Ikhlas

Ikhlas adalah sikap, perbuatan atau tindakan dengan mengacu kepada akar katanya (kh-l-sh), Ikhlas bermakna ‘bersih’, ‘jernih’, tidak bercampur dengan sesuatu yang lain’. Dalam bahasa Indonesia, biasa disamakan artinya dengan ‘tulus’ atau ‘tanpa pamrih’. Jadi Ikhlas itu adalah sikap atau perbuatan yang dilakukan tanpa pamrih, tanpa berharap memperoleh balasan atau imbalan; entah dalam bentuk materi, atau penghargaan dan sebagainya.

Biasanya perbuatan atau tindakan ikhlas itu, spontan, tidak direncanakan sebelumnya. Tak ada ruang analisis atau pertimbangan untung rugi yang dipikir bolak-balik. Mungkin karena ikhlas itu lebih banyak bertumpu pada hati. Kalau dalam bahasa agama, ikhlas di maknai sebagai perbuatan yg dilakukan semata-mata karena Allah; semata-mata hanya mengharap ridlo Allah SWT. Jadi tidak atau bahkan tidak boleh dikatakan, hanya dilakukan atau dilakoni saja. Ada ungkapan yang menggambarkan ikhlas itu dengan bagus, yakni tidak boleh sama sekali tersentuh dengan lidah atau tidak boleh terucapkan.

Dengan makna seperti itu, ikhlas menjadi unik. Begitu dikatakan “saya ikhlas’ maka maknanya menjadi hilang. Bahkan sesungguhnya, karena memang lebih banyak bertumpu pada hati, begitu dikatakan maka orang mungkin sudah terjebak dalam apa yg disebut penyakit hati, yg mengakibatkan munculnya sikap yang aneh-aneh. Bisa terjebak ‘ujub (bangga) dengan segala macam atribut dan akseoris yang melekat pada diri sendiri; lalu pamer dan takjub dengan diri sendiri.

Pakaian atau asseoris mungkin memang bagus dan mewah tetapi kelihatan aneh, karena waktu atau tempat tidak sesuai dan riya selalu mengunggulkan atau memuji diri sendiri; ‘sayalah yg berjasa’, atau ‘kalau bukan saya, maka (kamu, dia, situasi) tidak akan begitu’); pokoknya orang lain itu tidak ada, yang ada hanyalah dirinya; padahal mana ada pekerjaan yg bisa dilakukan sendirian. Ujub dan riya menurut Sa’id Hawwa dalam bukunya Tazkiyatun Nafs, mengeksplorasi pikiran, Imam al Ghazali dalam Ihya Ulumudin, adalah salah dua dari sejumlah penyakit hati; di antaranya tidak pandai bersyukur, munafiq tidak konsiten, meyimpang, mengada-ada, sombong, pelit dan seterusnya.

Apa yang disebut penyakit hati itu, ketika dibicarakan, memang bisa di pilah-pilah, diurai sendiri-sendiri tetapi sesungguhnya dempet, melekat satu sama lain. Di balik ujub, ada riya, ada sombong, ada dengki, pelit, serakah dan seterusnya. Di balik riya ada ujub, dengki, serakah, dan seterusnya. Di ujungnya adalah menipu, bahkan diri sendiri. Kalau ada yang satu, yang lain juga hampir pasti ada.

Kalau mengacu ke al Qur’an, surah al Baqarah ayat 10-20, (lekat pada kelompok orang yg disebut munafiq, yang mempunyai daya rusak sangat besar di muka bumi) penyakit hati itu mempunyai kecendrungan bertambah terus menerus. Penyakit hati itu seperti merambat, semakin lama semakin meluas dan membesar, memenuhi hati, pikiran dan pada akhirnya jiwa.

Baca juga :

Orang seperti itu, yang di dalam hatinya ada penyakit yang terus menerus bertambah, pada akhirnya, tidak bisa lagi mendengarkan. Punya telinga, tetapi tidak bisa mendengarkan, punya mata, tetapi pandangannya gelap; segala aturan, etika bisa ditabrak begitu saja; jika kepentingannya terganggu. Maka sikap dan tindakannya pun menjadi semakin aneh, mungkin sebenarnya tidak normal. Daya rusaknya pun semakin besar. Entah di mana nanti tempatnya orang seperti itu. Maka tampaknya perlu selalu memeriksa diri agar bisa terhindar atau bebas dari penyakit hati ini; sebelum merusak diri sendiri dan orang lain atau masyarakat.

Tiba-tiba mengingat dosen saya dulu, Prof. Thariq Syihab, Allah yarhamh (ahli perbandingan agama), di Fakultas Ushuludin, IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN). Salah satu dosen favorit, selain keilmuannya yang cukup mendalam sepertinya menjadi  encyclopedia berjalan karena sikap dan penampilannya yang keren tinggi besar, necis, dengan dasi kupu-kupu yang selalu bertengger di leher; dengan gaya ngomongnya yang khas betawi banget.

Suatu ketika (kalau tidak salah bulan puasa), dia menjadi kesal di kelas mungkin karena merasa sudah menjelaskan, bolak-balik, detail, masih ada saja tidak paham tentang  tema yang diajarkan. Maka ketika seorang mahasiswa bertanya kembali apa yang sudah dijelaskan, beliau spontan berkata, sambil berkacak pinggang : ‘hei Jabrik .. itu yang nempel di kepale .. telinge ape tanduk !’ Maka kelas pun meledak, riuh, penuh derai ketawa dari mahasiswa yang tidak seberapa jumlahnya. Dia sendiri, akhirnya terkekeh.

Prof. Tharik Syihab, tidak secara spesifik bicara tentang ikhlas dan penyakit hati. Beliau tampaknya kesal, sehingga tidak bisa membedakan antara tanduk dan telinga ketika telinga dianggapnya tidak lagi berfungsi dengan baik, entahlah.

Bintaro, Juni 2020 .

Latest posts by Helmi Ali Yafie (see all)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.