga dalam kitab Hidayah al-Sariy ila Dirasah al-Bukhoriy, Jus 2, hal. 275 dengan tambahan redaksi …..بل هو لازم للعلوم الدينية خاصة للحديث الشريف ).
Sanad ilmu menunjukkan pentingnya otoritas dalam ilmu al-Din. Lebih-lebih kita yang masih awam yang tidak memiliki kemampuan untuk menelaah suatu persoalan dalam ilmu ini, maka kehadiran ustaz untuk memberikan bimbingan merupakan keniscayaan. Kajian keilmuan secara sanad riwayah cukup penting, agar teks yang dikaji tidak ada tahrif atau penyelewengan teks baik berupa pemalsuan teks maupun kesalahan tulisan yang akan berimplikasi terhadap kesalahan makna dan arti teks yang tertulis. Demikian pula kajian keilmuan berlandaskan sanad dirayah juga penting, agar tidak terjadi kesalahan pemahaman dalam mengkaji suatu teks keilmuan dan selain itu tentunya materi keilmuan Islam juga hendaknya kontekstual dan membumi sehingga bisa memberikan solusi terhadap problematika kekinian ummat.
Di akhir renungan ini, Alhamdulillah Jumat malam kemarin (tanggal 24 Juli 2020, saya diundang menghadiri peresmian sekaligus pembukaan asrama dan tempat belajar pesantren Daar ummahat al-mukminin di kawasan Condet Batu Ampar Jakarta Timur yang diasuh oleh al-Habib Hamid bin Ja’far al-Qadri. Dan tausiyah yang disampaikan oleh al-habib Muhammad bin Soleh al-Attas dan al-Habib Alwi Abdullah al-Idrus (beliau berdua tuan guru dari Hadramaut, Yaman) ternyata juga menegaskan tentang urgensi sanad dalam keilmuan Islam.
Selamat dan sukses selalu ya Habibana al-Habib Hamid bin Ja’far al-Qadri beserta para habaib dan asatiz, dan semoga diberi kemudahan dalam mengasuh para santri. Amiiin.
Wallahu a’lam bi al-Showab.
Semoga Bermanfaat.