Ketika Nabi Muhammad SAW sampai di Madinah, aksi pertama Nabi dalam menghimpun ummah adalah mendirikan masjid sederhana. Masjid yang didirikan Nabi tidak sekadar sebagai tempat ibadah, melainkan juga menjadi tempat yang mempersatukan umat Islam yang terdiri dari berbagai suku (kabilah). Selain itu, Nabi juga mempersaudarakan setiap Muhajirin dan Anshar, sehingga semakin menciptakan hubungan yang harmonis atas landasan ikatan agama. Untuk hubungan dengan non-Muslim, Nabi menjamin kebebasan beragama non-Muslim (kaum Yahudi dari Bani Nadir dan Quraizah).
Jika sebelumnya masyarakat Arab dengan fanatisme kabilah memiliki riwayat peperangan antar kabilah yang panjang, pada peradaban Islam era Rasulullah semua Muslim (bahkan dengan non-Muslim) hidup rukun dalam cinta kasih. Kehadiran Muhammad sebagai rasul telah mengubah wajah tanah Arab yang angker, banyak pertumpahan darah, menjadi tempat yang lebih damai.
Persoalan keadaan perempuan yang sebelumnya tidak punya status kemerdekaan diri, maka emansipasi perempuan merupakan satu tujuan utama dalam diri Nabi SAW. Ia jelas memperjuangkan kemerdekaan perempuan. Tidak seperti pada masyarakat Arab pra-Islam, di mana banyak perempuan yang statusnya hanya seperti barang dagangan di pasar, pada masa Rasulullah, sebagaimana dijelaskan Karen Amstrong bahwa: “The women of the first ummah in Medina took full part in its public life… (para perempuan dari generasi ummah pertama di Madinah mengambil (mendapat) bagian penuh dalam kehidupan publiknya).” Berkat perjuangan Nabi, perempuan menjadi manusia merdeka yang mendapatkan hak kehidupan lebih baik.
Mengenai pembunuhan bayi (perempuan) yang menjadi kebiasaan beberapa suku pada masyarakat Arab pra-Islam, pada masa Rasulullah telah ditinggal. Firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar.” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 31).
Selain itu, pada masyarakat Arab pra-Islam kemajuan ekonomi belum dilandasi semangat kejujuran, keadilan, dan kemanusiaan, yang mana banyak dimonopoli oleh kelompok tertentu, sehingga malah memunculkan kesenjangan ekonomi yang tinggi. Pada masa Rasulullah, sebagaimana dijelaskan M. Abdul Karim dalam Ekonomi Islam: Sejarah Kebijakan pada Masa Awal Islam, bahwa ekonomi Islam dibangun berlandaskan komitmen yang tinggi terhadap etika dan norma serta perhatian utamanya dicurahkan untuk keadilan dan pemerataan kesejahteraan.
Semangat peradaban yang dibangun oleh Nabi tidak individualistik, namun adalah semangat ummah, yang dalam ekonomi Islam tergambar di antaranya pada zakat dan sedekah. Jadi, peradaban Islam yang dibangun oleh Rasulullah memiliki semangat kemanusiaan.
Kehadiran Nabi Muhammad membawa peradaban kehidupan manusia menjadi lebih baik. Sebagaimana tujuan diutusnya Nabi Muhammad adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Baca Juga: Misi Islam: Mengajarkan Perdamaian bukan Permusuhan