Kiat Meraih Surga Bersama Keluarga: Hak Diberikan Nama Baik

Judul ini memang sengaja agar kita semua merenung akan harmonisnya keluarga. Untuk itu pembahasan ini saya mulai dari pasca kelahiran anak, tidak dari sebelum kelahiran. Yakni terkait memberikan nama yang baik kepada anak.

Kalau kita merujuk beberapa kitab dan buku terkait hak-hak anak ini tidak sedikit yang mengupas dari sebelum kelahiran, seperti kitab Tarbiyatul awlad fi al-Islam– yang disusun oleh Asy-Syaikh Dr. Abdullah Nashih Ulwan dan kitab Tarbiyatu ath-Thifli: Huquq ath-Thifli Fi Syari’at al-Islam yang disusun oleh Syaikh Ra’fat Farid as-Sulaim.

Berikut langkah-langkah yang hendaknya perlu diperhatikan dan dilakukan kita selaku orang tua dalam upaya dan ikhtiar menjadikan anak-anak qurrata a’yun dan saleh:

Hak untuk diberikan nama yang baik

Nama dalam Bahasa Arab, disebut ISMUN ( اسم). Kata ismun ini menurut pakar Bahasa Arab berasal dari kata “sama ( سما)”, yang berarti “ارتفاع” yaitu tinggi atau “ wasm ( وسم )” yang berarti tanda. Secara filosofis, hal ini mengajarkan kepada kita bahwa karena nama itu sesuatu yang tinggi dan merupakan tanda (pengenal) maka hendaknya nama yang merupakan tanda pengenal yang kita berikan kepada anak kita itu mengandung makna yang meninggikan, memuliakan dia, bukan merendahkan dan menghinakan. Dari sini kita memahami kenapa Rasululllah SAW memerintahkan kita untuk memberikan anak-anak kita dengan nama yang baik.

اِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوْا أَسْمَاءَكُمْ

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, hendaklah kalian memperbagus nama kalian.” (HR. Abu Darda’).

Demikian pentingnya arti sebuah nama, Rasulullah SAW dalam suatu riwayat pernah mengganti identitas seseorang:
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

ﺃَﻥَّ ﺍﺑْﻨَﺔً ﻟِﻌُﻤَﺮَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻬَﺎ ﻋَﺎﺻِﻴَﺔُ ﻓَﺴَﻤَّﺎﻫَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺟَﻤِﻴﻠَﺔَ

“Salah satu putri Umar bin Khattab ada yang diberi nama Ashiyah (wanita pembangkang). Kemudian diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Jamilah.” [HR. Ahmad dan Muslim]

Selain hadits di atas bila kita perhatikan ternyata wahyu yang pertama kali turun kepada Rasulullah SAW juga terkait dengan nama ‘Iqra BISMI ROBBIKA al-Ladzi Kholaq.’ Demikian pula ayat pertama yang tertulis dalam al-Qur-an juga berkaitan dengan nama, ‘Bismillah‘. Bahkan bukan sekedar nama tapi identitas yang maha agung, yaitu lafz al-Jalalah. Dan lafz al-jaljalah ini pula yang pertama kali dianjurkan bagi kita untuk memperdengarkannya di telinga anak kita saat baru dilahirkan melalui azan dan iqomat. Sebagaimana riwayat Abu Daud dan Tirmizi bahwa Abu Rafi’ berkata:

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أذن في أذن الحسن بن علي حين ولدته فاطمة

“Aku melihat Rasulullah SAW mengumandangkan azan pada telinga al-Hasan bin Ali, ketika Fatimah melahirkannya.”

Dari Ibnu Abbas R.A. :

أن النبي صلى الله عليه وسلم أذن في أذن الحسن بن علي يوم ولد , واقام في أذنه اليسرى

“Bahwa Nabi SAW telah mengumandangkan azan pada telinga al-Hasan bin Ali (yang sebelah kanan) ketika ia baru dilahirkan dan mengumandangkan iqomat pada teinga kirinya.”

Adapun hikmahnya menurut imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah sebagaimana dikutip dalam kitab Tarbiyyatu al-awlad fi al-Islam karya Syaikh Dr. Abdullah Nashih Ulwan adalah “agar suara yang kali pertama diterima pendengaran manusia adalah kalimat-kalimat seruan yang maha tinggi yang mengandung keagungan Tuhan, juga syahadat sebagai kalimat pertama masuk Islam. Hal itu merupakan talqin baginya tentang syariat Islam ketika anak memasuki dunia, sebagaimana halnya kalimat tauhid di-talqin-kan kepadanya ketika meninggal dunia. Dan tidak mustahil biila pengaruh azan itu akan meresap di dalam hatinya, walaupun ia tidak merasa.” ( penerbit Dar- al-Salam, 2013, hal.60).

Langkah-langkah berikutnya, in syaa Allah kita lanjutkan pada renungan subuh esok hari.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.