Mengenal Istilah Penting Seputar Khalifah dan Khilafah

Islamina.id – Kata khalifah merupakan bentuk nomina singular yang bermakna “orang yang menggantikan lainnya atau setelahnya.” Kata ini dikatakan oleh Al-Qur’an dengan bentuk jamak dan konteks yang berbeda, dan dengan beragam bentuk serta maknanya yang berbeda terulang sebanyak 127 kali. Hanya saja, tidak terdapat kata khilafah di dalam Al-Qur’an. 

Kata Khalifah yang bermakna pemimpin, di dalam Al-Qur’an disampaikan dengan bentuk plural khulafa’, dan khalâif, seperti yang terdapat di dalam surah al-An’am ayat 165. Berntuk jamak yang pertama bermakna pemimpin untuk suatu wilayah atau umat. Sedangkan bentuk pluralnya yang kedua bermakna pemimpin untuk diri sendiri maupun lainnya. 

Baca juga: Penjelasan Istilah Dârul Islam dan Dâr as-Salâm yang Jarang Diketahui

Kata tersebut berasal dari akar kata khalafa, yakhlufu, khalfan. Yang bermakna mengganti, berlawanan, belakang, dll. Atau kata yang berasal dari huruf kha’, lam, fa’ memiliki tiga makna dasar. Pertama, datangnya sesuatu setelah sesuatu yang lainnya datang lalu memimpinnya. Kedua, pengganti yang terdahulu. Ketiga, perubahan atau suksesi. 

Ketiga makna tersebut menjadi benang merah dari semua derivasi kata khalafa. Itu artinya, konteks kata khalifah dimaksudkan untuk mengganti, baik mengganti generasi maupun menggantikan kepemimpinan. Seperti yang terjadi dalam surah Maryam 59, Al-A’raf 169, dan ayat 142.

Jadi, jika diulas secara bahasa, konteks khalifah, yang bentuk jamaknya khalâif, makna yang dikehendaki adalah manusia sebagai pemimpin, paling tidak untuk dirinya sendiri. Sedangkan jika dikatakan dengan bentuk jamak khulafa’ adalah pemimpin untuk suatu wilayah atau untuk umat. Sebagaimana yang disebutkan dalam surah Sad ayat 26. “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu sebagai pemimpin di bumi.”

Pengertian Khalifah secara Istilah

 Secara istilah, ar-Raghib al-Asfahani memberikan keterangan terkait dengan makna menggantikan. Menurutnya, menggantikan dalam konteks khalifah berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, baik bersama yang digantikan maupun dengan yang sesudahnya. Terkait dengan tugas utamanya, para mufasir seperti al-Alusi, al-Qurtuhubi, dan Al-Maraghi memberikan ulasan terhadap konteks khalifah Nabi Adam dalam surah Al-Baqarah ayat 30 adalah sebagai pemimpin untuk memakmurkan bumi.

 Definisi tersebut juga bisa disamakan dengan beragam makna khalifah yang ada di dalam Al-Qur’an. Paling tidak ada tiga makna utama. Pertama, khalifah sebagai Nabi, seperti terdapat dalam surah Sad ayat 26. Kedua, khalifah sebagai pengganti yang telah lampau, seperti yang terdapat di dalam surah al-Baqarah 30. Ketiga, khalifah sebagai penghuni, seperti yang terdapat di dalam surah Al-A’raf ayat 129.

Pengertian Khalifah dalam Kitab Klasik

Dalam kitab-kitab berbahasa Arab, kata khalifah digunakan dalam pembahasan tentang kepemimpinan. Misalnya, dalam kitab Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, karya Al-Mawardi, kata khalifah identik merujuk pada kepemimpinan para sahabat dan digunakan untuk mendukung wajibnya mengangkat pemimpin yang disebut dengan khilafah, (Al-Mawardi, 8-12). Padahal, dalam kitab-kitab sejarah seperti Tarikh at-Thabari, kata khalifah hanya merujuk pada empat sahabat pengganti Nabi. Sedangkan khalifah dalam konteks khilafah, hanya digunakan untuk menyebut sistem pemerintahan pada masa lampau.

Khoirul Anwar Afa

Khoirul Anwar Afa

Penulis adalah Dosen Fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.