Kiat Hidup Barokah

Seorang sahabat setelah membaca renungan tentang “ Hidup Barokah Bukan Tanpa Masalah” mengirimkan chat ke saya: “ Masalah ada justru untuk membuktikan hidup kita barokah. Saya belum paham nih ustaz…maksudnya apa?”

Baca juga: Hidup Barokah Bukan Tanpa Masalah

Membaca chat tersebut, saya senyum. Tidak sedikit memang para sahabat yang memberikan komentar tentang renungan subuh. Tapi tidak semunya dalam bentuk pertanyaan atau mohon penjelasan lebih lanjut. Terkait dengan chat di atas, saya mencoba mengupasnya pada renungan subuh kali ini. Meski telat renungan subuhnya— dan ini juga masalah tersendiri buat saya he he—tapi in syaa Allah barokah. Amiin

Masalah yang ada dalam kehidupan kita sesungguhnya itu adalah ujian buat kita, apakah kita bisa menanganinya atau tidak. Ketika kita mampu menanganinya muncul perasaan bahagia dan ada kenikmatan tersendiri saat masalah kita terselesaikan. Perasaan bahagia dan kenikmatan yang ada itulah yang namanya barokah. Bukankah yang namanya barokah tidak melulu bersifat materi, bahkan tidak jarang barokah itu justru bersifat immateri. Perasaan bahagia, senang atau membuat kita lebih baik dan juga membawa kebaikan buat oran lain, itulah barokah.

Dalam satu hadits, sahabat Anas bin Malik RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)

Dari hadits di atas, bukti kecintaan Allah pada suatu kaum atau hamba-Nya adalah dengan diberikannya ujian dan ujian itu sendiri adalah masalah. Bila dengan ujian/masalah tersebut kita tidak berpaling pada-Nya tapi semakin dekat dan taat kepada-Nya sehingga kita dicintai Allah itulah barokah. Dan tidak ada barokah yang paling besar bagi seorang hamba melainkan barokah yang berupa kecintaan Allah kepadanya. Subhanallah…ketika Allah sudah cinta kepada kita, in syaa Allah yang ada pada diri kita kebaikan-kebaikan yang kemudian kebaikan-kebaikan tersebut teraktualisasikan dalam kehidupan kita dan dirasakan oleh yang lain. Namun saat masalah atau ujian justru membuat stress dan membuat seseorang semakin jauh dari Allah SWT itulah indikasi hidupnya tidak barokah.

Masalah atau ujian tidak melulu berupa musibah, tapi ia juga bisa merupakan nikmat. Maksud saya dengan mengatakan nikmat itu adalah musibah adalah karena dalam pandangan lahiriah kita, kita pandang itu sebagai sebuah kenikmatan tapi sesungguhnya itu adalah musibah. Itulah yang di awal-awal tulisan renungan subuh, saya katakan bahwa nikmat—dengan huruf ‘AIN— bila tidak pandai mensyukurinya dan membuat semakin jauh dari Allah— maka akan menjadi niqmat—dengan huruf QOF— yang berarti bala’/musibah.

Sebagai misal, ada seseorang yang secara keilmuan bisa dikatakan pakar dalam bidangnya dan bahkan ilmunya senantiasa bertambah. Namun, sayangnya, ilmu yang dimilikinya tersebut bukan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah tapi justru sebaliknya, membuat dia semakin jauh dari Allah SWT. Orang yang demikian meski secara lahiriah kelihatan mendapatkan anugerah dan nikmat berupa ilmu, namun pada hakikatnya yang didapatkan adalah musibah. Inilah yang disinyalir dalam kitab Ihya ‘ulumiddin bab Kitab al-‘ilmi dengan mengutip sebuah hadits:

مَنْ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا

Artinya: “Barang siapa ilmunya bertambah, namun tidak dibarengi dengan bertambahnya petunjuk (ketakwaan), maka ia semakin jauh dari Allah.”

Lalu bagaimana agar hidup kita barokah ? Dalam kitab al-Barokah fi Fadhl al-Sa’y wa al-Harokah Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdirrahman bin Umar, menjelaskan beberapa kiat agar keberkahan menghampiri kita—ada 40 kiat yang disebutkan dalam kitab tersebut— antara lain:

  1. Bertaqwa kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya.
  2. Memperbanyak istighfar.
  3. Mendirikan Solat dengan khusyu’ dan membiasakannya dengan berjamaah.
  4. Mendirikan Solat Dhuha.
  5. Setelah solat Magrib menunggu Isya dan diisi dengan berzikir dan membaca al-Qur-an.
  6. mendirikan solat witir, solat Sunnah fajar dan solat malam.
  7. Bersungguh-sungguh dalam ketaatan.
  8. Bersedekah.
  9. Bersilaturrahim dan berbakti kepada orang tua.
  10. Membiasakan diri dalam keadaan berwudhu.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.