Syaikh Sya’rowiy dalam tafsirnya— saat menafsirkan surat al-anbiya’ ayat 105 — menyebutnya sebagai saleh duniawi, yaitu saleh yang tidak dibangun di atas fondasi keimanan. Bila seorang saleh melakukan pebuatan yang bermanfaat dan dilakukan atas dasar keimanan, inilah yang dikatakan oleh Syaikh Sya’rowi sebagai saleh ukhrowi (lihat Tafsir Sya’rowiy, cetakan Daar akhbar al-Yaum, 1991, hal. 9667-9674). Jadi ada batas pemisah yang jelas antara kedua saleh ini, yaitu keimanan sebagaimana yang disebut dalam surat Ali Imron ayat 114 ini.
Dengan batasan keimanan di atas maka saleh ukhrowi hanya bisa dimiliki seorang muslim. Dan ini bukan berarti saleh ukhrowi menafikan kemanfaatan amal seorang muslim di dunia. Oleh karenanya, bisa jadi seorang muslim dan non muslim sama-sama melakukan perbuatan baik, misalnya membantu orang yang kelaparan akibat covid 19. Bagi seorang muslim perbuatan baiknya tersebut jelas dirasakan manfaatnya di dunia, namun di sisi lain juga, memiliki nilai ukhrowiyah. Mengapa ? Karena dorongan ia melakukan kebaikan tersebut disamping faktor keimanan yang mendorongnya beramal dengan ikhlas, bisa jadi ia juga di dorong oleh akal sehatnya, nilai-nilai moral dan etika yang ada di masyarakatnya. Begitulah faktor-faktor saleh ukhrowi. Berbeda dengan yang non muslim yang tidak ada faktor keimanan, tapi hanya didorong oleh akal sehatnya, nilai-nilai moral dan etika.
Selain yang tersebut di atas, seorang muslim juga sadar bahwa dirinya akan diminta pertangggungjawaban dalam setiap amal perbuatannya maka ia pun selalu berupaya untuk melakukan kebaikan-kebaikan, walau sekecil apapun serta melakukan amar makruf nahi munkar. Karena seorang muslim juga sangat ingin bila nantinya di akhirat berkumpul dengan hamba-hamba Allah yang mendapatkan anugerah kenikmatan berupa surga dan berkumpul dengan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan orang-orang saleh, sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nisa ayat 69:
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا
“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka akan ditempatkan bersama dengan orang-orang yang Allah anugerahi nikmat, yaitu para Nabi, para shiddīqīn, para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka adalah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa: 69).
جعلنا الله واياكم من الصالحين….آمين
Wallahu a’lam bi al-Showab.
Semoga Bermanfaat.